
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Ah~
Aku ingin memiliki siren betina itu. |
DEGH!
Ilda terdiam, untaian kata tersebut baru saja lewat di dalam benak.
Apa? Beo Ilda tanpa sadar, kalimat itu jelas bukan miliknya. Merinding. Bahkan hanya sekadar membayangkan kalau ia bisa mengucapkan kata penuh nada goda tersebut saja sudah berhasil membuat Ilda mual, apa lagi sampai berani mengucapkannya—pada Ana; pasangan milik sahabatnya. Itu gila dan sangat-sangat TIDAK MUNGKIN!
Apa yang kau perbuat dengan tubuhku Ilay?! Mendesis, Ilda tak suka. Dia ingin kepemilikan atas raganya kembali, sebelum Ilay menggila menggunakan topeng wajahnya. Tak bisa dimaafkan. Meski untuk saat ini, Ilda benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar bisa keluar dari sini.
Tch!
Mendecih, Ilda mulai frustasi—memikirkan apa saja yang dapat dia perbuat. Lucunya sambil berusaha mati-matian memikirkan cara; Ilda malah mendapatkan bayangan mesum milik Ilay soal Ana. Apa yang ingin ia lakukan pada siren betina itu.
Menjijikan.
Percayalah—!
__ADS_1
Bayangkan saja.
Entah bagaimana caranya Ilay bisa tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama kepada sosok Ana, bangsa siren yang sedang coba ia musnahkan dari lautan. Tercela memang. Ilda sampai mendengus kesal, Ilay pasti menggunakan tubuhnya untuk menggoda Ana.
Sialan!
Kembali lagi mencari cara, mari kesampingkan dulu semua pikiran biadab dari saudara kembarnya tersebut di dalam kepala Ilda. Utamakan mengusir Ilay lalu meraih hak atas tubuhnya sendiri, pikirkan sesuatu Ilda. APAPUN ITU!
Yang bisa membuatmu lepas dari sini.
Potongan masa lalu kembali muncul setelah secara paksa Ilda mencoba mengingatnya, dia terpejam. Menata baik-baik potongan tersebut seperti layaknya kepingan kaca di dalam otak; mengatur ulang susunannya hingga tak ada satu kepinganpun yang terlewatkan.
Bingkai pertama dari ingatan milik Ilda berisi tentang kelahirannya, tentu saja bersama sang kembaran—Ilay. Lalu dilembar selanjutnya hanya dipenuhi oleh adegan penyiksaan, pengabaian serta harapan soal Ilda, mereka berandai kalau saja Ilda; pangeran bayangan itu tak pernah lahir di dunia. Mungkin kerajaan mermaid tidak akan mengalami kemunduran.
Memang apa kaitannya dengan ku? Batin Ilda, geram—tiap kali mengingatnya. Berpindah, mencoba mencari beberapa ingatan yang menurut dia berguna sampai akhirnya Ilda menemukannya. Dia berhenti, mulai menata rapi kepingan dari ingatan tersebut. Ini soal pertama kali atau terakhir kali? Entahlah Ilay bereksperiment dengan tubuh Ilda menggunakan segel budak. Ide paling gila yang pernah ada 'mengambil alih tubuh untuk mendapatkan keabadian'—tidak cukup berumur panjang, toh nyatanya kematian akan selalu datang; begitulah ideologi Ilay sang saudara kembar.
Jika berhasil, dia akan hidup jauh lebih lama bahkan melebihi para roh laut yang hidup di dasar lautan terdalam di muka bumi ini nantinya.
Sayang itu gagal. Eksperiment tersebut hanya menghasilkan banyak luka parah dikedua tubuh, baik sang peminjam (Ilay) ataupun sang wadah (Ilda)—walau Ilda sekarang tidak tahu bagaimana saudara kembarnya tersebut tiba-tiba berhasil merasuki serta mengambil alih tubuhnya. Bagaimana caranya? Mari pikirkan itu nanti, lebih utama bagi Ilda untuk mengingat bagaimana cara dia bisa lepas dari eksperiment tersebut.
Ilay masih terlalu kecil? Begitu juga dengan Ilda saat itu, jadi perbandingannya 50 : 50—dan untuk sekarang? Akan tetap 50 banding 50 karena tidak hanya Ilay yang tumbuh dan berkembang; Ilda-pun begitu.
