Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Alpha dan Pendapat


__ADS_3

...Perhatian!...


^^^Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata.^^^


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Shhhh..." Òsedian meringis, sakit. Dia lantas melirik kearah bawah—tempat tangannya berada, sosok Ana terlihat tengah menancapkan kuku miliknya di area sana. Seperti meminta pulang dengan manik berkaca, padahal mereka baru saja sampai di dalam gua tempat sang Alpha tinggal.


Òsedian tahu, Ana pasti saat ini sedang merasakan tekanan aneh yang membuat dia takut. Hal itu mengingatkan siren jantan tersebut pada masa lalunya, ketika dia masih sangat kecil tapi dengan nekatnya mau berhadapan dengan sosok Alpha; sang pemimpin dari bangsa siren yang ada di wilayah Teluk ini. Jadi apa yang Ana rasakan tersebut sangatlah wajar, karena mereka sebentar lagi akan berhadapan dengan sosok pemimpin.


Gua bawah laut tanpa sihir cahaya, Ana benar-benar mencengkeram mati tangan Òsedian dengan kuku-kukunya. Di sini begitu gelap, percayalah?! Bahkan untuk penglihatan terlatih dari seekor siren, seakan ada selubung penutup yang menghalangi mata—salah ambil arah sedikit saja maka kau akan tersesat. Tak heran itu kenapa Ana menempel sangat erat pada tubuh Òsedian, layaknya simbiosis antara ikan remora dengan ikan hiu yang hidup di lautan lepas.


Ana pikir, mereka hanya perlu masuk kedalam mulut gua lalu nanti akan disambut oleh sosok Alpha tanpa melakukan sebuah perjalanan rumit di dalam gua itu. Nyatanya tidak, gua bawah laut ini ternyata penuh dengan lika-liku; bak sebuah bilik yang ada pada labirin—membuat Ana, sang siren betina bersisik peach tersebut mulai merasa pusing.

__ADS_1


Rasa ingin menyerah saja, itu terpampang jelas di raut muka milik Ana tapi sesuatu tiba-tiba terdengar. Sangat nyaring berhasil mengagetkan siren betina tersebut, di tambah lagi suaranya menggema—seperti menyambut kedatangan mereka, walaupun bukan dengan kalimat sambutan yang sesungguhnya.


"Jadi si cantik ini yang akan jadi pasangan mu Òßè?" ucapnya, seekor siren tua bersisik emas yang entah muncul dari mana. Tahu-tahu sudah berada tepat di hadapan wajah Ana, menelaah dari ujung rambut hingga ujung ekor.


Di amati terlalu intens, Ana mulai merasa terintimidasi dengan kehadiran sosok tersebut. Berbeda dengan Ana—siren tua yang tidak lain adalah seekor Alpha itu malah tersenyum dengan lebarnya. Persik, warna yang jarang sekali ada, batin siren tua itu.


Meskipun terlihat sangat tua, siren emas yang ada di hadapan Ana ini sangatlah karismatik. Aura pemimpin memancar terang dari arah wajahnya dan itu hampir membuat Ana tertegun kagum; ya meski—andai saja siren tua itu tidak terlalu menatap lekat dirinya, Ana pasti akan melayangkan berbagai macam kalimat pujian.


Saking tertekannya Ana pada tatapan intimidasi tersebut, siren cantik bersisik peach ini mulai menyembunyikan diri tepat di belakang punggung Òsedian.


Melihat respon lucu dari siren cantik itu, sang Alpha tertawa. Dia manis, cocok untuk Òsedian yang brutal dan kadang bersikap kurang ajar. Pikirnya.


Bahkan tanpa perlu pertimbangan panjang, Bàba—nama dari sang Alpha tersebut; pasti akan mengeluarkan kalimat persetujuan miliknya tanpa beban. Tapi! Bàba rasa itu akan terlalu mudah untuk Òsedian nanti, enak saja dia! Bàba ingat kalau Òsedian semasa kecil sering berbuat onar di dalam Teluk. Bagaimana jikalau siren tua ini sedikit menggodanya? Sebagai bentuk dari pembalasan dendam Bàba pada siren nakal tersebut.


