
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Entahlah, aku tak ingat kapan tepatnya."
Setelah mendengar jawaban Ana rona wajah Rivàn langsung terlihat berbinar-binar. Dia kemudian mendekat, berbisik tepat di samping daun telinga Ana.
"Mau coba mengambil napas denganku?" ajak dia, menuju daratan. Belum sempat menjawab, Ana sudah ditarik oleh sosok siren betina bersisik ungu bernama Rivàn tersebut. Mau tak mau Ana mengikuti, berenang naik dengan menggerakan sirip ekornya.
"Apa tidak masalah?" tanya Ana was-was. Barang kali 'kan ada semacam larangan tertentu yang menyebutkan bahwa siren tidak boleh mendekati permukaan. Dia tidak ingin kena marah, apa lagi dari sang Alpha baru yang tidak lain adalah pasangan dia sendiri.
Rivàn menggeleng, dia bahkan tidak menoleh kearah Ana dan lebih memilih langsung menjawabnya saja. Fokus utama dari siren betina itu adalah naik menuju permukaan.
"Tentu saja tidak masalah... yang lain juga sering melakukannya. Mungkin? Hehe... " terang Rivàn pada Ana yang terdengar sedikit janggal, membuat siren betina bersisik peach tersebut bertanya-tanya.
Sebenarnya untuk apa mereka mengambil oksigen secara langsung di permukaan? Padahal dilihat dari sistem pernapasan saja mereka nyaris menyerupai ikan yang hidup di lautan. Haruskah Ana bertanya? Tapi jika dia bertanya siren betina ini yakin Rivàn pasti akan melayangkan tatapan aneh. Seperti—
Bukankah kau seekor siren, untuk apa kau menanyakan sesuatu yang membuat dirimu terlihat seakan kau BUKAN bagian dari bangsa siren itu sendiri.
Lebih baik Ana urungkan dulu niatnya, dia akan bertanya pada Òsedian nanti.
Mendekati beberapa jengkal menuju batas air dan juga permukaan. Ana menyadari, sesuatu terjadi pada warna sisiknya—yang semula berwarna peach cantik perlahan berubah menjadi pucat. Apa yang terjadi?! Tanya dewi batin Ana panik, cepat-cepat menoleh kearah Rivàn yang ternyata mengalami hal serupa.
__ADS_1
Warna ungu pada sisiknya berangsur memudar, digantikan dengan warna putih pucat—begitu juga manik mata milik sosok tersebut.
Sial! Nyaris saja Ana memuntahkan pertanyaan, andai kata dia tidak menemukan fenomena serupa pada Rivàn. Syukurlah, siren betina itu bisa langsung dengan cepat menarik sebuah kesimpulan bahwa hal ini dikategorikan 'wajar' jika para siren berenang sangat dekat menuju daratan.
Huh~
Rivàn sudah lebih dulu mengeluarkan kepalanya dari dalam air laut. Mengikuti apa yang dilakukan siren itu Ana lantas menyembulkan kepala, dari awalnya terpejam sangat rapat—perlahan siren betina ini membuka kedua kelopak mata saat merasakan sapuan pelan dari angin malam yang membelai kulit berlapis sisiknya.
Ana tertegun. Diam layaknya patung.
Kedua insang yang ada di area tulang selangka menutup, seperti ada semacam katup penghalang di sana. Hal tersebut terjadi seiring seberapa tingginya Ana mengeluarkan tubuhnya dari dalam air. Jalur napas berpindah, menggunakan hidung sebagai media utama dalam mengambil oksigen.
"Luar biasa..." gumam Ana kemudian, mengagumi perairan teluk tempat para siren berada.
"Iyakan!" beo Rivàn, bangga.
Sudut bibir Ana terangkat, dia merasa senang. Tidak sia-sia ia mengikuti sosok Rivàn yang mengajak dirinya untuk mengambil napas menuju permukaan. Meski jika dipikir-pikir sepertinya mengambil napas tersebut hanyalah dalih dari Rivàn agar dia dapat menunjukan pemandangan menakjubkan ini. Bisa juga Rivàn hanya ingin ditemani kemari agar bisa melihat pemandangan cantik dari teluk para siren dengan view yang berbeda.
