
..._______________________...
...B e r b i n c a n g...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Hm? Entahlah, aku tidak terlalu yakin..." ucap Johan gantung menyahuti Tivana. Hal ini membuat wanita itu melemaskan otot di kedua pundaknya, sial! Bukan jawaban semacam itu yang diharapkan oleh Tivana.
Memijit kening, wanita ini rasa dia menyesali keputusan yang sudah ia buat—yaitu menghubungi sosok Johan hanya karena ingin bertanya soal kebenaran yang mungkin saja tidak ia ketahui mengenai lautan.
Tivana lupa, gurita tersebut sudah lama jauh dari lautan. |
"Hosh..."
Mendengar itu, Johan menatap fokus wanita yang berada di seberang portal sihir sana. Tidak ingin di-stempel sebagai teman tak berguna, Johan berusaha mengingat beberapa hal yang mungkin saja terjadi; berkaitan dengan lautan.
"Ah! Aku ingat sesuatu." kicau dia tiba-tiba, mengejutkan Tivana. Wanita tersebut sampai dibuat tersentak hingga melayangkan tatapan tajam.
Tivana berwajah jengkel.
Terlihat rona muka Johan berbanding terbalik dengan milik Tivana. Dia merasa seperti mendapatkan harta karun di dalam tumpukan pasir.
Menunggu bicara, wanita bernotabe sebagai teman dari Johan tersebut memilih diam. Layaknya patung. Di lihatnya Johan menumpu dagu dengan jemari—berlagak sok pintar macam karakter utama pada serial komik detektif. Dia lalu membuka kedua bibir membentuk celah, untaian kata terdengar dari sana.
"Kalau tidak salah 3 tahun lalu aku sempat mendengar sebuah nyanyian di lautan dan kau tahu apa artinya itu?" ucap Johan yang malah melempar sebuah pertanyaan kepada Tivana.
Jelas wanita ini tidak tahu; apa maksud dari perkataan lelaki yang duduk tepat di seberang portal sihir situ.
Menggeleng lugu, Tivana tidak ingin berpikir sama sekali. Mendapati respon tak bersahabat tersebut—membuat Johan melanjutkan perkataan dia kembali dengan sendirinya.
"Satu-satunya makhluk paling berisik nyanyian-nya di lautan adalah Siren. Mereka itu penggoda andal dan makhluk terfrontal yang senang menenggelamkan para nelayan di zaman dulu. Terakhir kali, apa yang terjadi pada Teluk—tempat tinggal dari para makhluk itu sudah dibinasakan oleh musuh alami mereka termasuk mereka sendiri; iyakan?" tutur Johan mulai serius. Menangkap apa yang sedang lelaki ini bicarakan, Tivana mengangguk. Dia dapat menarik sebuah kesimpulan dari perkataan Johan.
Pertama, kehancuran Teluk—membuat siapa saja berpikir kalau bangsa siren telah musnah dan itu tidak dapat Tivana pungkiri sama sekali. Dia juga ingat bagaimana tempat tinggal atau biasa disebut Teluk para siren sirna. Binasa dengan seisinya. Mustahil sekali bisa memiliki secercah harapan untuk bangkit. Paling-paling siren yang tersisa hanyalah jantan di lautan. Pahamkan? Kedua, garis bawahi kalimat 'tiga tahun lalu kembali mendengar sebuah nyanyian' apa yang dibahas pada point satu terbantahkan. Nyatanya sebuah nyanyian milik siren malah justru kembali terdengar dan hal ini menandakan spekulasi kalau bangsa siren itu punah adalah TIDAK BENAR. Hal tersebut menjawab kehadiran dari kedua siren muda yang sempat Tivana jumpai kemarin malam. Bangsa siren berhasil bertahan dan kembali menata kembali kehidupan. Selesai.
Meski tidak terlalu menjawab dahaga—rasa penasaran Tivana; setidaknya ini jauh lebih baik dari pada tidak mengetahui apa-apa.
__ADS_1
Ya walau pertanyaan utama soal benar tidaknya kedua siren muda itu adalah anak-anak Tivana dan Òsedian sama sekali tidak terjawab, serta bagaimana bisa Òsedian malah ditemukan dengan kondisi mengenaskan—sudah menjadi sebuah bangkai.
Sama sekali tidak ada jawaban.
"Tch!" tiba-tiba Tivana berdecih, jelas merasa tidak puas. Dia malah mengerutkan kening dengan sangat kuat. Tertarik? Johan kini melemparkan sebuah pertanyaan.
