Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Penguncian


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Ergh—?!" Ana mengerang. Kuku-kuku tajam menancap kuat di area punggung belakang milik Òsedian, meninggalkan jejak kemerahan serta rona memar seperti sebuah cakaran. Kala sesuatu mendesak masuk dengan tidak tahu malu menuju kedalam dirinya, lalu menancap kuat di sana.


Òsedian tampak tidak terganggu dengan hal tersebut, malah dia menampilkan wajah senang berbunga-bunga saat berhasil meloloskan asetnya ke tubuh milik Ana.


"Ah~"


Lega rasanya, benar begitukan Òsedian?


"Aku akan bergerak pelan Ana..." bisik siren jantan tersebut yang sebenarnya Ana sendiri tidak dapat mendengar dan memahami. Dia hanya bisa menurut seperti makhluk bodoh di atas kuasa siren jantan itu; siapa lagi kalau bukan Òsedian—pasangan satu-satunyanya.


Sirip ekor Ana melilit kuat tubuh bagian bawah dari Òsedian, kala dia merasakan siren jantan yang menindih serta menancapkan aset pribadinya pada titik reproduksi betina milik Ana mulai bergerak. Sangat pelan hingga membuat Ana menjadi frustasi.


Entah kenapa siren betina ini merasa kalau Òsedian tengah menggodanya; dengan bergerak lambat. Sialan! Ana tak tahan. Semakin pelan Òsedian 'melakukan' semakin Ana merasa malu dibuatnya.


Ya, meski ada setitik rasa nikmat di situ.|


Rona pipi Ana bahkan berwarna sangat merah, semerah bintang laut yang hidup bebas di lautan.


Ana harap Òsedian bisa bergerak sedikit lebih cepat. Sedikit saja! Atau perlukan Ana memohon kepada Òsedian agar siren jantan yang merupakan pasangannya itu mengabulkan permintaan nista tersebut?


Hah....


Sepertinya iya, dia memang harus begitu.

__ADS_1


Òsedian terlihat sangat fokus dalam menggoda sosok Ana dengan gerakan lambat namun penuh sensualitas yang sangat tinggi dalam menggoyahkan mental dari si empunya tubuh, sampai tidak menyadari bahwa cakaran dari tangan Ana berpindah—membingkai rapat rahang Òsedian lalu menarik semua perhatian dari siren jantan tersebut agar hanya fokus kepada dirinya seorang. Ana.


Makhluk setengah ikan bersisik emerald itu tertegun, wajah Òsedian dibuat semirip mungkin dengan ikan buntal dan pelaku yang membuat Òsedian harus menampilkan wajah lucu tersebut adalah Ana.


Apa yang sekarang siren betina ini coba lakukan?


Gerakan Òsedian tertahan, dia membalas tatapan yang sedang Ana berikan. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh siren betina di hadapan dia sampai-sampai harus membuat seluruh fokus Òsedian hanya tertuju padanya.


Ana menarik turun kepala Òsedian, memberikan ciuman lembut sebelum berkata.


"Ku mohon.... ber-gerak Lah~ lebih cep-at Òsedian." ucapnya, berhasil menghilangkan kewarasan dari siren jantan tersebut.


Òsedian mengulum senyum seringai lebar miliknya. Sudah untung bagi makhluk setengah ikan ini berhasil membujuk Ana untuk kawin, siapa sangka Ana malah memohon padanya untuk bergerak lebih cepat. Rupanya saran dari Ilda yang harus menjadi lemah lembut dalam ber-cinta itu tidak perlu, karena nyatanya tubuh Ana menginginkan lebih—yang mampu membawanya kedalam satu kali entakan penuh kenikmatan.


Mungkin karena beberapa kali mereka sudah pernah melakukan kawin secara kasar makanya tubuh Ana tidak terbiasa dengan gerakan lambat. Itu bagus, bagus untuk Òsedian yang jujur saja suka melakukan kawin dengan gerakan—ehm! Cepat. Lebih terasa nikmat, ujarnya.


"Argh-! Erghh?!" rintihan dari siren betina ini terdengar menggema, wajahnya benar-benar gila. Seksi bukan main. Rambut Ana bahkan dibuat berantakan kesana kemari, jejak saliva melebar kemana-mana. Bayangkan saja seberapa brutalnya Òsedian bermain di atas tubuh Ana.


Kacau! Sangat kacau!


