Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Hidup Baru


__ADS_3

..._______________________...


...H i d u p - B a r u...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Menurutmu Johan? Apa yang harus aku lakukan?"


Pertanyaan tersebut terngiang ditelinga Johan, dia melihat Tivana mengangkat tangan lalu menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan; disusul isak tangis yang tidak diinginkan.


Beginilah manusia, batin Johan—menilai seberapa rapuh sosok wanita di depannya yang nyaris terlihat gila karena harus mengemban takdir miliknya sendiri.


Kalau boleh jujur Johan sendiri tidak tahu, jawaban seperti apa yang tepat untuk pertanyaan dari Tivana; mungkin karena dia bukanlah manusia makanya Johan tidak terlalu paham soal konsep sejati serta arti dari sebuah kehidupan yang dijalani oleh makhluk lemah bernama manusia tersebut. Tapi—!


Gunakan rasionalitas mu Johan. |


"Lebih baik kau memulai kehidupan baru saja Tivana." Ini jawaban terbaik yang dapat lelaki itu berikan.


Toh! Tidak ada gunanya juga jika Tivana memaksa ingin kembali kekehidupan lamanya. Dia yang sekarang bukan lagi manusia.


Pahamkan?


.


.


.


.


.


Di luar dugaan Johan pikir Tivana akan menolak serta menyangkal ucapannya, tapi begitu wanita tersebut mendengar perkataan yang Johan katakan dia justru terdiam. Isak tangisnya mereda, meninggalkan jejak kemerahan saja di ujung mata.


Merenung; lama terdiam, akhirnya Tivana kembali bersuara. Dia berucap.


"Baiklah..." Atas usulan yang baru saja Johan ajukan—tentang memulai kehidupan baru serta ajakan untuk mengubur semua masa lalu. Termasuk soal kehidupan menjadi seekor siren yang pernah ia jalani.


Di dalam lautan sana.


Ah—!


Ucapkan selamat tinggal pada bajingan binatang bernama Òsedian. Jika dipikir tidak buruk juga, mungkin ini bisa jadi balas dendam yang sempurna (mengingat seberapa besar cinta Òsedian pada Ana, mungkin saat ini makhluk tersebut sudah berada di tahap gila karena kehilangan pasangannya); balasan yang sesuai untuk membalas semua prilaku biadab yang pernah makhluk tersebut lakukan pada Tivana.

__ADS_1


Dan wanita itu harap—


Aku tidak akan pernah bertemu dengan mu lagi, ucap dia seperti sumpah dalam hati yang dikabulkan menjadi kenyataan oleh sang Tuhan.


Terima kasih banyak. |


...***...


Menikmati aroma laut, Tivana duduk termenung dengan mata terpejam di kursi goyang yang berada di teras.


Senyap~


Tivana suka suasana yang ada di sana, meski memiliki ingatan buruk soal pantai—Tivana rasa dia tidak bisa membenci laut. Mereka indah serta membawa ketenangan.


Krett...


Suara engsel pintu terdengar. Spontan wanita yang berada di kursi goyang tersebut membuka kedua kelopak mata, ditiliknya dari ekor mata ada sosok Johan keluar dari sana.


"Bagaimana?" tanya lelaki setengah gurita yang berpenampilan seperti manusia itu pada Tivana.


"Apanya?" gumam Tivana menyahuti pertanyaan dari Johan.


"Kau suka rumah ini? Kalau suka aku akan membelikannya untukmu..." ucap lelaki itu lagi sambil melenggang kearah Tivana lalu mengangkat wanita tersebut dari kursi menggunakan sihirnya. Tivana terperanjat, kaget. Dia melayang sebentar di udara.


Johan dengan ekspresi datar memilih mendaratkan bokongnya di kursi tempat Tivana tadi. Si empunya kursi sebelum lelaki tersebut melotot, Tivana tidak terima.


"Turunkan aku!" pekiknya, yang langsung diwujudkan oleh sosok Johan. Dia menurunkan Tivana tepat di atas permukaan lantai yang ada di teras, sedikit agak kasar. Luar biasa.


"Kau kasar dengan wanita Johan!" Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Tivana Johan lantas tertawa.


"Peduli setan!" sarkasnya yang disambut oleh gerutuan tak jelas dari arah wanita dinsampingnya.


"Kau tidak akan pernah bisa menikah, gurita!"


"Lalala... Persetan~ aku tidak peduli?!"


