
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Hosh... hosh... hosh..." deru napas Ana terdengar sangat keras dan tidak beraturan. Wajah siren betina tersebut terlihat sangat lelah, hanya mampu bersandar di pojok sana. Dia berusaha mati-matian agar bisa mempertahankan kesadaran miliknya, sosok Rivàn berada tepat di samping tubuh Ana—seraya membalas genggaman erat tangan dari siren betina itu.
"Bertahanlah Ana..." ucap Rivàn, berupaya meneguhkan keyakinan Ana bahwa dia pasti bisa melaluinya. Siren betina dengan sisik berwarna serupa buah persik tersebut mengangguk pelan; paham.
Dia akan bertahan sekuat tenaga. |
Bayang-bayang Òsedian tiba-tiba muncul. Ana harap siren jantan tersebut bisa berada di sampingnya—menemani. Meski sayang itu sangatlah mustahil, Òsedian saat ini sedang tidak berada di tempat.
Makhluk setengah ikan itu beberapa waktu lalu melakukan perjalanan keluar Teluk untuk memenuhi janjinya dengan Ana soal 'Ilda'. Dia akan menjemput sosok mermaid tersebut lalu mengajaknya tinggal bersama di Teluk.
Tentu hal ini melalui proses yang tidak mudah serta panjang, tapi walau begitu akhirnya Òsedian berhasil merealisasikan hal itu—menyakinkan opini publik bahwa para siren dapat hidup berdampingan dengan makhluk setengah ikan dari keturunan putri duyung. Dan sekarang seharusnya adalah waktu kepulangan sang Alpha, namun sampai detik ini telinga Ana sama sekali tidak mendengar kabar apapun dari siren jantan bersama tamunya tersebut; setelah mereka terakhir kali memberikan sinyal bahwa mereka sebentar lagi akan sampai di Teluk para siren.
__ADS_1
Ada sedikit perasaan khawatir melanda diri Ana, dia takut Òsedian terkena masalah yang menyebabkan perjalanan kedua makhluk ini jadi tertunda.
Berkat rasa gundah dan was-was secara berlebihan itulah Ana malah mendapatkan kontraksi di area perutnya, padahal masih tersisa sekitar 1 minggu lagi sebelum memasuki masa melahirkan. Itu menjelaskan kenapa kondisi Ana terlihat sangat lemah saat ini.
Karena rasa sakit serta desakan dari telur-telur yang ingin keluar dari tempat mereka; tidak lain adalah perut Ana—menyebabkan seluruh stamina digerus habis. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Ana tidak terlalu ingat. Siren betina ini hanya fokus untuk mempertahankan kesadaran miliknya.
Siren betina selain Rivàn yang ikut membantu meminta Ana agar lebih rileks lagi, supaya pembukaan—jalur keluar telur dapat terbuka dengan lebar karena sedari tadi tidak ada satu telurpun yang dapat Ana dorong keluar menggunakan otot-otot perutnya. Sumpah! Demi apapun jika terus seperti ini mereka semua yang membantu hanya akan menyaksikan wajah lelah Ana sebelum mati lemas. Jelas mengerikan.
Normalnya tak perlu memakan waktu lebih dari 1 jam untuk para betina dalam melahirkan dan wajarnya paling banyak telur yang dapat dihasilkan sekitar 25-30 telur saja, tapi pada kasus Ana sedikit berbeda. Anehnya siren betina tersebut hampir tidak bisa mengeluarkan 1 telurpun gara-gara otot di area jalur melahirkan miliknya tidak bisa rileks dan cenderung kaku.
Sebuah penyiksaan secara tidak langsung jika dilihat secara gamblang. Selain itu jumlah telur yang dikandung Ana sangatlah tidak wajar, ada lebih dari 50 telur dalam tubuh kecilnya. Hal ini membuat telur yang ingin di keluarkan jadi menumpuk pada satu area menutupi jalan keluar karena sama sekali tidak mendapatkan ruang ataupun celah.
Kecuali—?
"Tidak apa untuk berteriak Ana, aku akan sedikit merobek area sini." ucap siren yang terbiasa membantu para siren betina lain untuk melahirkan. Mendengarnya saja membuat Rivàn merinding, ngeri. Apa lagi Ana yang harus merasakan tangan berlapis kuku tajam merobek area bagian bawah sana. Tak terbayang seberapa sakitnya itu nanti.