Seperti makhluk tidak bermoral. |


Entah sudah berapa lama keduanya hanyut dalam kegiatan penuh cinta mereka, sampai-sampai—jika diperhatikan dengan baik kalian bisa melihat pantulan bentuk hati tepat di atas permukaan manik mata milik Ana. Menunjukan kalau siren betina ini sudah dibuat mabuk kepayang.


Òsedian yang tak bosan-bosan menggempur habis sosok Ana kembali menaburkan benihnya. Kalau tidak salah ini sudah yang kelima kalinya siren jantan tersebut 'datang' lalu menyemburkan cairan yang diproduksi oleh alat kebanggan miliknya.


Ana tersentak, kaget bukan kepalang.


"Argh!!!" dia meringis sakit. Apa yang terjadi?! Batinnya merasakan alat vital Òsedian membesar, mengunci bagian dalam milik Ana. Apabila bergerak sedikit saja siren betina ini akan merasakan rasa sakit seperti tengah dirobek tepat di area sana.


Berbanding terbalik dengan sosok Ana, Òsedian malah terlihat biasa-biasa saja. Dia menikmati seluruh benihnya dalam jumlah tak wajar melengos masuk kedalam rahim Ana. Andai kata Òsedian tidak mendengar isak tangis dari pasangannya mungkin dia akan memilih mengabaikan Ana untuk sementara waktu, karena sekarang mereka sedang berada di moment puncak.


"Hiks!"


"Stttt!!! Jangan menangis Ana..." ucap Òsedian berniat menenangkan.


Siren betina tersebut menggeleng, dia kemudian merengek dengan wajah sedihnya.


"Lepas! Sakit?!" Berupaya mendorong tubuh Òsedian agar menjauh, tapi malah menciptakan rasa sakit luar biasa melebihi tadi.


"AAAAARGHH!" Ana memekik, wajahnya banjir akan linangan air mata.


Kenapa?! Dewi batinnya bertanya. Kenapa milik Òsedian seperti tertancap mati di dalam tubuhnya?!


"Shhh! Sssshhhh!" Òsedian menenangkan Ana dengan panik. Dia mencoba membuat siren betina ini untuk berhenti mendorong atau mereka berdua akan terluka.

__ADS_1


"Hentikan Ana, kau akan menyakiti dirimu." ucap Òsedian kemudian. Dia mengecup pelan area bawah kelopak mata, menyapu jejak-jejak air mata dengan cara menjilatnya; harap-harap bisa membuat Ana berhenti menangis.


Siren betina itu menurut perlahan mencoba menjadi sedikit lebih tenang. Òsedian tersenyum, anak pintar.


"Ini hal yang wajar untuk dilakukan Ana." terang siren bersisik emerald tersebut tiba-tiba. Meski sebenarnya tidak terlalu berguna, percayalah rasa sakitnya membuat Ana tidak dapat berpikir dengan jernih lagi. Wajar?! Bagian mananya yang bisa disebut wajar?! Persetan terhadap penjelasan yang coba Òsedian ucapkan.


"Sakit!" sarkas Ana. Tak lagi menangis, dia mulai merasa kesal. Lelah. Apa yang wajar!


Memilih menjambak surai-surai milik Òsedian. Si empunya rambut hanya bisa terkekeh hambar. Ana menyalurkan rasa sakitnya.


Sebelah itu tangan Òsedian pun terangkat, bergerak menuju area bawah perut Ana lalu menekan tepat di situ.


"Ah!" spontan Ana men-des-ah.


"Milik ku sedang membengkak di sini," monolog Òsedian, gantung. Dia tersenyum manis sedikit menyeringai.


"Menancap kuat pada milik mu Ana, itu terjadi untuk membantu mempercepat proses kehamilan dengan mencegah setetes pun (benih ku) agar tidak keluar dari sini." ucapnya menunjuk area rahim Ana.


Demi apapun, siren betina ini nyaris tidak peduli.


"Tenang saja, 'penguncian' biasa berlangsung paling sebentar adalah selama 12 jam."


Itu bukan kabar bagus. Ana mulai kewalahan. Sakit di mana-mana dengan Òsedian yang entah bermonolog apa sedari tadi. Ana tak bisa fokus, sial kesadarannya melayang.


"Jadi kau bisa tidur dulu Ana."


Dan seperti terhipnotis. Kedua kelopak mata yang menjadi sangat berat perlahan terpejam. Òsedian lagi-lagi terkekeh lucu dibuatnya.


Ana tertidur begitu saja.


Òsedian lalu mengecup pelan kening Ana.


"Selamat tidur~" bisik makhluk setengah ikan tersebut sembari ikut terlelap dengan wajah damai.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2