Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Gurita


__ADS_3

..._______________________...


...G u r i t a...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Aish..."


Kenapa lautan terdengar sangat berisik saat ini? Menyebalkan!


Johan melirik tajam kearah jendela yang langsung menghadap lautan. Percikan aneh mengganggu hatinya.


Johan tidak suka. Ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi—haruskah aku memeriksanya? Ucap dewi batin milik Johan. Beranjak pergi dari sana.


.


.


.


.


.


Mengapa aku menangis?


Apa yang sedang aku lakukan?


Kenapa aku mencakar brutal makhluk di depanku? Dia terlihat tampak seperti seekor—Mermaid.


DEGH!


"Argh?!!!" Ana merintih, mengejutkan siapa saja yang mendengarnya. Padahal baru beberapa detik lalu dia bertekad untuk membunuh Ilay—mermaid kurang ajar yang dengan gamblang menghabisi anak-anaknya. Tapi! Rentetan ingatan janggal tiba-tiba muncul, menghentikan aksi dari siren betina itu. Ana merasa sakit. Dia menggeleng; jelas bukan ingatan yang bagus agaknya.


Sembari menjaga jarak, Ana mengangkat sebelah tangan lalu menjambak surai rambut milik dia sendiri. Saat ini siren betina tersebut sedang berada ditahap bingung, pandangannya menantap liar kesana kemari guna menemukan sedikit petunjuk yang dapat membantu meski sayang—di sana hanya terdapat sarang yang berantakan, Ilay, dan juga I L D A.


Gurat marah muncul ketika melihat mermaid kebiruan tersebut. Sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk Ana mencerna situasi, itu berkat kumpulan ingatan janggal yang masuk ke-otak tanpa peringatan.


Sial.


Ana mendesis.


Dia menatap sayu dengan aura tajam. Ilda yang tidak memperhatikan karena fokus dengan pikirannya (entah apa); mungkin tidak menyadari perubahan tersebut—berbeda dengan Ilay. Beberapa detik setelah siren betina di depan sana menjaga jarak mermaid bertital pangeran ini ikut menjaga jaraknya. Dia merasakan atmosfer berbeda dari makhluk keturunan bangsa siren itu.

__ADS_1


Sikap jahil Ilay berangsur menghilang, dia merasa terancam.


Siren yang dipanggil oleh saudara kembarnya dengan nama Ana tersebut menampilkan wajah datar. Sulit untuk dibaca. Tanpa sadar mermaid yang terkenal kejam ini menelan saliva kasar.


Lain halnya dengan Ana?


Atau bisa kita sebut saja dia sebagai—TIVANA.


Eksistensi jiwa asli milik tubuh tersebut akhirnya muncul. Di picu oleh tekanan mental berlebih yang diterima oleh kepribadian dia yang lain, ini membuat Tivana mau tak mau harus terbangun dari tidur panjangnya.


Mengepal.


Sekali lagi Tivana menggeram. Dia memang bisa menyerap semua informasi serta mampu beradaptasi tanpa harus mengalami shock hanya saja—Tivana rasa, untuk saat ini lebih baik dia mengikuti insting.


Akan kubalaskan dendammu Ana, batin wanita itu. Menyerang lagi sosok Ilay menggunakan taring serta cakar selayaknya siren murni. Perasaan kehilangan serta rasa sakit seorang ibu yang tidak mampu menjaga anak-anaknya, Tivana melebur menjadi satu dengan Ana.


Sikap agresif yang ditunjukan oleh Tivana membuat Ilay kewalahan. Ini menjadi tidak asik lagi, pikir mermaid itu yang mulai bertindak serius menghadapi sosok di depannya.


Mengubah tangan menjadi lempengan padat, Ilay dan Tivana bertarung sengit meski hanya dalam waktu yang cukup singkat. Tanpa sadar, Ilay mengarahkan tangan menuju dada lawan dan dalam hitungan detik benda tersebut sudah menembus langsung tubuh Tivana.


Jlep!


Menimbulkan suara tidak enak yang berhasil menyadarkan sosok Ilda. Mermaid dengan warna kebiruan itu lantas berenang cepat, mendatangi Tivana lalu memeluknya.


