Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Rumah Baru


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Wah~" Ana lagi-lagi tertegun kagum dibuatnya.


Ini sungguh luar biasa?! Batin siren betina itu, membawa manik mata miliknya menjelajah liar tempat yang tidak lain hanyalah sebuah celah pada tebing, tapi di sekeliling celah tersebut dihiasi dengan berbagai macam terumbuk karang, anemon laut serta kerlap-kerlip pancaran cahaya aneh yang sangat cantik.


Ikut memperindah suasana.


Ada ruang yang lumayan besar di dalam celah tebing tersebut. Tanpa perlu Òsedian jelaskan Ana sepertinya sudah tahu, bahwa tempat ini nantinya yang akan menjadi rumah baru mereka.


Sarang dari Ana, Òsedian, dan juga anak-anak mereka kelak.


Senangnya~


Tidak menoleh kebelakang sedikit pun, Ana berenang cepat memasuki tempat itu. Meneliti setiap jengkal dengan raut wajah senang.


Òsedian yang diabaikan sedari tadi oleh siren betina tersebut akhirnya memutuskan untuk menyusuli sosok Ana; masuk kedalam celah lubang yang ada di tebing.


"Bagaimana? Kau suka Ana?" tanya Òsedian kemudian, yang langsung mendapat jawaban lantang dari mulut Ana.


"Tentu saja?!" sahutnya. Berbalik menghadap kearah sosok Òsedian, siren jantan yang tidak lain adalah pasangan sehidup semati miliknya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Òsedian tersenyum senang. Dia lalu mendekati Ana, mengikis jarak di antara mereka sebelum akhirnya memeluk sosok tersebut dari belakang.


Ana yang mendapat perlakuan manis semacam ini tidak bisa menolaknya. Siren bersisik peach tersebut dengan pasrah bersandar di atas dada bidang milik Òsedian. Sirip ekor dari kedua makhluk tersebut saling bertautan; seakan menggenggam satu sama lain dengan sangat erat.


Òsedian secara sadar menggiring Ana menuju kearea dekat celah, seperti jendela. Siren jantan itu kemudian berbisik, mengarahkan Ana agar dia mau melihat pemandangan luar biasa yang sedang menyambut mereka di luar sana.


"Coba lihat Ana~" dengan nada gemulai, siapa saja yang mendengar pasti akan meremang—termasuk Ana; yang saat ini ingin sekali melahap duluan sosok di belakang tubuhnya tersebut.


Tapi karena tidak mau dicap sebagai betina agresif, Ana mencoba menahan hasrat yang menggebu-gebu dalam hatinya dengan cara melihat sesuatu yang Òsedian tengah tunjuk.


Deg!


Jantung Ana berdegup sangat kencang, manik mata serupa dengan warna peach tersebut bergetar. Tangannya terangkat, menutup mulut; tidak percaya.


Òsedian selalu berhasil membuat Ana terdiam dengan rasa kagum. Di mana Òsedian menemukan tempat-tempat dengan pemandangan luar yang begitu indah? Semua peradaban, siren-siren, dan seisi Teluk terlihat jelas dari sini. Ana suka. Dia Suka!


Saking sukanya siren betina tersebut sampai tidak segan untuk menitikan air mata. Sial! Ana ingin sekali berterima kasih pada Òsedian, dia merasa bersyukur sudah dipertemukan dengan siren itu.


Di takdirkan menjadi pasangan miliknya.


Tapi karena Ana tidak memiliki apapun untuk diberikan pada Òsedian sebagai bentuk rasa terima kasihnya, siren betina ini secara impulsif melakukan sebuah tindakan yang siapapun tidak dapat menduganya—termasuk Òsedian.


Dengan kedua tangan yang dikalungkan kearah leher siren jantan itu, Ana meminta Òsedian untuk menunduk lalu sebuah kecupan hangat mendarat tepat diantara bibir Òsedian.


Bahkan sampai menimbulkan suara lucu. Òsedian, subjek yang mendapat perlakuan tersebut hanya bisa membatu. Saking terkejutnya.


Meski setelah itu rasa gatal menggelitiki bibir Òsedian; tatkala kecupan hangat yang Ana berikan selesai.


Tch!


Siren jantan ini ingin lagi?!


Ingin sesuatu yang lebih. |


...***...


