Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Pembantaian


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


BADUM!


Dentuman keras terdengar, dibarengi dengan guncangan hebat. Hal ini membuat Òsedian cepat-cepat beranjak dari sana, ia yakin suara gaduh tersebut tidak lain berasal dari arah Teluk. Dengan hati yang panik—Òsedian berdoa, semoga saja semua yang ada di Teluk baik-baik saja.


"Terus waspada!" teriak siren itu kemudian. Menghimbau seluruh siren jantan yang berada di dalam rombongan agar tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaan serta kepekaan mereka terhadap sekitar.


Mengikuti kemana sang Alpha pergi, kesitu-lah mereka pergi. Jika dilihat baik-baik mereka seperti para ikan tuna yang selalu bergerak bergerombol; guna untuk mempertahankan hidup.


Ya setidaknya sampai pemandangan mengerikan memasuki retina mata milik Òsedian. Hal ini menyebabkan sang Alpha tersebut menjadi terdiam—berhenti berenang, membatu di tempat dengan tatapan tak percaya sama seperti yang lainnya.


"A... a?" Bibir Lötus terbuka, suaranya bergetar.


"A-apa yang terjadi?" terus siren jantan itu.


Glek!


Sama-sama berusaha menelan saliva kasar. Tak ada satupun yang berani untuk berkedip tatkala manik mata mereka disambut oleh banyaknya bangkai dari para siren tepat di depan sana—tentu dengan wujud paling mengenaskan yang dapat kalian bayangkan.


Mereka semua adalah rombongan paling depan, batin Bèan berusaha tetap tenang. Jangan sampai hanya karena ini semua mental menjadi hancur. Melirik kecil, Bèan ingin melihat wajah seperti apa yang saat ini Òsedian tunjukan.


Sebagai seorang Alpha. |


Degh!


Ya, meski Bèan sedikit menyesal ketika melihatnya. Òsedian benar-benar tampak sangat marah, namun masih mencoba untuk tenang semampunya.


Saat ini mengamuk secara brutal hanya karena matinya beberapa rekan serta teman tidak akan memberikan sebuah jawaban. Yang ada malah hanya akan menjadi bumerang bagi Òsedian serta kelompok yang ia pimpin.


Setidaknya sebelum mereka tahu, jenis musuh seperti apa yang dengan kurang ajarnya berani melakukan pembantaian itu.


Òsedian berjanji, dia akan membalas hal serupa 5 kali lipat dari pada ini.


Tunggu saja!

__ADS_1


Nanti. |


Bergerak mengitari sekitar dengan manik mata super tajam, Òsedian mulai sadar—pandangan mata miliknya menjadi terbatas.


"Ini sihir." desis siren jantan bernotabe sebagai Alpha tersebut.


Lötus dan Bèan sependapat, mereka setuju kalau ada sihir yang sedang mengelilingi area sekitar. Memberi isyarat kepada siren lainnya di belakang mereka untuk merubah posisi siaga menjadi siap menyerang. Semua tampak menggeram, taring dan cakar terlihat tampil dengan sangat menyeramkan.


Aroma tajam menyeruak, tidak salah lagi. Sumber kekacauan yang sedang terjadi; berasal dari—


"Mermaid."


Gerombolan mermaid dengan jumlah banyak bermunculan entah dari mana, ada yang berkamuflase dengan pasir laut di dalam kabut—ada juga yang bersembunyi di belakang tebing dekat terumbu karang; beberapa meter tak jauh dari para siren berada.


Tch!


Sial! Òsedian mendecih. Mereka yang mendapat serangan kejutan mau tidak mau harus saling mempertahankan diri masing-masing. Tanpa formasi menyerang serta pertahanan yang sangat kacau.


Dalam hati, Òsedian bertanya.


Bagaimana ini bisa terjadi?!


...***...


Bersama wajah kelelahan, pertanyaan yang sama kembali terulang. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana?!


Rombongan pemburu yang tidak lebih berjumlah 45 siren (tidak dihitung dengan 10 siren dari barisan depan yang sudah dibantai) tersebut berjuang mati-matian untuk bertahan.


