
..._______________________...
...S i h i r...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"ADA MAKHLUK ANEH DI TEPI PANTAI!" teriakan seseorang terdengar.
Deg!
Hal ini membuat wajah Tivana berubah pucat, wanita tersebut menilik kebelakang melalui ekor matanya—menuju kearah jendela yang berada tak jauh dari sana.
Di lihatnya bayangan samar milik tubuh manusia berbondong-bondong berlari menuju tempat yang disebutkan dalam teriakan nyaring tadi. Apa lagi kalau bukan tepi pantai.
Firasat Tivana buruk, hanya dengan mencerna sebentar kalimat yang ada di dalam teriakan—gambaran wajah dari kedua siren muda yang wanita ini duga adalah anak-anaknya muncul. Membayangi pikiran.
Apa mereka tertangkap?!
Bukannya aku sudah bilang jangan mendekati pantai.
Aku menyuruh mereka menunggu!
Sial! Sial!
"Anak-anakku!" gumam Tivana sedikit panik, dia kembali membalikkan pandangan menuju portal penghubung antara dirinya dengan Johan. Masih ada lelaki itu di sana, menunggu dalam diam.
"Pinjamkan aku sihirmu—?!" pinta Tivana tiba-tiba tanpa pikir panjang begitu dia memalingkan pandangan.
"Aku tidak ingin kehilangan Anak-anakku lagi."
...***...
Tivana melenggangkan kaki dengan pelan, hawa dingin mengelilingi area sekitar tubuh wanita tersebut. Di lihatnya dari kejauhan, punggung-punggung manusia yang tidak lain adalah para tetangganya—sedang berdiri dekat dengan area pantai.
Mungkin karena bekas penemuan bangkai Òsedian kemarin malam, makanya mereka jadi sangat-sangat sensitif terhadap sesuatu yang dirasa janggal. Itu kenapa mereka excited; berbondong-bondong mendekat dan mencari tahu sesuatu yang dirasa janggal tersebut.
Hal ini malah membuat Tivana menampilkan raut muka jijik. Entah kenapa dia merasa geli dengan sifat dasar manusia yang selalu penasaran. Andai manusia tahu, rasa penasaran berlebih terkadang bisa membawa malapetaka.
Lebih baik tidak tahu apapun dari pada harus terlibat dengan masalah. Iyakan? |
Mendengus pelan, Tivana lalu mengalihkan pandangan. Kali ini menuju kearah tempat bangkai ekor Òsedian. Tidak ada siapapun lagi di sana.
__ADS_1
Ini bagus.
Tak ada yang akan memperhatikan gelagat Tivana.
Bermodalkan sihir yang Tivana pinjam dari Johan, wanita itu kemudian memutar haluan langkah menuju kearah situ. Di lafalkannya sebuah mantra. Hawa dingin di sekitar tubuh menjadi kian tajam. Kabut perlahan tercipta, hal tersebut dibentuk karena udara pada permukaan sekitar mendingin; di bawah kecepatan angin ringan.
"Berterimakasihlah pada Anak-anak, ini pertama dan terakhir kalinya aku menolong mu Òsedian." bisik Tivana datar sembari memandang rendah bangkai ekor suaminya.
Berkat sihir pinjaman, kabut tebal tercipta. Mengaburkan pandangan sekitar kecuali milik Tivana. Itu kenapa wanita ini dapat bertindak tenang setelah beberapa waktu lalu dilanda kepanikan.
Untung saja Johan mau meminjamkan sihir tingkat sedang sekali pakai untuk Tivana tanpa pikir panjang begitu ia meminta.
Kembali lagi kepoint utama, langkah kaki Tivana perlahan melambat seiring pendeknya jarak antara dia dengan bangkai Òsedian. Di tatapnya sejenak. Kabut yang tiba-tiba menebal menarik kepanikan dari warga sekitar.
Suara mereka tampak bingung. Tidak sedikit diantaranya takut. Meliarkan pandangan meski tahu mereka tak akan dapat melihat apapun menggunakan mata mereka.
Baiklah, abaikan itu. Selama beberapa detik wanita yang berada sangat dekat dengan bangkai Òsedian tersebut hanya mampu diam. Sejujurnya ia sangat-sangat enggan.
Untuk apa menolong Òsedian.
Siren itu biadab.
Dia bajingan yang merebut kehidupan manusia mu!
Memporakporandakan dirimu seenak jidatnya.
Mempermainkan lalu menipu mu Tivana!
Sekali lagi.
"Ini semua kulakukan karena anak-anak." monolognya sendiri lalu memotong tali gantung yang mengikat ujung ekor Òsedian menggunakan sihir hingga putus.
