Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Daratan


__ADS_3

..._______________________...


...D a r a t a n...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Sihir dari seorang Penyihir Gurita ternyata sehebat ini..." gumam Ilda yang beberapa saat lalu hanya mampu terdiam menyaksikan bagaimana Johan mengubah wujud Tivana kembali menjadi manusia dalam hitungan detik.


Berjalan sambil menggendong tubuh Tivana, Johan melirik sebentar kearah mermaid itu. Transformasi tubuh Ilda yang berubah menjadi manusia terlihat, Johan menghela napas panjang. Memilih abai—lelaki tersebut mempercepat langkah menuju vila tempat tinggalnya yang berada di tepi pantai; dan membiarkan sosok Ilda mengikuti tepat di belakang sana.


Kembali lagi, prioritas utama dari gurita itu adalah wanita yang sedang berada di dalam gendongan tangannya.


Melirik kebawah—wajah manis milik Tivana terlihat, sudah berapa lama dia tidak melihat sosok tersebut? Setahun? Dua tahun? Entahlah, Johan lupa. Seandainya dia tahu kalau wanita ini di-culik oleh para makhluk setengah ikan yang hidup bebas di dalam lautan; Johan pasti akan mencari serta menyelamatkan Tivana dari tangan mereka.


Tapi? Apa boleh dikata, nasi sudah menjadi bubur; apa yang berlalu biarlah berlalu.


Kret~


Menendang pelan ujung pintu menggunakan kaki, Johan membawa masuk Tivana kedalam vila. Ilda yang masih mengekori di belakang ikut masuk, dia melihat lelaki yang menggendong pasangan dari temannya itu berjalan menuju ruangan berisi ranjang—lalu membaringkan Tivana tepat di atas selimut. Bersama mantra sihir aneh yang berbeda dari milik bangsa mermaid, Johan mengeringkan tubuh Tivana lalu memakaikan dia pakaian.


"Biarkan dia istirahat." ucap Johan sepihak, memberi isyarat pada Ilda agar mereka pergi menjauh dari sana.


Kali ini bergerak menuju dapur, begitu sampai—Johan langsung membuka kulkas berisi minuman kemasan. Tanpa pikir panjang mengambil sebotol lalu meminumnya; sembari berbalik kearah gelandangan yang sedari tadi mengikuti setiap langkah dari lelaki tersebut.


Johan lihat dari atas sampai bawah.


"Mau sampai kapan kau telanjang?" ucap dia sarkas menilai penampilan tidak beradab yang dilakukan oleh Ilda. Di tegur keras, makhluk yang merupakan keturunan dari putri duyung itu langsung melafalkan mantra. Dia menutupi tubuh dengan jubah lusuh andalannya, meski hal ini malah kembali mendatangkan kritikan pedas dari gurita di depannya.


Beda sekali dengan sihir dari penyihir asli, mana mungkin Ilda bisa berpakaian serapi dan seindah Johan dalam waktu sekejap menggunakan sihir mermaidnya. Lagi pula Ilda tidak tahu banyak soal jenis pakaian yang biasa para manusia kenakan.


Sedikit kesal, Johan memilih membantu mermaid muda itu dengan memberikan dia hadiah pakaian menggunakan sihirnya. Berterimakasihlah kau Ilda!


Tampil rapi dan terlihat seperti selayaknya manusia, tambahan lebih enak untuk dipandang Johan akhirnya memutuskan untuk memulai membuka percakapan.


"Jadi, beritahu apapun yang kau TAHU padaku tanpa ada KEBOHONGAN sedikitpun di dalamnya atau kau akan melihat dirimu sendiri meregang nyawa ditanganku." ucap Johan dalam dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Ilda merasa sangat-sangat terintimidasi karenanya, tanpa sadar dia menelan saliva kasar. Sejarah bangsa mermaid yang dibuat binasa oleh penyihir gurita kembali muncul, Ilda memang tidak pernah bertemu secara langsung—tapi cerita soal penyihir gurita sudah menjadi lullaby bagi bangsa mermaid itu sendiri. Simpelnya selain siren, predator alami mermaid lainnya adalah penyihir gurita.


Membuka pelan kedua bibir hingga memperlihatkan celah, Ilda kemudian berkata.


Menceritakan semua yang ia tahu, dari sudut pandang dia tanpa sedikitpun kebohongan di dalamnya pada Johan—yang tidak lain merupakan teman dari Tivana. Di luar dugaan. |


Siapa sangka wanita itu berteman dengan salah satu monster yang namanya melegenda di lautan; sang penyihir gurita.


