Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Pengkhianat


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


Ana menepis, dia berhasil lepas dari jeratan tangan milik Ilda. Siren betina itu lalu berkata—


"Siapa kau?!" dengan lantang, mengeluarkan apa yang terbesit di dalam pikirannya soal mermaid tersebut. Dia jelas adalah Ilda tapi ia tidak seperti sosok Ilda yang Ana kenal.


Menanggapi respon dari Ana, Ilda tampak tersentak kecil—dia tak menyangka siren betina satu ini tidak segan-segan mengeluarkan aura permusuhan yang begitu besar pada dirinya. Bahkan sampai mendesis geram.


Itu lucu, batin Ilda sembari terkekeh sumbang. Ia lalu menunduk; ala kesatria dengan wajah tenang yang sulit untuk dibaca.


"Maafkan aku..." senyum seringai muncul. Jelas sekali permintaan maaf yang diucapkan Ilda tersebut tidaklah tulus, lebih kearah main-main. Menilik sedikit dengan mengangkat manik matanya keatas, Ilda melanjutkan kembali perkataannya.


"Aku sudah melakukan tindakan tidak sopan pada mu Lady..."


Yang menimbulkan tanda tanya besar tepat di atas kepala Ana. Apa yang terjadi pada Ilda? Mengapa dia berubah—menjadi sangat aneh?


Lady katanya? Istilah asing yang terasa familiar serta akrab ditelinga Ana. Istilah itu umumnya digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada seseorang, atau lebih tepatnya kepada wanita. Di mana Ana pernah mendengar ungkapan tersebut? Entahlah! Ia tidak begitu ingat tapi agaknya kata wanita yang muncul dikepala Ana bisa diasumsikan sebagai betina; agar lebih mudah untuk memahami.


Tak mendapatkan balasan apapun dari betina di depannya Ilda memutuskan untuk berhenti menunduk. Dia ingin melihat sosok Ana lebih jelas lagi dengan kedua manik mata merahnya, meski hal tersebut berhasil menarik sikap waspada super ekstra dari objek di depan sana. Ilda tak masalah, toh! Di mata dia Ana malah terlihat sangat lucu. Alih-alih menakutkan. Ha-ha.


Tanpa sadar Ilda tertawa, kecil.


Hal ini membuat kening Ana mengerut, apa lagi yang terjadi pada sosok Ilda? Dia benar-benar terlihat sangat asing. Tidak salah siren betina tersebut mengajukan pertanyaan soal 'siapa kau?!' kepada mermaid itu. Kemana perginya sosok Ilda yang biasanya? Atau lebih tepat 'kemana Ilda yang asli berada?'—ini bukan sekadar pemikiran kosong, tapi Ana merasa Ilda seperti tengah dirasuki oleh seseorang. Setelah dia berhasil menganalisis dengan baik apa yang sudah terjadi pada mermaid itu dan Ana baru menyadari saat dia ingat manik mata sebenarnya dari Ilda bukanlah merah, melainkan biru.

__ADS_1


Dan jawaban paling masuk akal adalah ada orang lain yang mengambil alih tubuh Ilda, entah bagaimana caranya tapi satu yang pasti—ada keterlibatan sihir di sini. Akhirnya Ana sadar, mengapa pandangan miliknya menjadi sangat terbatas. Òsedian pernah berkata musuh alamiah dari siren itu sendiri adalah mermaid, mereka makhluk setengah ikan yang diberkati oleh kemampuan khusus bernama sihir. Mereka bisa menciptakan apapun bahkan api di bawah laut seperti layaknya gunung merapi aktif yang ada di dasar lautan. Apa saja akan mereka lakukan selama itu dapat memperdaya para siren lalu membinasakannya. Terdengar mengerikan bukan?


Simulasi perang yang dapat Ana pikirkan hanyalah—KARANTINA. Agak aneh jika menggunakan istilah itu tapi maksud karantina di sini adalah membuat para siren tetap terjaga (tidak bisa keluar dari Teluk) menggunakan tudung kabut yang Ana duga sudah di lapisi oleh sihir. Lalu tinggal menghabisi mereka dengan teknik gerilya. Sempurna, menciptakan perang tanpa perlawanan—atau mungkin lebih kearah? Pembantaian secara sepihak.