"Argh~" punggung bersisik Ana melengkung kebelakang. Kala jemari lihai Òsedian meraba manja area sana; menimbulkan rintihan nikmat dari empunya tubuh yang sedang di belai.


Ana terbaring, lemas tak berdaya di bawah kurungan tangan milik Òsedian. Terlihat kabut nafsu pada kedua mata siren jantan tersebut, di jilatnya ujung bibir—bekas kecupan dari Ana yang masih meninggalkan rasa manis. Tak salah siren jantan itu menginginkan hal lebih; suasana rupanya entah bagaimana malah membawa mereka kedalam situasi semacam ini.


Bahkan tanpa mereka sadari.

__ADS_1


Òsedian menunduk, mempertipis jarak antara dia dengan Ana. Sampai ujung dari kedua hidung makhluk tersebut saling membentur, satu sama lain. Manik mata Ana bergetar; ikut hanyut pada keintiman yang mendebarkan. Ia lantas mengalungkan kedua tangan—meletakkan jari berkuku tajam miliknya tepat kebelakang punggung Òsedian.


Celah mulut Òsedian lalu terbuka, perlahan sebuah ciuman hangat mendarat telak di bibir Ana. Siren betina ini terpejam, menikmati segala perlakuan manis dari pasangannya.


Setelah itu, bisa di tebak apa yang terjadi. Berawal dari sekadar ciuman panjang yang begitu lembut, perlahan berubah menjadi sebuah ciuman yang sangatlah sensual dan juga dalam. Òsedian meloloskan lidah miliknya masuk kedalam mulut Ana lalu menjelajah dengan riangnya di sana.


Sudah lama ia tidak merasakan rongga mulut yang begitu hangat ini, ucap dewi batin Òsedian—mengingat kapan terakhir kali makhluk setengah ikan tersebut mencium dan menyusupkan lidahnya kedalam mulut Ana. Atau lebih tepatnya? Tivana?


Tapi mengingat sosok dari siren betina ini yang sekarang jelas berbeda dengan masa lalu, Òsedian rasa dia harus memperlakukan Ana dengan sangat lembut. Mengingat ini pertama kalinya juga bagi sosok Ana.


Òsedian melepaskan tautan bibirnya. Ana tampak kacau dengan napas yang tersengal, wajahnya berantakan. Jejak merah bekas ciuman dalam mereka terlihat di sudut bibir Ana. Sial! Òsedian mengutuk. Ana benar-benar sangat cantik dan juga seksi.


Ingin sekali rasanya cepat-cepat melahap siren betina itu, tapi tak bisa. Òsedian harus melakukannya dengan perlahan, atau semua sandiwara cinta ini akan terbongkar. Ilda pernah berkata, ' jangan lakukan semua tindakan yang kau lakukan di masa lalu kepada Ana, atau dia akan mendapatkan guncangan emosional dan malah mengingat tentang siapa sosok dirimu yang sebenarnya Òsedian!'—menuruti hal tersebut Òsedian mencoba menjadi lemah lembut khususnya pada Ana.


"Hosh..." napas terengah dari siren betina itu menyadarkan kembali Òsedian. Manik mata milik Ana sama sendu-nya dengan manik matanya. Sialan! Mereka berdua sama-sama termakan oleh nafsu berahi mereka masing-masing.


Sebelah tangan Òsedian terangkat, membelai garis rahang Ana dengan lambat—menciptakan suasana yang semakin berat untuk dilawan oleh akal sehat.


Tidak ada celah untuk berhenti dan kembali di sini. Mau tidak mau mereka harus meneruskan sampai selesai, hingga menggapai titik puncak kenikmatan yang sebenarnya.


"Bolehkah aku Ana?" bisik Òsedian bernada pelan dengan maksud meminta izin kepada Ana, pasangan miliknya.


Ana yang mendengar terlalu lemas untuk menjawab, dia hanya memberikan anggukan kecil sebagai isyarat untuk Òsedian agar dia memulai apa yang sudah mereka mulai.


Sudut bibir Òsedian terangkat, senang. Kalau begitu siren jantan ini tidak akan merasa sungkan—menggempur habis-habis sosok Ana dengan senjata rahasianya.


Jika ada Ilda di sini, mermaid tersebut pasti berbisik; selamat menikmati waktu kalian~ | Dengan raut muka yang menyebalkan.


Ha-ha.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2