
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Ana mengangguk, mantap. Mengeratkan tautan tangan antara dirinya dengan Ilda. Siren betina tersebut lalu mulai mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan.
"UNTUK PARA SIREN YANG ADA DI TELUK, AKU ANA—PASANGAN DARI SANG ALPHA. JADI DENGARKAN AKU BAIK-BAIK! SAAT INI SEDANG TERJADI SESUATU YANG BURUK DI TELUK KITA DAN AKU KEHILANGAN KONTAK DENGAN ROMBONGAN ALPHA. JADI AKU MENGHIMBAU UNTUK KALIAN SEMUA! JANGAN MENDEKATI PERBATASAN TELUK, BERSEMBUNYILAH DI TEMPAT PALING AMAN SAMPAI ADA KABAR TERBARU DARI SANG ALPHA! SEMOGA KESELAMATAN SELALU MENYERTAI KITA."
Kepada seluruh siren yang berada di Teluk sana.
Berkat bantuan Ilda, situasi panik perlahan menjadi lebih terkontrol. Beberapa siren akhirnya bergerak sesuai imbauan yang di berikan oleh Ana, mate dari sang Alpha mereka.
Entah itu kembali kesarang ataukah mencari tempat bersembunyi lain yang lebih aman serta jauh dari area perbatasan Teluk.
Sama halnya dengan yang lain, Ana dan rombongan semakin mempercepat gerakan ekor milik mereka. Sampai sarang; tempat tinggal Ana terlihat oleh mata dari ketiga makhluk setengah ikan tersebut—tautan tangan barulah terlepas.
Merasakan sudah tidak ada lagi yang memegang jemari kurusnya, Ana spontan berhenti. Membiarkan Ilda masuk lebih dulu kedalam sarang.
"Ada apa Rivàn?!" tanya Ana, membalikkan badan.
Gumpalan kabut di belakang sana sebentar lagi akan sampai, jika tidak cepat-cepat bersembunyi mereka malah akan ditelan oleh kabut yang entah mengapa seperti menyimpan hal bahaya di dalamnya.
Rivàn menggeleng, celah bibir dari siren betina bersisik ungu itu terbuka dengan cepat.
__ADS_1
"Aku akan pergi ketempat Anak-anak ku Ana." ucap dia tegas. Hampir tidak ada waktu untuk Ana berpikir, tapi dia juga tidak kesulitan ketika memahami maksud dari perkataan temannya tersebut. Otomatis ketika mendengar hal itu Ana langsung menyahutinya tanpa ragu.
"Baiklah, tetap berhati-hati Rivàn."
Sang pemilik nama mengangguk, dia berbalik. Sedikitpun tidak menoleh kebelakang, siren betina dengan sisik yang didominasi warna ungu itu berenang sekuat tenaga menuju kearah sarang tempat anak-anaknya berada; hal ini dibarengi Ana yang ikut berpaling—masuk menuju sarang.
Ada Ilda di sana, tak jauh dari telur-telur Ana. Sungguh dedikasi sorang paman yang sangat mulia dalam menjaga keponakannya.
Tanpa sadar Ana menarik kecil sudut bibir hingga menciptakan senyuman simpul, walau tak bertahan lama karena siren betina itu rasa—ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengekspresikan suasana hati.
Mengedarkan pandangan cepat, Ana mulai menganalisa semua yang ada di dalam sarang miliknya. Mencari-cari benda yang sekiranya dapat dimanfaatkan.
Kira-kira apa? Batin Ana buntu, memilih kembali berbalik. Mata siren betina ini disambut oleh pemandangan kabut berisi pasir laut yang sebentar lagi akan sampai.
Ah!
Ana tahu.
"Ilda berikan itu pada aku!" teriak Ana, menunjuk lembaran hijau tumbuhan lamun yang ia ambil beberapa hari lalu. Dengan cekatan Ilda menggapai serta menyerahkan benda tersebut ketangan siren betina yang ada di depannya.
Tidak memberikan penjelasan apapun; begitu tumbuhan berbentuk lebar yang biasanya jadi salah satu sumber makanan para dugong dan penyu itu sudah berada ditangan Ana. Ia langsung bergerak menuju pinggiran celah pintu—jalan keluar; memasang untaian tumbuhan tersebut seperti tirai.
