Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Penasaran


__ADS_3

..._______________________...


...P e n a s a r a n...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Harusnya aku yang membunuhmu dengan kedua tanganku." bisiknya. Amat sangat kesal sembari menitikkan sebuah air mata?


Deg!


Tivana tiba-tiba tersentak, apa yang baru saja ia pikirkan?! Menggeleng kuat, wanita tersebut mencoba untuk mengenyahkan pemikiran itu dari kepala kecilnya.


Tidak! Batin Tivana; menyapu kasar air mata yang luruh tanpa diundang. Dia yakin crystal bening ini milik Ana, kepribadian lain yang bersemayam didalam tubuh—termasuk juga rasa sakit yang didera oleh hatinya tatkala menyaksikan dengan mata kepala sendiri wujud mengenaskan dari sosok Òsedian. Sang pasangan. Ana sekarang pasti sedang shock dan sedih dalam satu waktu tak heran saat ini Tivana merasakan berbagai gejolak emosi janggal yang tidak karuan rasa. Mencoba tenang, wanita tersebut memukul kuat kedua lututnya.


BERDIRI! Titah wanita itu melalui otak agar sang tubuh mau bergerak; terlepas dari lemas.


Merasa cukup tenang dan Tivana bisa mengontrol kedua kakinya. Dia lantas perlahan berdiri, dibantu tangan yang meraba mencari pegangan di area dinding.


Susah payah.


Tivana akhirnya berhasil berdiri tegak dengan sempurna, dia kemudian berjalan dengan sangat lambat—menuju dapur. Wanita ini rasa dia perlu minum, tenggorokannya terasa kering. Ketika wujud dari benda berbentuk balok persegi panjang bernama kulkas terlihat, Tivana mencoba mempercepat langkah lalu kemudian membuka kasar daun pintu dari benda itu. Brutal, Tivana seakan merampas kumpulan air minum dalam kemasan dari kulkas tersebut kemudian meminumnya tanpa membuka tutupnya.


Mengandalkan insting serta gigi taring yang muncul entah dari kapan, Tivana langsung menggigit botol kemasan air minum hingga pecah. Seketika tenggorokan yang kering banjir oleh air, termasuk tubuh dari wanita itu. Tivana lalu terduduk di atas permukaan lantai, tepat di depan kulkas yang pintunya masih menganga.


Hawa dingin membelai permukaan kulit, Tivana baru sadar kalau suasana sekitar sangatlah gelap. Cahaya dari matahari sore tidak terlihat lagi, berapa lama aku terhanyut dalam pikiranku? Kira-kira itu yang Tivana pikirkan saat menyadari kalau hari perganti malam.


Yakin sudah merasa kembali segar, wanita tersebut mengangkat sebelah tangan lalu menyisir surai rambut miliknya menggunakan sela jari tangan.


Selain segar tubuh—Tivana juga akhirnya bisa menata pikirannya menjadi lebih jernih dari pada yang tadi. Hela napas terdengar dari celah bibir wanita itu.


"Hosh..."

__ADS_1


Dia perlu menggerakan otak untuk menganalisis situasi. Sebenarnya apa yang terjadi? Benarkah bangkai ikan itu adalah sosok Òsedian?


Bagaimana makhluk yang Tivana ingat sebagai siren terkuat tersebut bisa mati?


Menggerakan semua ingatan yang dimiliki oleh dia berserta sosok Ana, hanya ada satu kemungkinan yang dapat membuat Òsedian berakhir dengan wujud mengenaskan semacam itu.


Tidak lain dan tidak bukan, pasti karena ulah predator alaminya—yaitu MERMAID.


...***...


"OWH! YA AMPUN?!" Madam Lula terperanjat, kaget bukan kepalang. Jantung wanita berusia setengah baya tersebut berdegup sangat kencang, siapa yang tidak kaget coba?! Ketika berbalik malah disambut oleh kehadiran seseorang dengan ekspresi datar tepat di belakang punggungnya.


