Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Ilay


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Prince... semua Siren yang ada di Teluk sudah MATI, waktunya kita kembali."


Degh?


Ana tersentak, dia tertegun konyol di hadapan Ilda. Kedua kelopak mata dari siren betina tersebut berkedut; tak percaya. Mulutnya gemetar.


Hah? Beo Ana dalam hati. Tangan yang mencekik sosok Ilda tiba-tiba melemah, tubuh siren betina itu merosot jatuh. Dia merasa lemas.


"M a t i?" ulang Ana, lagi-lagi tak percaya.


Siren betina ini ingin sekali membalikkan badannya lalu berenang keluar dengan cepat, memastikan kebenaran tapi apalah daya—Ana seperti dipasak mati; tidak mampu bergerak lagi.


Melihat tingkah menggemaskan yang sedang Ana tunjukan, mau tak mau Ilda kembali terkekeh girang. Membenarkan posisi lalu mendekati tubuh Ana; sebelah tangannya terangkat. Membawa beberapa helai surai rambut milik Ana lalu mengecupnya. Benar-benar gila, jika dilihat dari perspektif Ana yang sudah mempunyai pasangan. Ini termasuk tindakan penggoda-an dan Ana sama sekali tidak menyukainya, terlepas dari ia yang sudah mengenal lama sosok Ilda—nyatanya apa yang Ilda lakukan benar-benar di luar dari apa yang Ana kenal. Jadi bisakah siren betina itu menganggap kalau dia sekarang tidak mengenal Ilda? Agar garis kewarasan antara ingatan masa lalu yang berisi hal indah tentang Ilda tersebut, dengan apa yang harus Ana lakukan saat ini tidak tercampur. Supaya Ana bisa memberi respon sesuai dengan apa yang Ilda berikan tanpa harus merasa kebingungan layaknya makhluk bodoh. Lebih lagi ketika dia menghadapi pelecehan semacam ini.


Plak!


Ana menepis tangan Ilda, setidaknya dia berhasil menata pikirannya sebelum sosok mermaid tersebut kembali bertindak kurang ajar. Menggeram, Ana bangkit dari keterpurukan dengan cepat lalu melepaskan semua tumbuhan padang lamun yang menutupi pintu sarang. Ya walau setelah itu dia malah dikejutkan dengan ratusan mermaid asing; mengelilingi sarang bersama masing-masing satu kepala siren ditangan mereka.

__ADS_1


Sadis. |


Ana jelas menampilkan wajah shock, dia kesulitan bernapas andai kata Ilda tidak menopang dirinya dari belakang—bisa dipastikan siren betina satu-satunya yang mungkin selamat tersebut akan jatuh pingsan. Ana pusing, dia bahkan melihat kepala Rivàn di sana. Tak bernyawa dengan kelopak mata terpejam, jelas saja karena siren itu hanya tersisa kepala.


Bersandar dipundak Ilda, air mata Ana pecah kemana-mana. Ilda memberikan telapak tangannya yang langsung digapai oleh siren betina itu.


Menangis; Ana bertanya pada Ilda.


"In... i tid-ak nyata... iyakan?" dengan nada yang lirih, Ana terdengar seperti ingin menyangkal kenyataan yang terpampang jelas tepat di depan matanya. Pada Ilda, satu-satunya sosok yang paling ia percayai di lautan setelah Òsedian.


Walau sayang Ilda tampak enggan untuk menjawab, dia hanya menikmati semua reaksi lucu yang Ana tunjukan padanya.


Menggigit pipi bagian dalam. Ana kembali berucap.


"Ilda? Tolo-ng jaw... ab aku... ini sem-ua tid... ak nyata, iyakan?" tanya dia sekali lagi, berlinangan air mata—yang akan tetapi berakhir nihil. Sama saja seperti sebelumnya, Ilda tampak cuek dan sangat-sangat masa bodoh terhadap pertanyaan milik Ana.


Dia terlihat menikmati penderitaan seseorang. |


Kurang ajar.


"Bajingan." mendesis, Ana mengeluarkan habis kuku tajamnya lalu menyerang Ilda secara membabi buta. Beberapa mermaid terlihat ingin mendekat menolong sosok yang mereka panggil sebagai 'pangeran' itu tapi Ilda melarangnya dengan sebuah isyarat.


Punggung Ilda membentur pelan dinding sarang, bersama Ana yang mati-matian menyerang tubuhnya dengan semua yang ia miliki. Seperti mempersilakan saja; lakukan sepuasmu karena ini—


"Bukan tubuhku."


