
..._______________________...
...J o h a n...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Anak?
Apa mereka anak-anakku?
"Hosh..." Lagi-lagi pikiran tersebut muncul, berseliweran di dalam kepala; membuat Tivana kembali melenguhkan napas panjang. Kepala wanita itu pusing. Menggesar piring bekas makan siang, Tivana lalu mendongak—menatap dalam langit-langit ruangan dengan pikiran yang sebenarnya sedang tidak karuan rasa.
"HUH!"
Kesal. Dia kesal dengan dirinya yang tak bisa melupakan percakapan kemarin malam dengan para siren muda, padahal sekarang sudah lewat berjam-jam. Tidak mungkinkan kedua bocah (siren) itu masih menunggu di tempat terakhir mereka bicara hanya karena Tivana menyuruh mereka menunggu di sana. Sial! Wanita ini benar-benar kepikiran.
Selain dugaan soal kedua siren muda itu adalah anak-anaknya, Tivana juga merasa khawatir. Siapa tahu, mereka merasa bosan menunggu lalu nekat mendekati bibir pantai. Buruknya lagi, bisa jadi mereka berdua malah tertangkap manusia kemudian di jadikan tontonan sama seperti suaminya. Heh! Agak geli saat menyebut bangkai ikan yang hanya tersisa setengah, ehm?! Òsedian sebagai suami.
Suami?
Tch!
Sungguh! Tak sudi rasanya menyebut makhluk itu sebagai pasangan yang datang karena ditakdirkan, meski sudah lewat 6 tahun lamanya . Dendam dalam hati tidak akan mudah untuk dipadamkan, seperti layaknya bunga kematian; yang dapat hidup di atas tumpukan mayat.
Sekadar umpama. |
Tiap ada celah kebencian akan selalu tumbuh dihati dan juga pikiran tak peduli apapun medianya. Wanita ini masih tidak bisa benar-benar menerima apa yang sudah menjadi takdir dia. Bukan berarti membenci Tuhan, hanya saja—dia merasa dengki kepada Òsedian yang merampas segalanya. Ya walau merenung soal itu saat ini sudah tiada guna, apa yang terjadi biarlah terjadi.
Kembali kefokus awal tadi.
Tivana meletakan punggung tangan sebelah kiri menuju wajah, menutupi separuh pandangan dari cahaya lampu dapur yang lupa ia matikan pagi tadi. Padahal sudah 2 kali dia memasak di dapur, tetap saja lupa. Pikiran terlalu kalut. Sulit mencerna dengan baik apa yang sudah terjadi, serta sulit untuk menentukan tindakan macam apa yang harus dilakukan ia saat ini.
Jika benar-benar kedua bocah itu adalah anak-anaknya, mungkin Tivana akan merasa sangat menyesal seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa kedua siren muda itu. Di lain sisi Tivana merasa enggan memenuhi janji; menyentuh bangkai Òsedian (menolong),lalu mengembalikan separuh tubuh itu menuju kedalam lautan. Siapa tahu apa yang akan terjadi seusai wanita ini melakukan hal tersebut, iyakan?
Meski sebenarnya Tivana yakin kalau Òsedian sudah mati.
Bingung mencari kebenaran, wajah Johan—si gurita tiba-tiba muncul. Membuat Tivana tersentak. Benar! Pikir dia dalam hati.
Setidaknya Johan pasti tahu sesuatu lebih dari pada dia. Ini soal lautan, satu dua sihir makhluk itu pasti berguna untuk menggali informasi agar bisa ditelaah. Mencoba bertanya dulu tidak akan memperburuk situasi. Lebih banyak kemungkinan lebih baik.
__ADS_1
Mari Tivana ingat, bagaimana cara wanita tersebut dapat menghubungi teman guritanya. Kalau tidak salah Johan pernah menunjukan semacam cara.
Cukup pikirkan wajah lelaki bertentakel itu lalu panggil nama dia selama 5 menit. Baiklah! Mari mencobanya.
"J o h a n ."
Fush~
Butiran seperti pasir berwarna gelap tiba-tiba muncul; membentuk seperti sebuah lingkaran lalu memunculkan pantulan wajah lelaki yang baru saja Tivana panggil.
Ajaib, ucap dewi batin milik wanita tersebut.