"Memangnya apa yang sudah terjadi Tivana? Kenapa kau ingin tahu sesuatu soal lautan di saat kau sudah bertekad tidak ingin tahu menahu lagi soal lautan." tanya Johan, kini melempar umpan agar ia tahu situasi. Lagi pula, dari awal wanita di seberang portal sihir sana tidak menjelaskan sama sekali apapun pada dia.
Tivana hanya mengajukan sebuah pertanyaan, itu saja. Sesederhana itu.
Tivana melirik, agak sedikit enggan tapi akhirnya dia memilih untuk angkat suara.
"Aku merasa, seperti bertemu dengan anak-anakku." ucap dia—mengejutkan.
...***...
"Apa maksudmu?!" sambar Johan cepat, sambil menampilkan ekspresi wajah penasaran. Dia tertarik, amat sangat tertarik dengan rentetan kata yang baru saja Tivana ucapkan. Masa bodoh pembahasan tiba-tiba melompat kesana, jauh dari topik utama.
"Aku juga tidak terlalu yakin, tapi—kemarin aku bertemu dengan suamiku." Tersambar petir dua kali. Apa lagi ini?! Ucap dewi batin milik Johan. Berarti Tivana kembali bertemu dengan Òsedian, benar begitukan?
Perlukah Johan berteleportasi kesana sekarang juga? Hanya untuk berjaga-jaga. Itu yang lelaki ini pikirkan saat dia mendengar ucapan Tivana, namun tertahan ketika lelaki tersebut mendengar lagi ucapan setelahnya.
"Dia sudah menjadi bangkai lalu terjerat jaring para Nelayan."
"Dan aku malah bertemu dua Siren muda yang memanggil dia Papa kemudian meminta padaku untuk dikembalikan Papanya, maksudku—mereka ingin bangkai ayah mereka di bawa lagi kelautan."
Ah~
Johan paham. Ini adalah alasan utama Tivana yang sudah ia anggap sebagai adik tersebut menghubungi setelah sekian lama.
"Apa mereka benar-benar anak-anakku?" gumam Tivana kemudian yang berhasil tertangkap oleh gendang telinga Johan.
Bisikan serupa cicitan. |
Berpikir sebentar, Johan lalu memutuskan bicara. Dia berkata—
"Bisa jadi, bisa saja itu anakmu." sahutnya mengejutkan Tivana.
Kedua bola mata milik wanita tersebut membola dengan sangat sempurna. Dia jelas tersentak tak percaya. Pernyataan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Johan?
"Jadi anakku tidak mati?!" pekiknya, berdiri sambil menggebrak meja.
__ADS_1
BRAK!
Terdengar cukup kuat.
Ada rona bahagia muncul di kedua pipi Tivana. Tidak percaya yang benar-benar membahagiakan menurutnya. Raut senang dan juga haru. Seingat dia, semua telur miliknya hancur—gara-gara para mermaid yang melakukan pembantaian di Teluk.
Ibarat kata seperti menemukan oasis di padang gurun.
Campur aduk. |
Johan setengah mengangguk, tidak membenarkan dan tidak juga menyangkalnya.
"Kemungkinan saat sebelum aku membawamu (ketika di Teluk) tubuhmu mengalami mati suri, hal ini membuatku harus memberikan sihir kehidupan agar bisa menyelamatkanmu Tivana—dan mungkin karena hal itu, semua yang seharusnya ada pada dirimu (keterikatan dengan siren) menghilang. Termasuk sihir tipis bernama segel pasangan yang ada pada bangsa Siren. Karena anomali tersebut, kau tidak dapat mengidentifikasi anak-anak dan pasanganmu lagi Tivana (hidup matinya mereka)." terang Johan panjang lebar yang membuat Tivana berpikir kalau kemungkinan ada 1 atau 2 telur miliknya selamat.
Tes...
Menitikan air mata. Dia senang. Tivana senang. Dia seperti merasa kebahagian kecil sewaktu dia masih mengampu nama Ana kembali muncul, hanya karena kemungkinan yang Johan ucapkan.
Celah bibir Tivana bergetar, dia ingin bicara. Menumpahkan segala macam rasa yang menerjang hatinya.
"A-nak... anak-ku."
"ADA MAKHLUK ANEH LAINNYA DI TEPI PANTAI!"
Deg!
Sampai teriakan tersebut terdengar. Mengundang Tivana untuk menampilkan raut wajah pucat.
...***...
...T b c...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
__ADS_1
...Bye...
...:3...