...***...


"Apa?" beo Ana tanpa sadar. Dia menahan cakarnya lalu berenang menjauh seolah tengah menjaga jarak dari sosok Ilda. Darah berwarna biru gelap milik mermaid tersebut terlihat mencemari air laut.


Ilda menyeringai.


Dia lagi-lagi kembali terkekeh dengan senang. Menjilat kecil sudut bibirnya yang terluka, makhluk ini memperlihatkan suatu keajaiban luar biasa dari sesuatu bernama sihir; dengan melafalkan beberapa kata saja—semua luka menjadi sembuh tidak bersisa. Berbeda dengan siren, apabila terkena sedikit saja serangan dari makhluk setengah ikan dari bangsa lain maka itu akan menjadi luka yang sangat fatal karena kemampuan regenerasi mereka menjadi mati.


Tapi!


Mari kesampingkan dulu hal tersebut, Ana rasa ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk ia pikirkan dari pada itu. Misalnya soal Ilda yang berucap 'bukan tubuhku'—memutar otak; Ana mencoba menelaah baik-baik maksud dari ucapan fundamental tersebut.


Tentu Ana tidak ingin salah tindak, ya meski kesabaran dari siren betina itu tidak lebih besar dari sebuah batu karang. Untuk saat ini.

__ADS_1


"Apa maksudmu bukan tubuhku?!" Setengah berteriak, Ana lebih memilih bertanya supaya dahaga akan rasa penasarannya dari semua tanda tanya ini sedikit terselesaikan. Sedikit saja! Tak masalah!


Melirik nakal, Ilda menyuguhkan senyum terbaiknya seusai tawa. Dia tahu Ana akan tertarik dengan perkataan yang baru saja ia lontarkan, trik mudah untuk melawan betina labil—ujarnya. Remeh.


Ana benar-benar tidak mengerti lagi. Tingkah Ilda terlalu abu-abu; sulit dibaca membuat betina itu merasa ragu pada detik pertama ia mendengar. Terlepas dari amarah besar yang Ana tanamkan, setitik kecil dari sudut hati terdalamnya masih menyimpan kepercayaan—pada Ilda. Percaya atau tidak. Terserah saja.


Ilda yang ingin membuka bibir untuk bicara agar bisa memberi sedikit keterangan kepada Ana tiba-tiba tersentak. Begitu juga Ana. Sekarang apa? Batin siren betina itu lagi, ketika melihat mulut Ilda terbuka dengan ekspresi janggal lalu mencoba memuntahkan sesuatu.


Ana tidak mau mendekat, bahkan saat manik matanya menangkap raut wajah penuh kesakitan dari Ilda. Dia hanya menyaksikan dari pojok sana.


Gumpalan aneh seperti daging keluar, agak shock kala mendapatinya. Ilda terbatuk sangat kencang.


"UHUK! HUKS! UHUK?!" sampai air liur dari mermaid itu terlihat.


Gumpalan aneh tersebut lalu berubah bentuk, diiringi Ilda yang mendongak susah payah sambil menampilkan wajah paling bengis yang ia miliki. Sejauh dengan apa yang Ana ingat, raut tersebut—dia kenal. Itu Ilda; tidak salah lagi. Dia adalah ILDA.


Merasa familiar, Ana tanpa pikir panjang langsung mendekat. Ana memapah Ilda sambil menatap lekat makhluk di depan mereka yang perlahan berubah bentuk menyerupai seekor mermaid.


Tawa gila terdengar lagi. Bedanya itu berasal dari makhluk di depan sana, bukan dari Ilda. Siren betina itu rasa dia sedikit demi sedikit sudah dapat memahami. Dugaan pertama yang betina ini pikirkan ternyata benar, soal tubuh Ilda dirasuki oleh sesuatu—meski walau Ana sempat goyah di tengah-tengah kekacauan karena kewarasan miliknya yang sedang dipertaruhkan.


"Ilay." geram Ilda, langsung dijawab oleh sang pemilik nama.


"Ah~ harusnya kau tetap tertidur." ucap dia, ringan. Menyayangkan tindakan bodoh yang Ilda lakukan demi mengambil alih tubuhnya dari parasit itu.


"Padahal aku ingin sedikit lebih lama lagi bersenang-senang." sambung dia, kali ini dengan nada serius yang terdengar mengancam.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2