"Lama tidak bertemu, Tivana..." sapa Johan datar sambil menampilkan raut wajah yang sedikit kesal?
Ada apa dengan gurita ini? |
...***...
"Kau menghubungiku di saat yang kurang tepat." sarkas dia. Membuat kening Tivana berkerut, apa salah ku? Sanggah dewi batin wanita itu. Dia ingat Johan pernah berkata, 'jangan sungkan menghubungiku jika terjadi sesuatu Tivana' ucap gurita tersebut dengan mantap.
Ikut mendengus kesal, Tivana menarik sudut bibir jengkel—sembari berkata.
"Maaf jika aku mengganggu waktu mu Gurita!" Tak kalah sarkas, Tivana menumpu sebelah wajah dengan tangannya di atas meja makan. Cermin pasir itu otomatis mengikuti apa yang sudah Tivana lakukan. Benar-benar portable yah? Andai Handphone sekarang sepraktis sihir milik Johan.
"Lalu? Ada keperluan apa kau menghubungiku Tivana?" ucap Johan langsung setelah merotasi kedua bola matanya.
Tivana yang mendengar ingin kembali buka suara, namun perkataan yang harusnya keluar dari mulut tiba-tiba tertahan; tatkala dia mendengar suara lirih yang sangat familiar memanggil namanya.
"Tiva-Ana?"
Degh?!
Itu suara Rachel. Berwajah masam, wanita tersebut mengembalikan posisi menjadi tegak sambil menajamkan penglihatan juga pendengaran.
"Rachel? Apa yang kau lakukan pada dia Johan?!" pekik Tivana saat dia berhasil mendapati wujud sang sahabat yang terkulai lemas di atas ranjang tanpa busana.
Johan mendecih. Sosok bengis muncul, lelaki tersebut langsung berpindah tempat menggunakan sihir agar Tivana tidak dapat menganalisis situasi yang sedang menimpa Rachel.
"Bukan urusan mu." Cuma itu yang dikatakan lelaki itu. Membuat Tivana menghela napas gusar seraya melemaskan kedua pundak tepat disandaran kursi meja makan.
"Katakan saja apa keperluan mu Tivana, jangan coba-coba ikut campur dengan wanita ku." ucap dia lagi yang berhasil menarik dengusan kasar dari arah mulut Tivana.
Wanita ku katanya? Yang benar saja?!
Tivana tahu kalau Johan memiliki rasa pada sahabatnya saat mereka masih duduk di bangku kuliah, hanya saja? Tivana tidak mengira kalau teman lelaki yang menurut dia baik bisa berprilaku seperti bajingan.
__ADS_1
Memijit kepala yang semakin pening. Tivana mencoba menata isi dalam pikiran serta logika yang ia miliki lagi. Menarik napas panjang lalu mengembuskannya.
"Fush..."
"Kumohon jangan sakiti dia (Rachel) Johan, jika kau benar-benar ingin menunjukan jati diri mu karena tidak tahan dengan cinta yang semakin dalam—bertingkahlah layaknya makhluk beradab dan perlakukan dia dengan baik. Ini bukan saran, tapi peringatan langsung dariku. Jangan buat dia membencimu." ucap Tivana tenang dengan manik mata berkilat tajam.
Johan tidak menyela, wujud tak ramah dari mahkluk tersebut mengendur.
"Tentu saja, terima kasih atas 'saran' mu Tivana."
Melihat itu, membuat Tivana sedikit berharap. Jika teman guritanya ini tidak sebajingan sosok yang ia kenal; Òsedian. Hanya karena ingin mengikat seseorang lalu menghalalkan segala cara.
Cinta tidak sekotor itu.
"Jadi apa yang bisa aku bantu untukmu Tivana?" tanya Johan, mengembalikan pikiran serta niat awal milik Tivana.
Dia perlu berbincang dengan gurita ini.
Soal lautan.
Apa yang terjadi selama 6 tahun kebelakang? Apa yang tidak Tivana ketahui.
Dia ingin tahu.
Termasuk juga soal kedua siren muda yang wanita ini duga–sebagai anak-anaknya.
Barangkali Johan tahu. Ya-kan? |
...***...
...T b c...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
...Bye...
...:3...
__ADS_1