Kalau tidak salah 'saat itu' ketika Ilda tidak dapat bergerak karena sihir kekang yang Ilay lafalkan, Ilda hanya mampu menangis. Menggigit kuat lidah sambil berpikir lebih baik aku mati dari pada menjadi boneka tanpa nyawa—Ilda benar-benar lelah soal bertahan hidup di usia muda. Lalu sebelum eksperiment gila tersebut berhasil Ilda sudah berada diambang kematian.
Eh?
Tunggu?!
Kematian?
Rasa sakit. |
Ah~
Sepertinya Ilda tahu.
Cara agar dia bisa mengambil alih kepemilikan atas tubuhnya sendiri dari tangan Ilay—sang saudara kembarnya itu.
...***...
Masih memiliki yang namanya kesadaran, itu artinya Ilay belum mempunyai cara yang sempurna untuk mengendalikan tubuh Ilda secara utuh. Ini sama saja dengan sebutan meminjam, melihat lubang tersebut membuat Ilda yakin kalau dia bisa merebut kembali apa yang menjadi miliknya. Tentu menggunakan cara yang ia dapat beberapa waktu yang lalu, yaitu menggunakan—rasa sakit.
__ADS_1
Kenapa?
Mengapa jawabannya adalah rasa sakit? Di antara semua kemungkinan kenapa Ilda memilih rasa sakit? Sederhana, mari telaah lagi untaian kata di atas; menyebutkan 'adanya kesadaran' hal tersebut menjadi titik lemahnya di mana tidak mungkin ada satu tubuh dengan dua jiwa. Paham?
Alasan kenapa eksperiment Ilay gagal adalah karena dia tidak bisa menyatu dengan Ilda, tepatnya jiwa Ilay yang tak bisa sinkron dengan kembarannya sehingga menimbulkan efek berlawanan. Efek berlawanan tersebutlah yang menciptakan rasa sakit sehingga Ilay maupun Ilda berakhir mendapatkan luka serius dari gagalnya uji coba gila itu.
Satu point selesai, pindah ke-point selanjutnya; sebenarnya bukan berarti Ilda dan Ilay tidak cocok (tidak bisa sinkron)—hanya saja cara yang Ilay pilih itu salah makanya menimbulkan reaksi penolakan. Kenapa dikatakan salah? Itu karena dari awal Ilda tidak pernah menginginkan eksperiment tersebut, seandainya Ilda pasrah dan tidak berpikiran MATI LEBIH BAIK DARI PADA MENJADI BONEKA maka apa yang Ilay (adik laknat) lakukan akan berhasil. Jiwa Ilda lenyap lalu kembaran biadabnya itu bisa mengambil alih tubuh Ilda dan menjadikannya sebagai wadah cadangan.
Berkat keinginan mati tersebutlah Ilda lolos dari Ilay, kemudian menciptakan rasa sakit di mana—seberapa-pun usaha yang Ilay lakukan untuk mengambil tubuh Ilda; akan selalu berakhir sia-sia karena dilakukan secara paksa. Reaksi penolakan yang timbul akan menjadi rasa sakit yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak.
Simpelnya begini, Ilay berusaha mengambil alih raga Ilda tapi selama Ilda menolaknya—apa yang Ilay coba lakukan pasti akan berbalik kedirinya sendiri. Semakin sakit Ilda semakin sakit juga Ilay karena mereka berdua memiliki yang namanya masing-masing KESADARAN.
Begitu, semoga mudah dimengerti. |
Jadi apa yang harus Ilda lakukan saat ini cukup sederhana. Dia hanya perlu membunuh dirinya yang terjebak di dalam lucid dream agar Ilay mendapatkan rasa sakit (reaksi penolakan)—lalu mau tidak mau memilih keluar dari tubuh Ilda. Entah bagaimana caranya Ilda tak peduli, paling yang harus dia antisipasi adalah efek luka dalam yang akan mendera dia nanti.
Ya...
Masih bisa diatasi.
Baiklah! Ayo kita coba?! Batin Ilda, tanpa ragu langsung melakukan bunuh diri dan benar saja. Itu berhasil.
"Ilay." desis Ilda setengah menggeram begitu dia mendapatkan hak atas kepemilikan tubuhnya.
Menatap dalam, apa yang Ilda ucapkan langsung mendapatkan jawaban.
"Ah~ harusnya kau tetap tertidur. Padahal aku ingin sedikit lebih lama lagi bersenang-senang." ucap Ilay yang sangat tidak enak untuk didengar.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1