...***...


"Hush~" mengembuskan asap rokok dari celah bibir. Johan berada tepat di area teras yang menghadap langsung kearah laut.


Ada Ilda juga di sana, tak jauh dari tempat Johan berada.


"Dongeng yang sangat-sangat buruk..." monolog Johan, mengingat lagi semua cerita yang baru saja dia dengar dari mulut mermaid di sampingnya. Setelah mendengar Johan bahkan tidak mampu untuk berkomentar—dia lebih memilih melangkah keluar lalu menghisap sebatang rokok untuk menenangkan pikiran.


"Tapi itulah yang terjadi..." sahut Ilda tanpa diminta. Entah kenapa dia mengekori Johan sampai ke-teras, anggap saja mermaid ini sedang tertarik dengan tingkah laku gurita itu yang tampak terlihat sangat terbiasa hidup sebagai seorang manusia.


"Hosh..." tidak habis pikir. Serius, Johan benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa. Marah? Sedih? Turut berduka? Atas semua yang menimpa temannya?


Entahlah, gurita tua ini bingung.


Sudah lama sekali dia meninggalkan lautan, jadi dia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di dalam lautan sana.


Hanyut kedalam pikiran masing-masing, tiba-tiba telinga Johan mendengar gemuruh berisik dari arah laut. Telinga dia benar-benar sensitif.


"Nyanyian Siren..." gumam Johan yang menarik minat Ilda melirik kearahnya. Beda dengan gurita tersebut, mermaid ini sama sekali tidak bisa mendengar apapun dari jarak dia saat itu.


Tapi!


Ilda percaya, apa yang Johan katakan benar. Òsedian pasti sudah sampai di Teluk—lalu mengetahui semua fakta yang terjadi. Mulai dari hancurnya teluk, musnahnya para siren di sana lalu lenyapnya calon dari anak-anak dia berserta pasangannya.


Kesedihan sekali lagi menyelimuti hati dari makhluk laut tersebut.


"Mengerikan... selain rasa sakit, kekecewaan, serta keputusasaan—terdapat amarah terselip di dalam nyanyian mereka." komentar Johan kembali, sembari menyudahi kegiatan menghisap rokok ditangannya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Arghh?" lenguhan tak nyaman terdengar dan itu berasal dari arah mulut Tivana. Tampak terlihat wanita tersebut bergerak gelisah, dia mencoba membuka kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat serta lengket.


Mencoba susah payah, Tivana akhirnya berhasil walau pandangan dia sedikit buram. Tak apa, lama-lama nanti kedua manik mata tersebut akan terbiasa—dan benar saja; perlahan tapi pasti dia dapat melihat semua objek di sekitar.


Langit-langit ruangan berwarna coklat dengan serat pohon di dalamnya.


Ada sebuah selimut menutupi wanita itu, lalu? Kehadiran janggal dari anggota tubuh bagian bawah. Tanpa pikir panjang Tivana bangkit (setengah berduduk di atas ranjang), dia membuka cepat selimut yang menutupi badan dan alangkah terkejutnya dia saat tahu apa yang pertama kali menyambut penglihatan matanya.


Sepasang kaki.


Kaki manusia.


Persis seperti yang ia miliki, dulu sekali—sebelum wanita tersebut ber-transformasi menjadi seekor siren.


Bergetar, entah kenapa tubuh Tivana menjadi gemetar.


Dia tak percaya; ini bukan mimpikan? Atau selama ini dia hanya bermimpi buruk saja? Menjadi siren? Itu Konyol! Batin wanita itu, tanpa sadar ingin menitikkan seberkas air mata.


Andai saja kalau dia tidak mendengar derap langkah dari kejauhan, mungkin Tivana akan menangis sejadinya.


"Tivana?!" panggil seseorang yang suaranya terdengar sangat familiar. Itu Johan. Menoleh girang, dia merasa sudah lama sekali tidak melihat wajah dari lelaki tersebut meski sayang perasaan senang Tivana berubah kandas kala dia mendapati ada wajah Ilda tak jauh dari sana.


Ya, beginilah kenyataan bekerja seberapa-pun Tivana ingin menyangkalnya—mimpi itu bukan mimpi. Pahamkan? |


...***...


...T b c...


...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti....

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2