Entah! Tapi satu hal yang pasti terima kasih untuk siren betina tersebut karena sudah menunjukan itu semua pada Ana.
Terlena dalam keheningan, Ana melemaskan tubuh. Membiarkan dirinya mengambang di atas air dengan posisi terlentang.
"Itu adalah para ubur-ubur yang berenang di lautan tanpa air." ucap Rivàn tiba-tiba sembari menunjuk ribuan bintik kecil bercahaya yang ada di langit tersebut. Ana yang mendengar otomatis tertawa.
"Itu bukan ubur-ubur, mereka disebut bintang." sahutnya, spontan.
Kening Rivàn berkerut, dia langsung bersuara saat Ana mengoreksi perkataan miliknya.
"Bintang?"
Ana mengangguk.
"Apa itu bintang? Apa mereka sama seperti para bintang laut?" sambung Rivàn lagi dengan nada tanya yang terdengar sangat besar. Sampai membuat Ana tersentak. Menyadari kosa kata baru yang baru saja keluar dari dalam mulutnya.
Bintang?
Entahlah, Ana tidak yakin bagaimana dia bisa mendeskripsikan apa itu bintang sesungguhnya. Jelas berbeda dengan bintang laut. Tapi percayalah, begitu ia pertama kali melihat titik kecil yang menghiasi langit—dia yakin sekali kalau nama dari titik kecil bercahaya itu adalah bintang.
Melihat Ana tidak kunjung menjawab pertanyaan miliknya, Rivàn berinisiatif ingin kembali bertanya. Ya meski pertanyaan tersebut hanya bisa tertahan di dalam tenggorokan tatkala kedua indra pendengaran milik Ana maupun Rivàn tiba-tiba mendengar sebuah teriakan.
"ÆÆÆÆÑÑÑÑÀÀÀ—!!!!!!"
__ADS_1
Yang berhasil membuat siapa saja merasa merinding ketika mendengarnya.
Percayalah. |
Ana tidak bohong.
...***...
"ÆÆÆÆÑÑÑÑÀÀÀ—!!!!!!"
Ana tersentak, dia tahu siapa pemilik dari suara tersebut. Tanpa pikir panjang siren betina itu langsung menyelam kebawah, meninggalkan sosok Rivàn yang terlihat membeku ketakutan.
Dia gemetar.
"Maafkan aku Rivàn!" Bisik Ana, melongos pergi dari sana.
Jelas sekali kalau suara lengkingan mengerikan ini adalah milik Òsedian. Agaknya siren jantan tersebut baru saja pulang, tapi mungkin karena dia tidak mendapati sosok Ana di mana pun—hal itu membuat Òsedian berteriak panik.
Sekuat tenaga berenang menuju dasar Teluk, warna peach dari sisik Ana perlahan muncul. Dari kejauhan manik mata serupa dengan warna buah persik tersebut melihat, ada sosok Òsedian yang tengah menggeram di samping sarang mereka.
Ana maklum, Ilda pernah berkata jangan menghilang atau pergi tanpa seizin Òsedian. Karena siren jantan ini katanya punya sedikit perasaan trauma ketika lautan memisahkan kalian, jadi usahakan berada di tempat yang bisa dijangkau oleh penglihatan mata dari Òsedian.
Ya meski sekarang Ana sudah melanggar hal sederhana tersebut, bodohnya dia. Ana pikir Òsedian akan pulang terlambat sama seperti biasa; ketika fajar datang, siapa sangka langit malam baru saja menampakan batang hidungnya sosok itu sudah berada di rumah.
"Òsedian!" panggil Ana kencang. Tak ingin menambahkan rasa panik juga amarah di dalam hati kecil milik sang siren jantan. Merasa terpanggil Òsedian langsung berbalik, menoleh kearah sumber suara. Terdapat seekor siren yang berusaha susah payah berenang menuju kearah dirinya.
Siapa lagi kalau bukan Ana. |
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1