
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...________________________...
...Roar of the Ocean...
...________________________...
...___________...
...____...
..._...
"Lalu... siapa Aku?" pertanyaan yang Tivana ucapkan tersebut membuat lidah Òsedian maupun Ilda terasa kelu saat mendengarnya.
Dugaan dari kedua makhluk di depan Tivana itu ternyata benar. Saling bertukar pandang, Ilda memberi isyarat kepada sosok Òsedian; temannya.
Sorot mata dari lelaki tersebut berkata—
Sepertinya kita perlu bicara. |
.
.
.
.
.
"Dia benar-benar tampak seperti seekor Siren murni..." Òsedian bergumam, Ilda sependapat tatkala manik mata miliknya tertuju pada sosok berlapis sisik berwarna seperti buah persik yang berada di depan mereka. Tivana tampak asik sendiri dengan memainkan beberapa kerang kecil. Ikan-ikan badut yang tinggal tak jauh dari terumbu karang menilik dari balik anemon laut, mereka terlihat seperti penasaran dan ingin ikut bermain meski wajah mereka sedikit ragu-ragu.
Siapa yang tidak takut coba, ada dua makhluk setengah ikan yang memiliki gigi karnivora tepat di belakang Tivana; lebih lagi antara mermaid dan siren—mereka punya kebiasaan memakan para ikan secara ganas jika mereka dalam keadaan lapar.
Sudah jadi hukum alam, makan atau dimakan. Pilih saja. |
Ya meski sebenarnya yang benar-benar karnivora di sini adalah siren, bangsa mermaid biasanya memiliki kecenderungan sebagai vegetarian—mereka pasti lebih memilih memakan tumbuhan laut seperti alga atau ganggang.
Tapi pengecualian untuk Ilda, karena sudah terlalu lama bergaul dengan bangsa siren dia lebih suka makan daging dari pada rumput.
Ets—!
Lebih baik kembali ketopik utama saja, untuk apa membahas jenis makanan yang kedua makhluk tersebut sukai? Tidak berguna.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Ilda?" tanya Òsedian, setelah cukup lama mereka diam dalam kecanggungan.
"Hosh~"
__ADS_1
Hela napas panjang kemudian terdengar, Òsedian benar—Ilda sendiri yang tadi mengajukan diri agar mereka berdua melakukan sebuah pembicaraan; alih-alih menyahuti Tivana tentang pertanyaan 'siapa dirinya'.
Baiklah, Ilda harus mulai dari mana?
Pikiran makhluk dari bangsa mermaid tersebut melayang, menimang-nimang kata yang tepat agar mereka bisa membuka pembicaraan. Cukup lama terdiam, akhirnya Ilda angkat suara. Dia menoleh, tepat kearah sosok Òsedian.
Bibir lelaki itu terbuka, untaian kata terdengar.
"Bukannya ini bisa jadi sebuah kesempatan?" ucapnya, berhasil membuat siren di samping Ilda mengerutkan kening tak paham.
"Apa maksud mu Ilda?" beo Òsedian.
Tapi bukannya menjawab, Ilda hanya memberikan satu tatapan lekat. Dia tidak perlu menjelaskan lebih lanjut—Ilda rasa Òsedian akan paham beberapa detik setelah ini dan benar saja.
Òsedian berkata.
"Maksudmu kita tidak perlu menjelaskan identitas asli dari Ana, iya 'kan?"
Ilda mengangguk.
"Benar," sahut sosok itu, mengalihkan pandangan menuju kearah Tivana.
"Ini adalah kesempatan emas untuk mu Òsedian. Kita hanya perlu memanipulasi ingatan masa lalu Tivana, karang saja sebuah cerita kalau dirinya adalah bangsa setengah ikan sama seperti kita. Lalu jelaskan kalau kalian adalah mate; pasangan yang sudah ditakdirkan—aku jamin kau dan Tivana bisa mendapatkan akhir yang BAHAGIA bersama." lanjut Ilda yang berhasil membuat kedua tangan dengan kuku panjang milik Òsedian mengepal.
Makhluk setengah ikan bersisik emerald tersebut menunduk, menilik dari balik ekor matanya. Òsedian lalu bicara—
"Seperti biasa, kau selalu ter-OBSESI dengan kehidupan ku yah ILDA."
Deg!
"Terserah kau saja binatang, tapi ini adalah satu-satunya kesempatan yang dapat membuat rasa BENCI milik Tivana berubah menjadi CINTA pada mu. Owh... atau kau tidak ingin melakukannya? Kalau begitu; biarkan aku saja yang melakukannya, siapa tahu Tivana mungkin menyukai ku—?!"
