Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Selesai!


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Cu... kup... Berhenti," rengek Ana. Dia siap memuntahkan ribuan air mata yang nanti akan menyatu dengan lautan jika Bàba ataupun Òsedian tidak mau menuruti apa yang menjadi kehendaknya.


Ya meski nyatanya kristal bening tersebut sudah lebih dulu turun dengan seenak jidat tanpa Ana sadari. Òsedian dan Bàba secara otomatis berpaling, mereka kaget tatkala mendengar isak tangis dari arah siren betina itu.


Semakin nyaring membuat luapan amarah milik Òsedian sirna, makhluk setengah ikan itu lantas langsung memeluk tubuh Ana sembari bertanya dengan wajah panik.


"Ada apa Ana?!"


Ana membalas pelukan yang Òsedian berikan, dia menyembunyikan wajahnya di area tengkuk dari siren jantan tersebut. Menangis sesenggukan di sana tanpa memperdulikan lagi semua situasi, sial suasana berubah menjadi sangat-sangat canggung. Bahkan untuk sang Alpha yang mulai merasa bersalah.


Apa aku terlalu berlebihan tadi? Batinnya yang tak enak hati kala melihat Ana menangis dengan lirih; tepat di dalam rengkuhan tangan milik Òsedian. Si empunya pelukan hangat tersebut menepuk pelan bagian belakang dari punggung Ana, harap-harap dia dapat menenangkan sosok itu dengan tindakan yang ia lakukan. Walau nyatanya tidak semudah yang Òsedian kira.


Ini semua karena Bàba, Òsedian perlahan mulai memasang wajah masam setengah kesal saat manik matanya memutuskan ingin menatap wajah dari pelaku yang membuat Ana seperti ini. Siapa lagi kalau bukan Bàba.


Bàba yang mendapati dirinya ditatap dengan intens oleh Òsedian hanya mampu terkekeh hambar lalu minta maaf tanpa suara menggunakan gestur tubuh.

__ADS_1


Òsedian mendesis, sinis—entah kenapa dia merasa jengkel. Dasar siren tua menyebalkan! Lihat ini semua berkat kelakuan mu?! Hardik makhluk setengah ikan bersisik emerald tersebut dengan tatapan matanya.


Bàba memilih untuk membuang pandangan menuju kearah lain, otak dari Alpha tersebut mendoktrin bahwa bukan hanya dirinya yang salah di sini—melainkan Òsedian juga. Makhluk setengah ikan bersisik emerald itu yang memulai pertengkaran lebih dulu dengan mengeluarkan aura siap membunuh miliknya, Bàba hanya mencoba melawan. Meski setelah itu Alpha ini sengaja memancing emosi Òsedian dengan membalas memberikan aura yang tak kalah kuat dari makhluk itu.


Tidak salah bukan?


Ya, walau perasaan tidak nyaman mulai menggerogoti diri Bàba saat melihat Ana tak kunjung menghentikan tangisan miliknya meski Òsedian sudah berusaha menghibur siren betina tersebut. Lumayan cengeng, ucap Bàba dalam hati padahal dia tak punya hak untuk mengomentari sosok Ana. Mari lihat dari sisi positif saja, berkat Ana yang tampil seperti seekor siren rapuh; Òsedian menjadi mudah dalam mengontrol amarahnya dan memilih menenangkan pasangan miliknya lebih dahulu dari pada meluapkan emosi lain yang tidak perlu.


Mengamati perubahan tersebut membuat Bàba merenung, mungkin di sini dia yang bersikap kurang pantas dengan cara menggoda Òsedian tadi. Sebagai siren tua—ini adalah perilaku yang sangatlah kekanakan untuk dilakukan, Bàba tidak ingin dicap menjadi siren tua keras kepala dan berpikir sempit juga kolot hanya karena sikapnya tadi. Bahkan sampai membuat Ana menangis. Terlebih lagi jika Ana yang melebeli semua predikat itu pada dirinya. Mau ditaruh kemana wajah Bàba nanti?


Huh~


Memilih menghela napas panjang, Bàba rasa dia harus ikut menenangkan Ana dengan cara menjelaskan pada siren betina tersebut bahwa yang tadi hanyalah candaan semata antara dirinya dengan sosok Òsedian. Bàba cuma ingin menggoda Òsedian dengan kata-katanya. Siapa tahu malah berakhir buruk seperti ini.