Perlahan namun pasti Ana merasakan jemari tajam mulai merobek area bawahnya dengan sangat pelan. Hal ini membuat siren betina bersisik peach tersebut berteriak, nyaring.
Lekingan panjang yang mengerikan, siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan sensasi merinding bukan main.
Darah banjir di mana-mana, menyatu dengan lautan. Semerbak aroma dari cairan itu memenuhi indra penciuman, darah Ana terasa sangat manis; untuk makhluk-makhluk setengah ikan yang sebenarnya berlebel karnivora.
Setelah berhasil merobek, ujung cangkang telur berwarna pucat kejinggaan terlihat. Ini membuat siapa saja yang ada di sana mengembuskan napas lega, meminta Ana mendorong kuat sekali lagi sampai satu telur itu keluar dari dalam tubuh siren betina bersisik peach tersebut.
"Argh!" Ana menangis.
"Sekali lagi!"
Ana menarik napas lalu membuangnya secara teratur. Kembali berusaha lagi, dia sekuat tenaga memaksakan otot perutnya untuk mendorong. Lenguhan penuh rasa syukur kemudian terdengar, Ana berhasil mendorong satu telur keluar.
Beberapa siren betina lainnya yang membantu langsung menangkap telur itu (sekitar 3 siren betina di sana tidak termasuk Rivàn dan siren bidan) lalu memindahkannya menuju tempat yang aman, di susul telur kedua.
Karena adanya sedikit ruang proses melahirkan Ana menjadi sedikit mudah dari telur pertama meski masih memakan waktu yang lumayan lama.
__ADS_1
Terus seperti itu sampai Ana berhasil mendorong sekitar setengahnya dari telur yang ada di dalam perut. Memasuki telur ke-26 Ana nyaris kehilangan kesadaran miliknya karena kelelahan ekstrim yang ia alami.
Rivàn terus-menerus memberikan Ana semangat meski untuk kali ini rasanya agak sia-sia. Ana jujur ingin sekali istirahat, memejamkan sejenak kedua kelopak matanya karena kantuk.
Jelas Ana tidak boleh melakukan hal itu atau semua panca indra milik siren betina tersebut akan berhenti bekerja dan Ana bisa mengalami kematian secara mendadak. Ya meski, saat ini Ana benar-benar sudab berada tepat diambang batas kemampuannya.
Setengah terpejam, suara teriakan Rivàn yang meminta untuk bertahan bahkan tidak terdengar lagi. Haruskah Ana memilih tidur saja? Itu bukan pilihan yang buruk, detik-detik sebelum memejamkan mata secara total—tiba-tiba seekor siren bersisik keemasan yang didampingi oleh mermaid berwarna kebiruan laut menerobos masuk begitu saja.
"Ana?!"
Teriakan Òsedian yang memanggil nama tersebut berhasil menyadarkan sang pemilik nama, Ana kembali membuka kedua kelopak matanya susah payah. Ada Ilda juga di sana, meminta siren yang membantu proses bersalin Ana sedari tadi untuk berpindah.
"Biar aku yang menangani untuk selanjutnya." ucap Ilda sepihak. Dia menganalisis semua situasi dengan cepat dan cermat, pendarahan pada Ana terlalu banyak. Keajaiban siren betina ini masih bisa bertahan mengingat teknik persalinan para siren yang terlalu primitif.
Ilda menggigit pipi bagian dalam, luka yang sengaja dibuat untuk mempermudah jalannya kelahiran justru akan menjadi pisau bermata dua untuk Ana jika salah penanganan. Memang siren punya kemampuan penyembuhan diri yang cepat, tapi itu tidaklah cukup. Semua kembali lagi berpacu pada waktu.
Ilda dengan cekatan melafalkan mantra penyembuhan tingkat tinggi, sambil membantu mengeluarkan sisa telur dengan selamat. Òsedian yang hanya bisa menyaksikan menunggu dalam diam, berdoa untuk keselamatan sisa dari sang telur bersama pasangannya.
Ana.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1