Persetan!


Terlalu banyak lubang kosong disetiap bagian (tanda tanya) Ana tidak bisa mengambil kesimpulan secara tepat selain hipotesis dia yang di atas.


Kira-kira, bagaimana para mermaid itu bisa—?


"Kau melamun~"


Degh!


Ana tersentak, jemari kecil menyentil pelan ujung hidungnya. Menarik paksa kesadaran akan dunia nyata.


Bergerak mundur, dewi batin Ana berteriak dalam hati. Mempertanyakan sejak kapan sosok Ilda berada sangat dekat dengan dirinya, bahkan tinggal sejengkal saja Ana rasa Ilda pasti sudah dapat memiliki kesempatan untuk mencium wajah dari siren betina itu.


Reaksi konyol yang Ana tunjukkan kembali membuat Ilda tertawa. Sial! Batinnya, merasa tergelitik.


Dia jadi benar-benar ingin memiliki Ana.


Untuk dirinya. |


...***...


Itu yang Ana rasakan ketika pertama kali mendengar Ilda tertawa lantang dengan nada yang sumbang. Sekali lagi, Ana merinding.


Ia akui bahwa tadi ia lengah, bisa-bisanya Ana melamun memikirkan berbagai spekulasi ditengah situasi tidak jelas ini. Jelas apa yang siren betina tersebut lakukan sangatlah berbahaya, dia belum bisa mendapatkan motif; sebab-akibat atau apapun sebutannya soal para mermaid yang sedang menyerang.


Menggigit pipi bagian dalam, Ana kesal. Dia merasa seperti makhluk bodoh di hadapan sosok Ilda.


Menyudahi tawa. Ilda kembali menyeka surai rambutnya dengan sela jari tangan. Berbanding terbalik dengan Ana yang terlihat linglung; tak tahu harus berbuat apa selain diam seperti batu. Meski didetik selanjutnya siren betina itu akhirnya memilih memberanikan diri dengan wajah setenang mungkin.


"Siapa kau?" tanya Ana lagi, mengulangi apa yang sempat ia tanyakan. Tidak sampai di situ saja, siren betina ini kembali melontarkan pertanyaan lain.


"Di mana Ilda?" ucapnya bernada tanya yang berhasil menarik sudut bibir Ilda naik keatas dengan sangat lebar. Mermaid itu tersenyum; sedikit mencemooh—pada Ana.


Bibirnya lalu terbuka.


"Tentu saja~ Ini aku, Ana..." sahut dia, mencubit keras logika dari siren betina itu soal Ilda yang tengah dirasuki oleh sesuatu. Benarkah? Beo Ana dalam hatinya.


Mulai beranggapan kalau sosok yang ada di depan sana mungkin saja adalah wujud asli dari Ilda yang SEBENARNYA.

__ADS_1


Deg?


Pengkhianat?


Jantung Ana berdetak sangat cepat. Dia menggeleng, tidak mungkin?! TIDAK MUNGKIN!


Tidak mungkin Ilda sengaja, memanfaatkan Òsedian selama ini guna mewujudkan impian miliknya yaitu—pembantaian bangsa siren.


Prinsip dasar mermaid. Menguasai lautan dan menjadi satu-satunya makhluk paling mulia. |


Tid—!


Tapi wajah Ilda terlalu meyakinkan.


Perasaan marah tiba-tiba muncul, menggerogoti jiwa Ana. Dengan raut muka penuh amarah, dalam hitungan detik Ana sudah berenang menyambar leher Ilda dengan hati yang sakit. Siren betina tersebut jelas merasa kecewa.


"PADAHAL AKU PERCAYA PADA MU ILDA?!" teriak Ana, geram. Mencekik kuat sosok Ilda yang sama sekali tidak melawan.


"PADAHAL ÒSEDIAN JUGA PERCAYA PADA MU! TAPI APA?! KAU MALAH MEMBALASNYA DENGAN KEHANCURAN. BISA-BISANYA KAU—!"


"Prince... semua Siren yang ada di Teluk sudah MATI, waktunya kita kembali."


Hah?


Ucapan di luar sarang tersebut berhasil melemahkan nadi Ana. Apa? Batinnya, kosong.


M a t i ? |


Ana tidak salah dengar, iyakan?


...***...


...T B C...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2