Bàba kemudian mendekat. Òsedian memperlihatkan sikap acuh tak acuh pada sosok itu karena sang Alpha tidak menunjukan atmosfer menekan sama seperti sebelumnya. Siren bersisik emerald ini rasa tak ada yang perlu ia khawatirkan. Bàba lalu mengangkat sebelah tangannya—menepuk pelan pucuk kepala milik Ana. Hal tersebut membuat sang empunya kepala tersentak, Ana lantas mendongak. Pandangan siren betina itu saling bersinggungan dengan manik mata siren tua bersisik emas yang berada tak jauh dari sana.


Bàba mencoba tersenyum dengan senyuman terbaik yang dia punya sambil berkata.


"Tidak apa-apa Nak... jangan merasa takut, yang tadi hanya sebuah candaan saja." ucapnya. Perlu waktu yang cukup lama untuk Ana agar bisa memproses seluruh informasi yang baru saja ia dengar.


Ana menarik ingus dia lalu berpaling kearah sosok yang tengah memeluknya. Òsedian. Tanpa bertanya, hanya menunjukan raut muka lugu sembari menunggu Òsedian bicara menjelaskan sesuatu pada dia.


Mau tak mau siren bersisik emerald tersebut ikut melayangkan sebuah senyum simpul kepada Ana. Mengikuti permainan yang Bàba ciptakan, Òsedian berujar.


"Iya Ana, Bàba hanya bercanda tadi." ucap sosok itu, gantung. Sebuah ide terlintas cepat di dalam benak. Òsedian kemudian menyeringai, jahil kearah sang Alpha.


Berlagak sok polos, Òsedian melanjutkan perkataan sesuai dengan ide yang ada di dalam otaknya.


"Bàba?" beo Ana. Baru pertama kali mendengar Òsedian menyebutkan nama dari Alpha itu.


Òsedian mengangguk. Mantap.


"Bàba tadi hanya bercanda soal dia bilang kalau kita itu adalah pasangan yang tidak cocok. Benarkan? Bàba juga sebenarnya sudah setuju, jadi tenang saja dan jangan menangis lagi." tutur Òsedian bernada naik turun. Mendengarnya saja membuat sang Alpha merasa kesal, tapi jika dia menyangkalnya Ana mungkin akan kembali menitikkan air mata.


Sial.


Tidak memiliki pilihan lain, Bàba kemudia menghela napas pelan; sejenak—lalu setelah itu dia menyahut.

__ADS_1


"Iya Nak... Bàba hanya ingin menggoda kalian sebelum resmi menjadi pasangan nanti." sahut siren tua tersebut setengah hati, rasanya tak sudi memberikan persetujuan saat dia tahu Òsedian tengah mempermainkan dia lewat kata-kata dengan memanfaatkan sosok Ana.


Luar biasa. Dari mana si bontot itu belajar sikap manipulatif semacam ini?


Kembali menarik lendir yang ada di dalam hidungnya, Ana akhirnya angkat bicara.


"Berarti... Ana dan Òsedian bisa jadi pasangan?"


Bàba mengangguk. Lucu juga mendengar Ana memanggil dirinya dengan sebutan nama. Siren ini punya attitude bagus ketika berhadapan dengan sosok yang lebih tua dari pada dirinya. Luar biasa, menggemaskan.


"Iya~" spontan Bàba membalas. Seakan tidak percaya Ana kembali mengajukan pernyataan dengan kalimat tanya.


"Kalian tidak akan bertengkar hanya karena itu lagi?"


Bàba mengangguk, dia menjawab "Iya" dengan sangat-sangat yakin di hadapan manik mata Ana yang masih terlihat sedikit berkaca-kaca.


Sebuah lengkungan manis tiba-tiba terbit begitu saja di bibir Ana, Òsedian rasanya ingin mimisan. Gila! Pasangan miliknya ini benar-benar sangat imut melebihi seekor lumba-lumba yang selalu menampakan senyum mereka.


"Syukurlah..." tutur Ana setelah itu dengan senyuman terbaik miliknya.


Persetujuan dari sang Alpha sudah didapatkan! Ana dan Òsedian akhirnya resmi menjadi pasangan.


Misi selesai. |


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2