Paham dengan tindakan Ana, Ilda lantas membantu. Beberapa detik sebelum kabut ber-arus menerjang sarang mereka.
WUSH—!
Begitu kuat, sampai-sampai Ana dan Ilda berusaha sekuat tenaga; mati-matian untuk mempertahankan posisi mereka agar tirai berbahan padang lamun tersebut tidak terempas dari tempatnya.
Di lain sisi, lautan lepas. |
Terdapat rombongan Alpha yang tengah menghadapi sesuatu dengan wajah kelelahan.
Sial!
Òsedian mendesis.
Bagaimana ini bisa terjadi?!
...***...
Mari mundur sedikit, sebelum dentuman keras disertai guncangan itu terjadi. Tepatnya saat Òsedian bersama rombongan yang tengah membawa potongan ikan paus hasil buruan ingin kembali menuju Teluk; pergerakan mereka tiba-tiba tertahan saat sesuatu muncul begitu saja menghalangi mereka.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!" tanya Òsedian lantang, tatkala rombongan bagian depan berhenti mendadak. Jarak mereka dengan Teluk masih lumayan jauh, meski tadi Òsedian sudah memberi sinyal bahwa mereka akan sampai dalam hitungan jam.
Tak satupun dari rombongan depan menyahuti pertanyaan milik Òsedian. Hal tersebut membuat sang Alpha merasa curiga, dia meminta para pembawa (siren yang bertugas mengangkat tubuh utama dari hasil buruan) melepaskan bangkai ikan paus ditangan mereka. Biar benda itu jatuh kedasar laut untuk sementara waktu.
Mendapat isyarat langsung dari Òsedian, para siren jantan mengangguk. Tanpa ba bi bu mereka langsung melepaskan seluruh hasil buruan ditangan mereka. Òsedian bergerak maju, matanya menatap liar kesana kemari.
Rombongan yang padahal tidak berjarak lebih dari 10 meter dari tempat Òsedian raib tak bersisa. Lötus berenang mendekat, dia adalah pasangan dari Rivàn dibarengi seorang lagi yang merupakan tangan kanan sekaligus teman milik Òsedian. Bèan namanya.
"Ada yang tidak beres..." bisik Bèan. Òsedian maupun Lötus sependapat, mereka bisa melihat hal tersebut dengan jelas menggunakan mata kepala mereka sendiri tanpa perlu diperjelas lagi.
"Coba panggil mereka dengan gelombang sinyal." pinta Òsedian, memilih mengambil tindakan. Lötus yang mendengar langsung mengangguk paham, dia yang paling ahli menggunakan gelombang sinyal—kepekaan siren jantan itu melebihi lumba-lumba. Meski sayang ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari rekan-rekan sirennya yang berada di barisan depan.
"Tak ada yang merespon Alpha..." ucap dia. Membuat Òsedian mau tak mau memberikan titah kepada seluruh siren yang berada di dekat dia untuk memasang posisi siaga.
"Analisis dan perhatikan baik-baik sekitar! Jika ada sesuatu yang janggal jangan langsung mendekat, tapi beritahu aku terlebih dahulu. Paham?!"
Mereka semua yang mendengar ucapan Òsedian serentak menjawab 'YA!'. Menajamkan semua indra, tampilan para siren tersebut berubah 180° dari pada sebelumnya—di mana mereka tampak seperti para ikan karnivora mengerikan yang menampilkan taring-taring tajam mereka. Begitu juga Òsedian, corak emasnya bahkan membuat siren jantan tersebut tampil dua kali lipat lebih menyeramkan, walau di lain sisi sosok itu tampak indah nan berbahaya dalam satu waktu.
BADUM!
Degh!
Dentuman keras terdengar. Òsedian dan rombongan siren jantan lainnya tersentak, laut bergetar. Kabut aneh muncul entah dari mana. Menghalangi pandangan. Òsedian, selaku Alpha mulai bergerak—diikuti rombongan tepat di belakang dirinya.
Asal dentuman tadi jelas-jelas dari arah Teluk. Sesuatu yang buruk pasti baru saja terjadi.
"Terus waspada!" teriak siren itu. Berdoa dalam hati semoga saja firasat dia salah.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1