"TUTUP MULUT MU ATAU AKU AKAN MENCABIK-CABIK TUBUH MU ILDA." potong Òsedian cepat dengan nada geram, ia tak terima mendengar semua untaian kata berisikan omong kosong yang Ilda ucapkan. Sial, Òsedian berusaha mencoba untuk menahan gejolak amarah. Jangan tiba-tiba menyerang Ilda. Ada Tivana disini, Òsedian tidak ingin Tivana melihat kembali sosok bengisnya.
"Haha!"
Respon yang Òsedian tunjukan sontak membuat Ilda tertawa, benar-benar menanggapi Òsedian dengan penuh jenaka—tentu saja itu sama sekali tidak lucu. Gelak tawa yang Ilda layangkan lebih mirip sebuah ejekan, makhluk dari keturunan langsung putri duyung tersebut menunggu.
Apa yang akan kau pilih Òsedian? Ujar tatapan Ilda yang seolah berkata.
Hal ini semakin membuat Òsedian mengepalkan kedua tangannya kuat, hingga kuku-kuku tajam milik makhluk itu menusuk kearea telapak tangan dia sendiri.
Sejujurnya Òsedian sependapat, dia juga merasa kalau ini merupakan sebuah peluang besar yang tak bisa untuk dilewatkan. Tapi?!
Pandangan Òsedian terangkat, kembali menuju kearah Tivana. Wanita tersebut bermain dengan riang gembira, seolah tak mempermasalahkan siapa dirinya yang sebenarnya. Bak bayi perempuan lugu yang baru saja lahir ke Dunia.
Apa jawaban mu? Alam bawah sadar Òsedian tiba-tiba bertanya. Ternyata hasratnya mengatakan IYA dengan sangat mantap.
Memilih kalah, Òsedian lalu memberikan sebuah jawaban.
"Baiklah." singkat, padat, dan jelas. Ilda yang mendengar langsung mengerti. Òsedian setuju, dia setuju untuk memanipulasi ingatan masa lalu yang dimiliki oleh Tivana.
Buat skenario terbaik, hingga siapapun yang mendengarnya akan langsung percaya. Termasuk Tivana.
"Aku akan membantu mu, tenang saja..." bisik Ilda, meski tidak mendapatkan tanggapan apapun dari sosok siren yang berada di sampingnya.
Tak apa.
__ADS_1
Ilda lalu melambai, Tivana yang cukup peka dengan keadaan sekitar langsung sadar. Tanpa mengucapkan sepatah kata perintah Tivana dengan patuh berenang mendekat, ada beberapa kerang menempel di atas surai rambutnya.
Seperti mahkota.
Cantik, puji Òsedian dalam hati. Dia menunggu apa yang akan Ilda lakukan setelah memanggil Tivana kemari, cerita karangan apa yang akan dia katakan pada wanita itu—Òsedian jadi penasaran.
Bertolak belakang dengan kepribadian sebenarnya dari sosok Ilda, lelaki menyebalkan itu terlihat sangat ramah.
Menggapai tangan Tivana begitu saja, Ilda membawa benda tersebut untuk saling ditautkan tangan dengan milik Òsedian.
"Ana... itu nama mu..." terangnya, Òsedian lalu tersentak. Padahal mermaid di sampingnya ini tidak memberikan penjelasan yang berarti, tapi—seolah paham. Òsedian lalu tersenyum.
"A n a ?" Tivana spontan membeo. Siren berwarna emerald yang menggenggam jemari lentik sosok cantik di depan mata menjawab.
"Iya, nama mu adalah Ana..."
Kilas balik pertemuan antara mereka berdua untuk pertama kalinya dalam kehidupan Òsedian kembali berputar di dalam pikiran, layaknya sebuah kaset rusak.
Òsedian ingat, itu adalah satu moment yang paling membahagiakan—di mana dia langsung merasakan apa itu jatuh cinta.
Pada seorang gadis cilik berumur 10 tahun, yang benar-benar terlihat dungu dengan keranjang pasir berisi kerang-kerang.
Begitu indah, Òsedian rasa saat itu ia ingin sekali melahap sosok Tivana. Untuk dirinya saja.
Obsesi yang sedikit mengerikan, andai Òsedian berhasil merayu Tivana masuk kedalam air–mereka pasti tidak perlu berpisah dengan waktu yang lama. Dan semua mimpi-mimpi yang Òsedian harapkan pasti akan terwujud.
Ah~
Menyesali masa lalu memang tiada guna, Òsedian bahkan saat itu tidak tahu bagaimana caranya mengubah seorang manusia menjadi siren. Lebih baik fokus pada apa yang terjadi sekarang.
Tuhan sepertinya sedang memberikan Òsedian sebuah kesempatan.
Agar dia bisa—menggenggam erat sosok Tivana dengan kedua telapak tangannya langsung.
Hah~
Òsedian benci mengakui, tapi?! Benar kata Ilda.
Ini adalah satu moment emas yang tidak dapat ia sia-sia-kan.
Demi sebuah kebahagian.
Benar bukan?
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1