"Sejak kapan kau ada di belakang Madam, Tivana?" tegur wanita itu sembari mengelus pelan dada dengan sebelah tangannya. Tivana ber-reaksi lambat, dia melirik kecil kesamping selama 3 detik lalu kembali menantap wajah dari madam Lula.


Tersenyum kuda, wanita tersebut terkekeh bodoh. Dia menggaruk bagian belakang kepala yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal.


"Apa yang kalian lakukan Madam?" Tanya Tivana, memilih tidak menjawab. Melempar pertanyaan lain adalah cara paling ampuh untuk mengubah topik pembicaraan. Ikut melirik apa yang wanita muda di depannya lirik, madam Lula lalu menghela napas kecil sebelum menjawab.


"Ingat bangkai ikan aneh yang para Nelayan temukan sore tadi?"


"Para Nelayan memutuskan untuk menggantung bangkai itu di Alun-alun pantai." ucap madam Lula menjelaskan sendiri situasi yang sedang terjadi.


Mendengar semua itu membuat Tivana ber-oh ria, pantas saja banyak orang bergerombol di sana. Wanita itu duga sebagian dari orang-orang tersebut pasti tidak melakukan apapun selain menyaksikan berlama-lama bangkai Òsedian seperti sebuah tontonan. Sedikit merasa kesal, mungkin karena Tivana bukan lagi manusia jadi dia agak kasihan melihat Òsedian diperlakukan semacam itu; bukannya mendapat pemakaman yang layak dia malah harus menghibur manusia.


Haha!


"Kenapa jadi digantung Madam?" pertanyaan lain tiba-tiba muncul. Tivana penasaran, mengapa para manusia melakukan hal tersebut pada makhluk yang berbeda ras dengan mereka. Ya meski Tivana rasa dia memiliki pemikiran samar seperti mereka juga jika dia masih menjadi seorang manusia.


Mungkin Tivana akan memilih melakukan penelitian dengan cara mengautopsi mayat dari Òsedian. Semua itu berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan.


"Entahlah Madam kurang yakin, tapi katanya itu bangkai dari putri duyung. Jadi mereka memutuskan untuk mempertontonkan bangkai ikan itu."


Kurang tepat, sela Tivana dalam hati saat mendengar Òsedian disebut sebagai bagian dari bangsa mermaid.


Ber-oh ria adalah tanggapan yang Tivana berikan kepada madam Lula, wanita setengah baya di sampingnya. Tivana rasa dia tidak perlu berusaha menggali informasi dari madam Lula lagi. Garis besar untuk rasa penasaran yang menjerat pikirannya terjawab.


Secara alami Tivana melepaskan diri dari pembicaraan dia bersama madam Lula, dengan dalih ingin mencoba kembali melihat bangkai dari putri duyung itu—katanya.

__ADS_1


Lolos dengan sangat mudah, Tivana membawa diri masuk di antara sela-sela tubuh milik orang-orang yang berada di Alun-alun pantai—sampai kakinya berhenti tepat di area pembatas yang terbuat dari tali dan di alih fungsikan menjadi pagar.


Sirip ekor besar menyambut manik mata Tivana, benda itu digantung dengan cara terbalik. Bekas darah berwarna gelap tampak mengering tepat di ujung satunya, persis macam ikan asin. Hal ini membuat Tivana terkekeh, berbarengan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba mendera dadanya.


Tenanglah Ana! Titah wanita tersebut dalam hati.


Perasaan ini lagi.


Sial!


Tivana rasa ia ingin kembali menangis. Setidaknya itu yang wanita ini pikirkan sebelum dia melihat kilatan aneh dari arah tepi pantai.


Berwajah dingin, Tivana menajamkan penglihatan miliknya. Dia tidak salah lihat.


Barusan itu?


Tivana rasa dia melihat manik mata pucat; sangat familiar, khas dari para siren yang berada cukup dekat dengan daratan.


Siapa di situ? |


...***...


...T B C...


...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti....


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2