
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Suasana laut yang ada di Teluk benar-benar terasa sangat suram. Tak ada satu siren betina pun yang berani keluar dari tempat persembunyian saat para siren jantan sibuk dengan nyanyian mereka. Begitu juga dengan Ana, berdiam diri sembari mencoba memahami sedikit demi sedikit apa yang sedang terjadi.
Meski tidak bisa menduga secara pasti Ana rasa jika berkaitan dengan sang Alpha maka itu jelas bukan masalah yang sepele. Bahkan sampai-sampai membuat seluruh siren jantan tergerak—menyanyikan sebuah lagu yang Ana sendiri tidak paham makna dari nyanyian tersebut.
Hitungan jam bukanlah waktu yang sebentar, puas bergelut dengan pikiran; Ana hanya dapat menemukan satu dugaan yang menurut dia mungkin saja benar untuk menjelaskan semua situasi ini. Tapi siren betina itu rasa dia enggan untuk menyebutkannya sebelum dia benar-benar mendapatkan informasi yang jelas serta langsung keluar dari dalam mulut Òsedian.
Deg!
Tubuh Ana menegak, tatkala mendapati sosok siren jantan yang berlebel sebagai pasangannya baru saja keluar dari dalam gua tempat Bàba tinggal. Di susul beberapa siren jantan lainnya, tepat di belakang punggung Òsedian. Hal ini membuat para siren betina menilik, meski dari kejauhan—dengan wajah yang tampak enggan untuk mendekat saat mereka tahu bahwa para jantan sedang menampilkan raut muka suram.
Ana tidak suka ini. Dia tidak suka dengan atmosfer aneh yang sedang tercipta di sini. Apa lagi saat dirinya melihat manik mata Òsedian yang tampak kehilangan cahaya kehidupan.
Argh! Persetan!
__ADS_1
Dengan secuil keberanian, Ana lantas keluar dari tempat tinggalnya. Berenang cepat menuju kearah Òsedian berada.
Dia tahu, kalau saat ini siren jantan itu tengah dilanda kesedihan dan satu hal menurut Ana yang dapat meredakan kesedihan tersebut adalah sebuah pelukan. Seperti yang biasa Òsedian lakukan ketika siren betina ini menangis.
Ana merentangkan lebar kedua tangannya, ketika dia benar-benar berada cukup dekat dengan sosok Òsedian. Lalu tanpa ba bi bu siren betina itu langsung memeluk Òsedian, menenggelamkan wajah tersebut di antara dua gundukan yang berada di dadanya.
Jelas ini membuat banyak pasang mata yang ada di sana menegang. Bisa-bisanya ada siren betina yang melakukan hal bodoh tersebut kepada Òsedian.
Mereka takut, Òsedian saat ini berada pada emosi yang sangat tidak stabil—dia mungkin akan mengamuk secara tiba-tiba. Belum lama setelah dia menyaksikan Bàba terpejam untuk selamanya, sudah ada yang mencoba memantik amarahnya. Ya meski perkiraan tersebut hanya menjadi sebuah pemikiran semu belaka, kala mereka malah melihat Òsedian membalas pelukan milik Ana lalu menangis meraung tepat di depan sana.
"ARGHHHHHHHHH—!!!!!"
Para siren betina tergetar, mereka berbondong-bondong keluar dari persembunyian lalu berenang menuju pasangan mereka. Melakukan hal yang sama seperti yang Ana lakukan; memberikan sebuah pelukan.
Kemudian apa yang terjadi setelah itu? Suasana laut yang suram kembali di-isi oleh kegaduhan. Bukan dari sebuah nyanyian, tapi dari tangisan pilu para siren jantan yang kehilangan figur dari sosok ayah mereka.
Akhirnya Ana mengerti. Ternyata Bàba telah pergi.
...***...
"Huh~" Ana melenguhkan napas keras. Memikirkan itu membuat siren betina ini merasa sedikit cemburu, pada apa? Pada pekerjaan yang Òsedian lakukan. Semua waktu hanya dicurahkan kesana, meninggalkan sosok Ana yang hanya mampu berdiam diri di dalam sarang sambil menunggu kepulangan dari kekasihnya tersebut. Òsedian.
"Ana?!" panggilan terdengar dari arah bawah, sang pemilik nama mengeluarkan setengah badan dari sarang; tempat tinggalnya. Ada siren betina bersisik ungu tengah melambai kearah Ana.
Kalau tidak salah namanya Rivàn, teman yang beberapa waktu lalu Ana kenal karena dia merasa bosan sendirian di dalam sarang.
"Ya?" beo Ana. Rivàn melambai lagi, meminta Ana untuk mendekati dirinya.
Lantas siren bersisik serupa warna buah persik tersebut keluar—berenang menuju kearah sosok Rivàn.
"Ada apa Rivàn?" ulang Ana kembali, menanyakan maksud dari siren betina itu yang memanggil dirinya.
Rivàn menarik tangan Ana, menggenggamnya erat layaknya seorang sahabat. Siren betina tersebut lalu berkata.
"Ana, kapan terakhir kali kau mengambil napas?" tanya dia, sembari menunjuk kearah atas. Ana mendongak, dia menantap apa yang Rivàn tunjuk.
__ADS_1
Permukaan?
Apa maksudnya? Tanya dewi batin milik Ana. Mengambil napas? Bukankah setiap saat? Untuk apa insang yang terpajang di area tulang selangka mereka kalau tidak di gunakan untuk bernapas?
Tunggu—! Apa jangan-jangan? Maksud dari perkataan Rivàn tersebut adalah mengambil oksigen secara langsung di daratan?
"Apa kita mamalia?" gumam Ana tanpa sadar, mencurahkan isi pikirannya dengan sebuah kalimat tanya. Ini merujuk kearah sistem pernapasan ikan yang bukan ikan, seperti ikan paus ataupun lumba-lumba; mereka tergolong kedalam jenis hewan pada kelas mamalia. Percaya atau tidak, saat ini kening Ana sedang berkerut dengan pikiran berkecamuk.
Sama halnya dengan sosok Ana, Rivàn yang mendengar gumaman pelan dari arah mulut siren betina tersebut dibuat bingung. Dia lantas berkata begini pada Ana.
"Mamalia? Apa itu? Aku tidak mengerti dengan ucapan mu Ana." ujarnya. Jelas sekali membuat Ana terdiam seribu bahasa.
Mamalia, kau tahu—? ARGH! Lupakan sajalah.
Kepala Ana tiba-tiba merasakan sakit, dengan dengungan aneh yang terdengar dikedua genda telinga. Ana rasa pikirannya menjadi tumpang tindih seketika. Rivàn yang jelas tidak tahu menahu, kembali bertanya.
"Kau baik-baik saja Ana?" Lebih memilih menanyakan keadaan Ana yang tiba-tiba menjadi pucat. Ana mengangguk, dia bergumam sangat pelan menyebutkan 'aku baik-baik saja' pada Rivàn.
Berusaha mengontrol mimik wajah, Ana menampilkan raut muka terbaiknya. Siren betina itu lalu mencoba mengikuti arus percakapan yang Rivàn lakukan tadi. Jika terkait naik kedaratan, Ana sampai detik ini belum pernah melakukannya; seingat dia setelah kehilangan ingatannya. Jadi jawab saja kalau ia lupa, kapan terakhir kali ia mengambil napas.
Mendengar hal tersebut, rona muka Rivàn berubah; menjadi berbinar-binar. Dia mendekat menuju kearah sirip daun telinga milik Ana lalu berbisik.
"Mau coba mengambil napas denganku?" ajak dia, menuju daratan.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...