"Lötus! Kirim sinyal darurat ke Teluk!" teriak Òsedian, memerintah—disela kegiatan merobek ganas perut para mermaid yang terus menyerang dirinya.


Tak mau berputus asa, Lötus segera memutar otak. Di antara semua siren yang ada di Teluk—siapa kira-kira siren yang memiliki tingkat kepekaan terhadap sinyal darurat lebih dari pada siapapun selain dia.


Ah!


Ia tahu, siapa lagi kalau bukan—pasangannya. Rivàn.


Mencoba kembali memberi sinyal dengan dorongan kuat agar bisa menerobos atmosfer aneh yang Lötus duga adalah sihir penghalang. Benar saja! Dia tersambung walau dengan usaha yang luar biasa besar.


Tanpa membuang waktu, Lötus langsung berkata.


Segerombolan Mermaid menyerang!


Melalui sinyal darurat yang bertahan tidak lebih dari 15 detik saja. Setidaknya, ia berhasil memberikan kabar tersebut dan semoga saja Rivàn dapat mencerna dengan baik lalu menyampaikan kalimat itu kepada para siren lain agar mereka bisa bersiaga.


Sebelum semuanya terlambat. |


.


.


.


.


.

__ADS_1


"Hosh... hosh..." hela napas Òsedian terdengar, kacau. Manik mata siren tersebut terlihat sangat lelah. Sama halnya para siren jantan lain yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Alpha mereka.


Tubuh penuh luka. |


Sulit untuk menyembuhkan diri karena serangan mermaid yang mengandung sihir memperlambat proses regenerasi sel yang ada ditubuh Siren, tapi tak apa.


Bukan itu point utamanya untuk saat ini. Terkekeh ringan, sudut bibir para siren berkedut senang.


"Argghhh!!!!" teriak mereka kompak, menyerukan kemenangan. Tak ada satupun lagi mermaid di sana, semua dibantai habis oleh mereka—lebih lagi berkat Òsedian situasi tidak menjadi berat sebelah. Beberapa mermaid bahkan dibuat kabur.


Tidak ingin larut terlalu lama dengan suasana, Òsedian membuka lebar celah bibirnya. Dia kemudian berkata.


"Bergerak!" Yang langsung mendapatkan anggukan paham dari para siren yang berada di dalam rombongan. Memimpin jalan, Òsedian berenang dengan kecepatan tinggi.


Mereka harus sampai, secepatnya menuju Teluk.


...***...


Ana menoleh, arus laut dari kabut yang menelan Teluk tidak lagi terasa. Hal ini membuat siren betina tersebut dengan berani menilik. Mencari tahu kondisi di luar sarang melalui celah tirai dari padang lamun yang ia buat.


Hanya ada kabut.


Jarak pandang luar biasa milik Ana terhalangi. Jelas itu aneh, mengingat para siren mempunyai indra penglihatan super tajam disegala kondisi. Mau segelap apapun sekitar, siren pasti masih bisa melihat dengan radius paling pendek adalah 50 meter. Mencoba membau.


Ana mengganti indranya kehidung agar ia bisa mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar sana meski berakhir nihil. Tidak mendapatkan sesuatu.


Haruskah siren betina ini keluar? Keheningan janggal yang tercipta membuat rasa penasaran mendominasi.


Sebelum insting mempengaruhi Ana, Ilda langsung meletakkan tangan dipundak siren itu.


Ana tersentak, menoleh cepat dengan bibir yang terkunci rapat.


Ilda mengetahui apa yang siren betina di sampingnya ini ingin lakukan, dia lantas menggeleng; kuat dengan mata melotot.


Jangan coba-coba untuk keluar dari sini!


Terbaca dari raut muka Ilda. Menarik Ana agar menjauh dari situ dengan sangat erat. Jangan sampai betina satu ini melakukan tindakan gegabah yang akan membahayakan dirinya sendiri.


Sekali lagi—


JANGAN SAMPAI!


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2