Apa yang terjadi?! Terbaca dari raut muka milik Ilda yang tampak menunjukan kebingungan.


Jika Ilay menarik tangannya, detik itu Tivana benar-benar akan meregang nyawa. Mari lihat tindakan apa yang sedang saudara kembarnya ini akan lakukan. Ilda memeluk tubuh Tivana dari belakang sambil menangis, menariknya keujung seraya melafalkan mantra penyembuh tingkat tinggi.


Dia harus menyelamatkan Tivana! Harus?! |


Rasa ingin menjerit, Ilay tahu kalau semua itu jelas-jelas tidak berguna. Hanya menunggu waktu saja siren betina tersebut akan mati. Tch!


Sayang sekali, keluh Ilay yang sempat berpikiran ingin menjadikan Tivana bu-dak setelah ia berhasil menaklukan Teluk para siren ini.


Dalam ricuhnya suasana, percikan warna ungu mengandung sihir tiba-tiba saja muncul dari dalam tubuh Tivana. Mengempaskan Ilda bersama Ilay—hingga membuat kedua mermaid tersebut menjauh dari tubuh siren betina itu.


Bugh!


Menghantam kecil dinding sarang, mereka terkejut. Kali ini apa yang sedang terjadi?! Batin mereka bersamaan.


Kabut gelap berwarna ungu tua memutari tubuh milik Tivana, menghalangi pandangan dari para mermaid tersebut.


"Rupanya di sini." ucap seseorang setelah fenomena janggal tersebut mereda. Kabut menghilang perlahan, sosok berkulit ungu gelap dengan 8 tentakel terlihat—menggendong Tivana yang tampak tidak berdaya.


Siren bersisik peach itu sudah kehilangan kesadaran, lafalan beberapa kata terdengar; luka menganga ditubuh Tivana menghilang dalam sekejap.


"Penyihir Gurita." gumam Ilda tak percaya. Kedua mata membola dengan sempurna. Makhluk satu-satunya yang digadang-gadang paling terkutuk di lautan baru saja muncul tepat di hadapan mereka.


Itu Johan. |

__ADS_1


Johan melirik. Aroma darah siren menyeruak, memasuk indra penciuman.


Pantas!


"Pantas saja lautan terdengar sangat-sangat berisik!" monolog Johan, sendiri. Dia merotasi sebentar kedua bola matanya.


Kedua bangsa yang tidak akan pernah akur kembali berperang, hardik sang penyihir gurita yang tidak lain adalah temannya Tivana itu sendiri.


Tidak ingin berlama-lama di situ, Johan memulai melafalkan mantra lagi—agar dia bisa berpindah pergi dari sana.


Waktunya menuju daratan.


Prioritas utama, amankan Tivana. Selebihnya Johan akan cari tahu sendiri nanti, soal bagaimana wanita itu bisa berakhir menjadi seekor siren.


"Tunggu!" Ilda tiba-tiba mencegat.


Johan otomatis melirik kecil kearah mermaid muda itu, apa yang kau inginkan? Tanpa perlu membuka kedua bibirnya Johan yakin Ilda pasti bisa memahami raut muka yang sedang ia tampilkan.


"Tolong bawa aku juga!" ucap Ilda tanpa pikir panjang, dia tidak ada waktu mencerna situasi apa yang sedang terjadi. Tapi! Satu hal yang pasti, mermaid itu yakin penyihir gurita di depannya ini sedang berusaha menyelamatkan Tivana. Melihat pantulan dari keyakinan di mata Ilda, Johan rasa—mermaid muda tersebut pasti tahu sesuatu.


"Baiklah." putusnya, menghilang dari sana bersama Tivana dan juga Ilda menggunakan sihir perpindahan.


Menyisakan Ilay yang hanya mampu terdiam lalu mendengus kecil beberapa saat setelahnya.


"Tch!" mendecih, Ilay berbalik. Berenang menuju luar sarang, Ilay langsung disambut oleh para prajurit alias anak buahnya.


"Kita mundur!" titah mermaid itu berenang pergi menjauh dari Teluk.


Penyerbuan telah berakhir.


Waktunya kembali menuju kerajaan para mermaid.


...***...


...T b c...


...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti....


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2