Siapa tahu juga nanti Bàba akan mendapati ekspresi baru dari wajah yang selalu terlihat garang itu. Menangis barang kali? Menarik bukan~ patut untuk dicoba. Senyum seringai muncul, Bàba lalu kemudian berkata—


"Kalian bukan pasangan yang cocok! Aku tak setuju." ucapnya, tegas. Tidak terdengar sama sekalipun nada bercanda di sana. Hal ini membuat para pendengar tersentak, apa lagi Ana; wajah kagetnya tak bisa ditutupi oleh apapun. Terlihat sangat jelas—seakan tengah berbicara 'apa yang baru saja ia dengar? Tidak salah bukan?' pada Bàba.


Tidak bisa diterima.


Beberapa detik setelah itu Òsedian lalu mulai mendesis. Jelas bukan jawaban seperti ini yang dia mau dan harapkan. Perlu perjuangan panjang bagi siren jantan tersebut agar bisa mendapatkan sosok Ana, hanya karena sang Alpha tidak menyetujui bukan berarti Òsedian akan menurutinya secara gamblang.


Òsedian mencintai Ana, begitu juga sebaliknya—Ana sekarang sudah mencintai siren itu. Meski dalam sebuah kemunafikan tidak jelas yang sengaja ia ciptakan. Tak apa.


Selama mereka saling mencintai, semua akan menjadi baik-baik saja. Tapi—?!


Mengapa Bàba malah menghalangi Òsedian? Agar dia tidak bisa berpasangan dengan Ana. Kenapa?! Bukannya mereka sudah sepakat sebelumnya? Siapapun yang Òsedian bawa; yang akan menjadi pasangan dari siren itu—Bàba harus menerima dan setuju, dan Òsedian akan membayar hal tersebut dengan cara memenuhi syarat lain yang Alpha itu ajukan, yaitu Òsedian harus naik menjadi Alpha selanjutnya setelah Bàba. Ini jelas berbeda dari apa yang Bàba janjikan.


Sungguh—! Tidak bisa diterima.

__ADS_1


Kurang ajar. Ekspresi wajah Òsedian perlahan berubah, muncul mimik muka menyeramkan dari sana. Persetan! Jika itu adalah bentuk ketidaksopanan pada Bàba yang merupakan pemimpin kawanan, Alpha. Òsedian saat ini benar-benar ingin sekali mencabik-cabik tubuh Bàba—yang menentang hubungannya dengan Ana.


Melihat itu Bàba bersiul. Beraninya siren muda kurang ajar ini memperlihatkan taringnya pada ku, batin sosok tersebut.


Balas menunjukan aura yang tak kalah mengerikan. Jika sekilas dilihat, Bàba dan Òsedian tampak seperti dua ikan yang saling membenturkan bagian kepala mereka—bedanya Òsedian tampil sebagai ikan badut sedangkan Bàba tampil menjadi mamalia terbesar yang hidup di laut yaitu ikan paus. Benar-benar tidak seimbang bukan?


Bergelut dalam diam dan hanya saling menatap dengan aura membunuh yang kental luar biasa, mereka tidak menyadari kalau tindakan mereka telah membuat Ana sesak napas.


Dia tidak suka!


Rasanya Ana menjadi sangat lemah diantara dominan-si kedua makhluk tersebut. Jika dia tidak berpegang erat pada lengan Òsedian mungkin siren betina ini akan jatuh kedasar gua karena lemas.


Membencinya.


Ana harap atmosfer aneh ini segera menghilang tapi apalah daya, bukannya hilang malah semakin parah. Siren betina ini mulai merasakan kengerian tanpa ujung.


Ayolah! Hentikan! Pekik dewi batinnya yang jelas tidak digubris oleh siapapun di sana. Tanpa sadar genangan air mata muncul dari arah pelupuk mata.


"Cu... kup... Berhenti," rengeknya siap memuntahkan air mata yang nanti akan menyatu dengan lautan jika kedua makhluk tersebut tidak menuruti apa kehendaknya.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


__ADS_2