Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Tak Terduga


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


Ana berenang sekuat tenaga, meninggalkan sarangnya guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Teluk.


Bagaimana bisa terdengar dentuman keras disertai guncangan hebat? Apa penyebabnya? Batin Ana—di landa oleh rasa penasaran yang begitu besar. Siren betina ini menduga sesuatu yang tidak beres itu terjadi di dekat area gerbang perbatasan Teluk.


Harus memeriksa kesana. |


Tapi—?!


"Ana!" tiba-tiba terdengar panggilan. Ana otomatis berhenti, dia berbalik seraya menyipitkan kedua mata—mencari tahu siapa gerangan yang menyerukan namanya. Terdapat Rivàn di sana, tak begitu jauh dengan gerakan ekor yang berusaha berenang mendekati sosok Ana.


"Apa kau tahu sesuatu Rivàn?!" sambar Ana langsung begitu Rivàn sudah berada cukup dekat dengan dirinya. Meski sayang apa yang didapatkan Ana hanya sebuah gelengan kepala semata dari siren betina bernama Rivàn tersebut.


Ini menandakan ketidaktahuan.


Tch!


Tanpa sadar Ana mendecih, dia menggigit pipi bagian dalam dengan giginya.


Kembali memberikan sinyal darurat pada Òsedian maupun Ilda.


ADA SESUATU YANG ANEH TERJADI DI TELUK!


Yang lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban apapun.

__ADS_1


Ana serta Rivàn mulai bergerak secara natural, menuju tujuan awal mereka yaitu kearah perbatasan Teluk. Selain dua siren betina itu beberapa siren lainnya juga melakukan hal serupa. Dan saat mereka sedikit lagi sampai—Rivàn mendapatkan guncangan sinyal yang begitu kuat dari pasangannya.


Hingga siren betina itu tertahan lalu memegangi kepalanya, sakit. Melihat hal tersebut membuat Ana ikut berhenti, menggapai bahu Rivàn agar dia tidak merosot jatuh kedasar air karena tidak bisa mempertahankan posisi berenang.


"Ada apa Rivàn?!" tanya Ana cepat. Rivàn benar-benar merasakan kesakitan, terlihat jelas dari raut muka yang saat ini ia tampilkan. Membalas pegangan tangan Ana, susah payah siren bersisik ungu tersebut bicara.


Menyampaikan sinyal darurat yang baru saja dikirimkan oleh pasangannya di luar Teluk.


"Aku tidak tahu pasti, tapi! Katanya ada sejumlah Mermaid menyerang!" ucap Rivàn, tegang.


Degh!


Perkataan yang baru saja terdengar sontak membuat Ana tersentak.


"Apa?" beonya tak sadar dengan manik mata yang membola sempurna.


Mermaid? Lanjut dewi batin Ana tak percaya.


Kabut tiba-tiba muncul, hal ini terjadi ketika pasir laut digoncangkan oleh sesuatu yang besar—menyebabkan air di dasar laut menjadi keruh.


Glek!


Menelan saliva kasar saat melihat itu, Ana dengan cekatan menarik Rivàn berenang menjauh. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi, dari pada melanjutkan rasa penasaran lebih baik mereka pergi dari sini.


"Ayo!" meminta Rivàn untuk menggerakan ekor miliknya, sebelum kabut itu bergerak menelan mereka.


KABUR! KABUR DARI SANA!


Di tambah lagi wajah Ana yang perlahan terlihat semakin pucat, siren betina itu panik tapi masih berusaha untuk bersikap tenang.


"ANAAAA—!" teriakan lain terdengar. Rivàn maupun sang pemilik nama sama-sama menoleh, siapa gerangan yang memanggil Ana di tengah kekacauan aneh yang sedang terjadi.


Sosok makhluk setengah ikan bersisik kebiruan terlihat menyambut mata.


Itu Ilda! Sontak Ana memanggil namanya.


...***...


"Hosh~" mengembuskan napas kasar, dia baru saja sampai di permukaan. Manik mata mermaid itu perlahan terbuka dan yang pertama kali menyambut pandangan miliknya adalah pemandangan langit gelap.


Sebelah tangan Ilda lalu terangkat, menyeka surai rambut basahnya dengan sela-sela jari tangan. Kembali terdengar hela napas melalui hidung, mermaid itu kemudian mengalihkan pandangan—menuju pemandangan Teluk yang lumayan indah jika dilihat dari atas.


Sekitar Teluk hanya di-isi oleh lautan lepas. Ini adalah tempat persembunyian paling sempurna yang dimiliki oleh bangsa siren; sejauh yang pernah Ilda ingat. Jauh dari berbagai peradaban laut (musuh atau predator alamiah yang dapat memusnahkan satu spesies makhluk hidup melalui hukum alam) hingga manusia. Benar-benar seperti utopia.