Haha, mereka terlihat sangat akrab. |


Tidak heran—Tivana dan Johan sudah menjalani kehidupan bersama selama kurang lebih 1 setengah tahun dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka berpisah. Terima kasih pada Johan yang sudah merawat Tivana sampai dia benar-benar bisa kembali menjalani kehidupan secara normal lagi, tanpa merasa takut akan bayang-bayang masa lalu.


"Aku ingin tinggal di sini..." ucap Tivana kemudian setelah pertengkaran lucu mereka, wanita itu menantap lurus kearah tepi pantai. Ombak laut terlihat bergerak maju mundur, menyapu pelan pasir-pasir yang ada di sana. Selain itu tampak juga pemandangan pelabuhan kapal sederhana milik para nelayan.


"Okay, kalau begitu aku akan membelikannya untuk mu—tapi Tivana? Apa kau yakin ingin tinggal sendirian? Aku tak ingin saat aku pergi meninggalkan mu nanti para ikan laut itu kembali menculik mu. Aku tidak masalah jika kau bersama dengan ku untuk beberapa tahun lagi kedepan..." sahut Johan khawatir, menantap dalam sosok Tivana yang sudah ia anggap seperti seorang adik kecil yang berbagi rahasia besar dengannya.


Rahasia soal identitas mereka. |


Dengan mantap wanita itu mengangguk.


"Aku akan baik-baik saja." ucap Tivana, yakin. Ini merupakan keputusan bulat yang sudah ia buat beberapa bulan lalu, meski kalau boleh jujur—sebenarnya Tivana tidak ingin terlalu bergantung kepada gurita itu. Satu tahun cukup untuk wanita ini mengenal bagaimana kehidupan dari sosok Johan, gurita tersebut rupanya benar-benar berhasil hidup membaur diantara manusia. Gilanya lagi, Tivana tidak pernah menyangka kalau Johan memiliki banyak bisnis di mana-mana. Dia lumayan kaya setara para konglomerat manusia. Tivana bahkan sempat heran untuk apa lelaki itu kuliah dan tahu apa yang jadi jawaban dia?

__ADS_1


"Aku bosan..." katanya.


Itu saja.


Tidak cukup hidup ratusan tahun dengan bergelimang harta serta awet muda, secara harfiah dia bukan manusia jadi wajar walau terdengar agak sedikit curang. |


Melihat serta merasakan keyakinan yang Tivana pancarkan, mau tak mau Johan menghela napas panjang. Dia menyerah.


"Baiklah jika itu sungguh keinginan mu."


Mendengar pernyataan setuju dari mulut lelaki di sampingnya, Tivana tersenyum simpul. Mulai besok, dia akan benar-benar menjalani kehidupan baru seorang diri. Tanpa seorangpun manusia yang mengenal siapa dirinya sebenarnya.


Kecuali Johan, si gurita.


"Aku akan memberikan seperdelapan sihirku nanti padamu Tivana." ucap Johan tiba-tiba. Cukup mengejutkan, hal ini membuat wanita di samping sana menoleh penasaran.


Untuk apa gurita itu memberikan secuil sihirnya pada Tivana? Merasakan aura kebingungan, Johan melanjutkan perkataan miliknya.


"Sihir itu untuk menutupi keberadaan mu dari para ikan amis. Meski dia (Ilda) bilang tidak akan muncul di hadapanmu, tapi tak ada yang tahu masa depan. Ditambah kau akan hidup sendirian mulai besok tanpa adanya diriku..."


Ah~


Tivana mengerti, berkat adanya Johan di samping Tivana hal ini membuat wanita tersebut sulit untuk dilacak. Pantas saja, tanda tanya yang selalu berseliweran di kepala soal 'apakah Òsedian mencarinya?' akhirnya terjawab.


Siren jantan itu tidak dapat menemukan Tivana. |


Baiklah, Tivana rasa dia tidak memiliki alasan untuk menolak sihir pemberian dari Johan.


Seperti sumpah dia satu setengah tahun lalu, jangan harap Tivana mau kembali bertemu dengan sosok Òsedian.


Meski kadang segel pasangan yang tampak redup di bagian perut terasa nyeri oleh rasa janggal yang tercipta dari sosok lain di dalam dirinya.


Persetan! |


Tivana tahu kalau itu adalah Ana, siren betina dengan aura kerinduan terhadap Òsedian serta anak-anaknya yang telah tiada.


...***...


...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti....


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2