Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Siapa Aku


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


...________________________...


...____________...


...____...


..._...


Surai rambut milik Tivana melambai, mengikuti gerak arus air di dasar laut dangkal. Persis seperti layaknya rumput laut yang sedang bergoyang, beberapa kepiting menilik dari bawah pasir. Penasaran dengan sosok cantik berwarna peach di depan mereka. Siapa Siren itu? Andai mereka bisa bicara, mereka pasti akan menyerukan hal yang sama. Tertegun takjub dalam diam, sama halnya sosok bersisik emerald yang berada tak jauh dari tempat Tivana berbaring—di atas pasir laut.


Òsedian, tangan dari lelaki tersebut; anggap saja begitu terangkat tanpa ia sadari. Bergerak menuju kearah pucuk kepala dari wanita yang selalu dia panggil dengan sebutan Ana.


Perlahan namun pasti, Òsedian meletakkan telapak tangannya di sana kemudian tanpa ragu mengelus pelan surai-surai rambut milik Tivana.


Dari kejauhan sosok Ilda berenang, mendekati kedua makhluk yang sekilas terlihat mesra. Sambil membawa satu bangkai dari sebuah ikan besar yang bentuknya sudah tidak jelas; kacau, Ilda kemudian berkata—beberapa detik sebelum dia benar-benar sampai ke-posisi kedua makhluk tersebut.


"Kau perlu makan Òsedian?!" ucapnya, melempar bangkai ikan tersebut menuju kearah sosok di depan mata. Òsedian menoleh, dengan sigap menangkap ikan mati itu sebelum dia mengambang keatas.


Tanpa menyahuti apapun makhluk setengah ikan berwarna emerald itu langsung melahapnya. Ilda lantas semakin mendekat; mermaid biru ini kemudian memilih duduk di atas pasir sama halnya seperti Òsedian.


"Sudah 3 hari Tivana tak sadarkan diri..." gumamnya. Gerakan Òsedian tertahan, dia tahu apa maksud dari ucapan Ilda. Jelas mermaid tersebut mulai merasa khawatir, sama seperti dirinya. Manik emerald itu kemudian terangkat, naik—menuju kearah sosok Tivana.


Perlahan, kedua bibir Òsedian terbuka. Dia lalu berkata.


"Aku harap Ana baik-baik saja."


...***...


Ilda tercengang, pemandangan di depan sana benar-benar sangat indah. Sisik kemilau berwarna peach dengan surai rambut cantik yang tak bosan-bosan melambai kesana kemari. Andai Òsedian ada di sini, mungkin dia akan sependapat dengan apa yang Ilda pikirkan meski sayang makhluk dari bangsa siren itu baru beberapa menit lalu pergi.


Ada sinyal panggilan dari Teluk, mau tak mau Òsedian harus angkat kaki dari sini dan menitipkan Tivana bersama Ilda. Ya siapa sangka Ilda malah mendapatkan kesempatan menyaksikan sebuah keajaiban, di mana Tivana membuka kedua matanya.


Duduk tertegun di atas pasir laut dengan pandangan mata begitu ramah saat melihat terumbu karang serta biota laut lainnya yang hidup di situ.

__ADS_1


Ilda yakin jika ada Òsedian di sini dia pasti akan merasa cemburu pada terumbu karang itu. Sial! Membayangkannya membuat Ilda tertawa. Memang kadang Òsedian itu bersikap konyol, terlepas dari seberapa mengerikan wujud siren yang ia miliki sebenarnya sosok itu agak sedikit bungu. Dia tipe yang malas berpikir dan lebih suka bertindak.


Tawa lucu Ilda ternyata terdengar cukup keras, hal ini membuat sosok bersisik peach; siapa lagi kalau bukan Tivana—menoleh. Tatapan penasaran mendominasi wanita itu.


Dia lihat, sosok dengan tubuh hampir mirip dengannya namun memiliki sisik samar berwarna kebiruan tampak berada tak jauh di belakang sana. Menyadari bahwa Ilda sudah ketahuan menertawakan sosok itu membuat dia terpaksa menghentikan tawa.


Biasanya ketika Ilda menertawakan Tivana, wanita tersebut akan melayangkan tatapan mematikan seolah tengah mengutuk tingkah menyebalkan yang dilakukan oleh mermaid itu. Tapi! Tampaknya kali ini berbeda, bukan pandangan tajam dengan aura permusuhan melainkan tatapan bingung dengan wajah penasaran yang Ilda dapatkan.


Ini aneh, batin lelaki itu. Mendekat kearah Tivana. Dia rasa dia perlu memeriksa kondisi wanita yang baru saja siuman tersebut dulu sebelum mengambil kesimpulan; prosedur normal yang harus dilakukan. Ya meski tinggal beberapa jengkal lagi gerakan Ilda malah tertahan, saat Tivana mengajukan sebuah pertanyaan.