Membiarkan semilir angin laut membelai wajah, Ilda sekali lagi memilih memejamkan mata lalu dirinya berenang mengambang di atas air laut dengan suasana senyap. Menikmati sekitar~

__ADS_1


Damai.


Setidaknya itu yang Ilda rasakan sebelum terdengar suara dentuman kencang dibarengi getaran tak wajar.


BADUM!


Mermaid bersisik kebiruan dengan manik mata serupa tersebut spontan membuka kedua kelopak matanya, ledakan yang menciptakan riak air besar terlihat. Seperti baru saja dijatuhi oleh sebuah bom. Ilda merinding, memutuskan kembali kedalam air.


Dia berenang sangat cepat agar bisa mencapai dasar. Ilda rasa dia perlu mendatangi sosok Ana, memastikan keluarganya itu sedang dalam keadaan baik-baik saja atau Ilda akan merasa menyesal karena telah meninggalkan Ana seorang diri di Sarang.


"Ana!" panggil Ilda begitu sampai tepat di depan celah pintu yang ada pada tempat tinggal mereka. Tapi! Apa yang menyambut sosok mermaid tersebut hanyalah kekosongan.


Ilda tersentak, berenang panik menuju dalam—tempat para telur berada. Syukurnya telur-telur yang ditutupi berbagai jenis tumbuhan laut itu aman.


Memutuskan berbalik, Ilda berenang keluar lagi. Batinnya memerintahkan kalau dia harus mencari Ana secepat mungkin karena instingnya merasa ada suatu bahaya yang sebentar lagi akan datang.


Dan tidak perlu memakan waktu lama, dari kejauhan mata biru Ilda sudah menangkap kehadiran dari sosok Ana yang berenang susah payah bersama satu siren betina lainnya yang kalau tidak salah ingat bernama Rivàn.


"ANAAAA—!" teriak Ilda lantang, mengejutkan sang pemilik nama. Mermaid tersebut berenang mendekat. Ilda tidak buta, ada kabut laut yang sedang bergerak menuju tempat mereka berada.


"Apa yang terjadi?!" sontak pertanyaan penuh tanda tanya muncul. Sembari menarik tangan Ana yang saling bertautan dengan Rivàn, mereka berenang cepat menjauh dari sana; seperti rantai.


Rivàn yang mendengar pertanyaan tersebut ingin sekali menjawab, seandainya Ana tidak menyela dirinya.


"Ada yang menyerang Teluk." Jelas bermakna abu-abu. Rivàn terkejut, harusnya Ana menerangkan kalau segerombolan mermaid-lah yang menyerang mereka—terlepas dari benar tidaknya karena mereka belum melihat dengan langsung; benarkah bangsa mermaid yang menyerang. Tapi ketika melihat sosok Ilda secara lekat, Rivàn rasa dia tahu kenapa Ana tidak jujur saja.


Ada satu mermaid yang berpihak pada bangsa siren itu sendiri.


"Benarkah?!" beo Ilda cepat, coba menganalisis baik-baik kira-kira spesies mana yang berani menyerang Teluk tempat para siren berada. Makhluk yang dikenal ganas serta karnivora di seluruh lautan.


"Ilda! Kau bisa membuat ku memberi sinyal darurat kesemua Siren yang ada di Teluk? Seperti pemancar?! Bisa?!!" tanya Ana tiba-tiba sebelum Ilda memberikan reaksi yang sesuai dengan keadaan sekitar.


"Bisa!" sahut Ilda, menggunakan beberapa mantra yang dapat menyebarkan seluruh informasi dalam satu waktu.


Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Ilda langsung melafalkan beberapa kata. Memahami kalau saat ini Ilda sedang mengabulkan permintaannya, Ana langsung mengucapkan kalimat apa yang ingin ia ucapkan.


"UNTUK PARA SIREN YANG ADA DI TELUK, AKU ANA—PASANGAN DARI SANG ALPHA. JADI DENGARKAN AKU BAIK-BAIK! SAAT INI SEDANG TERJADI SESUATU YANG BURUK DI TELUK KITA DAN AKU KEHILANGAN KONTAK DENGAN ROMBONGAN ALPHA. JADI AKU MENGHIMBAU UNTUK KALIAN SEMUA! JANGAN MENDEKATI PERBATASAN TELUK, BERSEMBUNYILAH DI TEMPAT PALING AMAN SAMPAI ADA KABAR TERBARU DARI SANG ALPHA! SEMOGA KESELAMATAN SELALU MENYERTAI KITA."


...***...


...T B C...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2