
..._______________________...
...S i r e n...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Memicing tajam, Tivana memundurkan langkah secara perlahan—menjauh dari kerumunan.
Siapa di situ? Batin dia penasaran; pada sosok yang amatlah familiar. Bukan sekali dua kali rasanya wanita tersebut pernah menjumpai manik mata pucat itu. Manik mata yang hanya akan muncul ketika para siren mendekati daratan.
Saat benar-benar sudah lepas dari himpitan orang-orang, Tivana mulai melenggangkan kaki pergi dari sana—berjalan tanpa suara menuju kearah bibir pantai tak jauh dari manik mata pucat yang agaknya sedang mengintai di kejauhan.
Glek!
Menelan saliva kasar. Tivana menilik sekitar; meyakinkan diri bahwa tidak ada yang sedang memperhatikan pergerakan dirinya. Mungkin ini adalah keputusan yang sangat-sangat impulsif, di mana Tivana tidak memikirkan dampak dari keputusan yang sudah ia buat.
Dan?
Persetan soal janji.
Wanita itu rasa dia perlu masuk kedalam air untuk mencari tahu, toh! Saat ini, detik ini, apa yang ia takutkan ketika mendekati pantai (Òsedian) tidak ada lagi—karena sosok sang pengejar (Òsedian) sudah tidak bernyawa; tergantung di atas tiang dan di saksikan sebagai tontonan para manusia.
Ha-ha. |
Baiklah abaikan itu dulu.
Melihat makhluk yang sepertinya tidak menyadari kehadiran Tivana, membuat wanita ini yakin kalau siren tersebut sangatlah—
Ceroboh?
Atau bodoh? Tivana kurang tahu, tapi satu hal yang pasti sang pemilik manik mata pucat itu sama sekali tidak merespon kehadiran Tivana—wanita yang entah dari kapan sudah berdiri cukup dekat dengan bibir pantai.
Pencahayaan minim sekali di sini, sampai-sampai membuat Tivana nyaris tidak terlihat lagi oleh mata manusia. Menyatu dengan kegelapan.
Haruskah Tivana memanggil? Pikir wanita itu berdiri tepat di garis pantai.
Dia (siren) terlalu fokus mengintai para manusia yang sedang mengamati sirip ekor milik Òsedian dengan wajah ceria. Membuat keputusan kilat, Tivana lantas membuka pelan bibirnya sembari berkata.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
__ADS_1
Pertanyaan konyol, jika di ajukan kepada seekor siren yang memang hidup serta tinggal di dalam lautan—tapi Tivana rasa dia tidak memiliki pertanyaan khusus yang benar-benar ingin ia katakan kepada siren tersebut.
Degh!
Tersentak, Tivana bisa melihat siren yang berada beberapa meter dari tempatnya berpijak itu menampilkan wajah kaget. Dia lantas mengalihkan pandangan kearah wanita yang baru saja melemparkan sebuah pertanyaan.
Pucat sepucat-pucatnya, manik mata antara Tivana dan sang siren saling bersinggungan—beberapa detik saja sebelum akhirnya siren yang berada di dalam air garam itu memutar tubuhnya, berenang kedalam; menuju lautan.
Hal ini menghasilkan sebuah kerutan hebat di atas kening Tivana. Tidak terima, tanpa pikir panjang Tivana lantas mengikuti sosok dari siren tersebut. Air laut perlahan membasahi tubuh Tivana, saat benar-benar terendam hingga kearea pinggang barulah sisik dan insang miliknya muncul.
Melepaskan seluruh pakaian.
Tivana kembali merasakan bagaimana tubuhnya berubah menjadi seekor siren cantik dalam kurun waktu singkat, tidak lebih dari 5 detik saja. Tak ingin membuang waktu, Tivana lantas ikut menyelam.
Dia mengedarkan pandangan mata secara membabi buta; mencari-cari keberadaan dari sosok siren tadi.
Dapat!
Sorak dewi batin milik Tivana. Bergegas berenang menuju kearah sirip ekor milik siren itu, ukurannya tidak lebih besar dari pada wujud Tivana. Bisa di bilang kecil. Memiliki surai rambut panjang dan sepasang? Dada?
Dia betina!
Mempercepat kibasan ekor, Tivana mengangkat tangan—berusaha menggapai ekor di depannya. Mungkin karena menyadari pergerakan Tivana, siren itu menoleh sebentar lalu berenang dengan rendah; hal ini membuat tangan milik Tivana tidak dapat menggapainya.