"Siapa kau?" pada sosok mermaid tersebut.


.


.


.


.


.


Sudut bibir Òsedian berkedut, dia merasa jengkel. Mau berapa kali lagi si gila ini memberikan sinyal?! Batinnya. Merutuki gangguan gelombang panggilan yang Ilda lakukan kepada otaknya.


Sial! Ini membuat pikiran lelaki itu terganggu. Òsedian lalu mendengus.


"Mungkin dalam beberapa hari," jawab Òsedian singkat, padat, dan jelas. Siren tua di depan Òsedian menghela napas panjang, masalah sudah teratasi dengan baik berkat bantuan Òsedian.


Siren tua ini tahu, Òsedian mulai merasa gelisah dan ingin cepat-cepat pergi dari sini.


"Hah~" dia kemudian membuang napas lagi.


"Kau boleh pergi..." ucapnya yang dibalas dengan sebuah tindakan tidak sopan, di mana Òsedian langsung pergi dari situ berenang menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada siren tua tersebut.


Dengan sekuat tenaga Òsedian menjauh dari perairan Teluk, menuju kearah tempat tersembunyi yang ada di lautan lepas. Tempat di mana dia meninggalkan sosok Ilda bersama Tivana.


Gangguan sinyal masih terasa, Ilda tak henti-hentinya memberikan panggilan darurat melalui gelombang pikiran. Hal ini jelas membuat Òsedian bertanya-tanya, gerangan apa yang terjadi? Hingga berhasil membuat Ilda menjadi panik.


Apa mungkin berkaitan dengan sadarnya Tivana? Jika memang begitu, Ilda pasti hanya akan memberikan sinyal panggilan biasa, bukan darurat.


Huh! Semakin dipikirkan semakin bingung, lebih baik mencari tahu jawabannya saat sudah sampai di sana.


Òsedian mempercepat gerak berenang dari ekornya, jika dilihat dari Teluk—sosok itu mengecil sebelum akhirnya menghilang.


...***...


"Ilda?!" panggil Òsedian begitu sampai, dia melihat dari kejauhan dua sosok yang tengah duduk di atas pasir laut dengan tatapan canggung.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, membuat Ilda tersenyum senang. Reaksi menjijikan apa itu? Batin Òsedian merasa geli terhadap sikap aneh yang Ilda tunjukan, tapi! Lebih baik abaikan saja itu dulu.


Karena sesuatu yang sangat penting dan berarti milik Òsedian sudah sadar dari tidur panjangnya. Baru saja ingin memanggil nama Tivana, Ilda malah menutup mulut Òsedian dengan telapak tangannya.


Òsedian tersentak, keningnya berkerut. Pelototan mata sosok tersebut seperti berkata—apa yang kau lakukan sialan?!


"Psstttt!" Ilda membalas, tak kalah nyalang.


Melihat sosok yang sangat mirip lagi dengan dirinya membuat Tivana melayangkan tatapan penasaran, kepalanya bergerak miring kearah samping layaknya gadis lugu.


"Siapa kau?" tanya dia, memperjelas semuanya.


Kedua bola mata Òsedian membulat kaget dengan sempurna, dia melirik gugup kearah sosok Ilda. Mendapati lirikan tersebut membuat Ilda mengangguk, sekarang kau paham 'kan?!Melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Òsedian.


"Ini mengapa kau memberikan panggilan darurat?" bisik siren emerald tersebut dengan nada tanya. Ilda lagi-lagi mengganggu.


"Aku punya beberapa kemungkinan, tapi yang paling masuk akal Tivana saat ini kehilangan ingatannya..." sahut Ilda setengah berbisik, agak pelan agar Tivana tidak dapat mendengarnya.


Hal tersebut membuat Òsedian tak percaya, hilang ingatan? Ilda yang melihat reaksi semacam itu kemudian menarik Òsedian agar ikut duduk tepat di atas pasir laut. Dekat Tivana. Setelahnya Ilda tampak tersenyum canggung sambil berkata.


"Ini Òsedian..." ucapnya memperkenalkan sosok Òsedian di hadapan Tivana dengan gestur seperti menghadapi anak-anak.


Tivana terdiam untuk beberapa saat, lalu tangan kanan dari wanita tersebut terangkat. Bibirnya perlahan terbuka—


"I l d a ?" panggil Tivana sembari menunjuk sang pemilik nama. Ilda mengangguk. Tunjukan tangannya lalu berpindah kearah sosok Òsedian.


"Ò s e d i a n ?" Mau tak mau siren bersisik emerald itu ikut mengangguk layaknya apa yang dilakukan oleh Ilda tadi.


Kemudian jari telunjuk Tivana berpindah lagi, tapi kali ini dia malah menunjuk dirinya sendiri.


Ekspresi bingung terlihat sangat jelas di wajah wanita itu.


"Lalu... siapa Aku?"


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2