Bugh!
Suara benda jatuh kemudian terdengar. Tivana cukup kejam memperlakukan Òsedian, jangan salah—ini semua karena dendam. Tidak lebih.
Usai melihat bangkai ekor milik Òsedian jatuh keatas permukaan pasir, tentakel berwarna ungu gelap muncul di belakang punggung Tivana. Ini salah satu dari beberapa sihir pinjaman yang wanita itu pinjam. Tanpa pikir panjang, benda tersebut bergerak; menuju kearah bangkai Òsedian lalu mengangkatnya.
Waktunya melempar benda ini kembali kedalam lautan, ucap dewi batin Tivana sarkas sambil melanjutkan kaki melenggang pergi dari sana mendekati tepi laut yang berlawanan dengan para manusia.
Suara ombak terdengar. Tivana menunduk. Kaki berlapis sepasang sendal dirasa basah, air laut menyapu pelan kedua ujung kaki dari wanita tersebut. Sebentar terdiam, Tivana lalu melanjutkan langkah—bergerak menuju perairan yang sedikit lebih dalam agar dia bisa berubah bentuk menjadi seekor siren.
Ketika air laut sudah mencapai dada; Tivana menanggalkan semua pakaian, tentakel yang membawa bangkai ekor milik Òsedian lenyap berbarengan dengan wujud Tivana yang perlahan berubah. Kuku tajam, sisik, dan sirip hingga insang bermunculan. Tivana ingin menyelam, namun sebelum itu—dengan setengah hati ia harus meletakkan tangan di atas sirip ekor suaminya. Siapa lagi kalau bukan Òsedian, agar wanita ini bisa membawa makhluk bernotabe sang pasangan tersebut menuju laut dalam atau lebih tepatnya menuju kearah tempat anak-anaknya yang sedang menunggu. Itupun kalau mereka benar-benar menunggu.
Tivana perlu mengecek lagi nanti, siapa tahu salah satu diantara siren muda itu ada yang nekat bergerak mendekati daratan lagi. Terutama siren betina muda, Tivana tidak tahu namanya. Ya wajar karena mereka tak sempat berkenalan.
Persetanlah!
__ADS_1
Lebih baik fokus keapa yang harus ia lakukan saat ini. Yakin sudah memegangi Òsedian dengan benar, Tivana selanjutnya berenang menyelam. Riak air laut terdengar akibat kibasan dari sirip ekornya. Bergerak menuju laut dalam, sihir Johan di atas permukaan sana perlahan menghilang.
Tivana berenang semakin dalam tanpa sedikitpun menoleh kebelakang, dia berenang ketempat terakhir kali dia meninggalkan anak-anak. Sisik yang berwarna pucat kembali memunculkan warna asli. Peach terang. Sangat cantik dengan pesonanya sendiri.
Menjumpai tempat terakhir Tivana meninggalkan dua siren muda itu, dilihatnya sosok tak asing yang kemarin malam lumayan lama merengek meminta tolong kepada sosoknya. Kalau tidak salah nama anak itu Lìan, siren jantan muda yang menurut Tivana bertingkah sangat lucu. Dia menampilkan raut wajah was-was, beberapa detik sebelum menyadari kehadiran Tivana.
Ingin rasanya berucap.
Mamah pulang! Kepada siren muda itu.
Meski Tivana ragu, entah kenapa lidahnya kelu.
"Papa?!" pekikkan kemudian terdengar, menampar pipi Tivana keras hingga menyadarkan dia kembali menuju kenyataan.
Lìan berenang, menggapai ekor Òsedian.
Merampas benda tersebut dari sela jari tangan milik Tivana untuk selanjutnya dipeluk dengan nyaman. Tivana lihat raut kerinduan terpancar dari kedua manik mata siren muda itu.
Perasaan Tivana menjadi kacau, agak tidak suka namun mencoba tetap abai, wanita ini memilih membuang pandangan—mencari sang kakak dari siren jantan muda yang berada di dekatnya meski sayang keberadaan dari sosok yang Tivana cari; nihil.
Tidak ada di sana.
Mengerutkan kening.
Tangan Tivana terangkat membalikkan tubuh Lìan.
"Di mana Kakak mu?!" tanya wanita ini kemudian.
Jangan bilang, yang satu itu benar-benar mendekati daratan. SIAL!
Yang benar saja.
Padahal sudah diperingati, Tivana harap siren betina muda itu tidak tertangkap mata oleh manusia.
...***...
...T B C...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
__ADS_1
...Bye...
...:3...