Sial! Rutuk wanita itu. Entah kenapa dia merasa sangat kesal, seolah baru saja kehilangan buruan.
Mendecih, Tivana mengikuti apa yang siren tersebut lakukan hingga mereka berenang menuju ke perairan laut dalam.
Apa karena bentuk yang lebih kecil dari pada Tivana? Makanya siren itu dapat berenang lebih cepat dan lebih gesit dari pada dia, atau mungkin juga karena Tivana sudah terlalu lama menikmati hidup seperti seorang manusia hingga membuatnya tidak bisa berenang dengan cepat. Entahlah, persetan soal itu.
Sembari berpikir, sekelebat bayangan lewat. Tivana sebenarnya ingin mengabaikan bayangan itu, setidaknya sebelum sesuatu tiba-tiba menabrak tubuhnya dengan sengaja.
BRUGH!
Tivana tersentak, dia terdorong kearea batu karang yang berada di dasar lautan. Rasa panas menggores punggung bersisik milik wanita tersebut.
Mendesis, Tivana menoleh cepat kearah sang pelaku yang baru saja menabraknya. Wujud siren jantan yang tampak sangat kecil, mungkin masih anak-anak—menyambut penglihatan. Di barengi siren betina tadi yang entah bagaimana kembali berenang mendekat kearah Tivana berada meski wanita ini yakin bukan dia 'lah tujuan dari makhluk itu.
Siren betina yang sisiknya tampak berwarna ungu langsung memeluk tubuh kecil dari siren jantan yang berada tak jauh dari sosok Tivana.
Dia tampak berteriak.
"Bukannya kakak bilang untuk menunggu di sela batu karang?!" Memarahi siren jantan yang Tivana duga adalah siren anakan. Jika di umpamakan sebagai manusia mungkin umur dari makhluk itu sekitar 6-7 tahun.
"Tapi aku lihat makhluk ini mengejar kakak?!" sahutnya, tak kalah nyaring dengan manik mata yang terlihat seperti tengah menahan tangis. Ah! Di tambah raut wajah setengah takut, agak lucu.
__ADS_1
"Ish..." meringis, Tivana menegakkan tubuh. Dia berenang kearah dua siren itu sambil membersihkan punggung dari batu karang serta coral yang pecah lalu menempel tepat di area sana.
Hah!
Untung berlapis sisik, jika tidak pasti kulit punggung Tivana sudah koyak; mengucurkan darah di mana-mana.
Mendengar rintihan, dua siren yang kehilangan kewaspadaan mereka langsung menoleh—tepat kearah Tivana dengan wajah takut-takut. Berpelukan seperti bayi, lucu; ungkap Tivana sekali lagi.
Ya meski hal tersebut tidak berlangsung lama. Tivana menyadari, hal bodoh apa yang harus ia lakukan setelah berhasil mencegat siren muda di depannya. Bertanya? Menyapa?
Sial!
Untuk apa aku mengejar tadi?! Jerit Tivana dalam hati. Dia benar-benar bertindak tanpa berpikir.
Masa bodoh! Lebih baik bicara dari pada tidak sama sekali.
Ayo! Pikirkan sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan? Mendekat kearea bibir pantai lalu mengintai para manusia?" Tanya Tivana. Fyuuh! Dia akhirnya mengajukan pertanyaan yang menurut dia sesuai setelah lumayan lama berpikir mengerahkan seluruh bagian otak untuk di gunakan.
Siren di depan mata Tivana terdiam sejenak.
Menunggu dalam hening, wanita tersebut akhirnya dapat melihat kalau salah satu dari mereka—atau lebih tepatnya siren jantan berusia belia perlahan angkat suara.
"Pap-a—!" Meski langsung di cegat oleh siren satunya. Makhluk betina itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan kemudian mengajukan sebuah pertanyaan.
"Kau! Kau tadi manusia! Bagaimana bisa dalam sekejap kau berubah?! Siren tidak mungkin dapat menyerupai manusia dan kau—sepertinya bukan dari bangsa Mermaid?!" lugas dia dengan nada tajam.
Tivana terdiam. Lumayan pintar, pikir wanita itu terhadap siren betina yang Tivana yakini lebih muda dari pada dia.
...***...
...T b c...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
...Bye...
__ADS_1
...:3...