
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Hihi!"
Ana terkekeh pelan saat gelembung-gelembung udara di dalam air pecah, tepat di hadapan siren betina itu. Ini lucu, ungkap Ana. Membuat kembali gelembung-gelembung tersebut dengan memanfaatkan udara yang masih tersimpan di paru-parunya.
"Berhenti memindahkan jalur napas mu Ana! Aku tidak ingin kau menelan air laut terlalu banyak seperti terakhir kali. Cukup gunakan insang!" tegur Òsedian, tegas. Ana lagi-lagi kedapatan bermain dengan sistem pernapasan ganda. Tidak terlalu berisiko hanya saja siren betina itu nanti harus kedaratan untuk menyemburkan air laut di dalam tubuhnya seperti ikan paus atau pun lumba-lumba. Karena tidak memiliki jalur khusus untuk mengeluarkan air, satu-satunya yang dapat Ana gunakan adalah hidung. Bayangkan saja, itu bukan proses yang mudah. Ha-ha |
Cemberut mendapatkan terguran, Ana mau tidak mau berhenti melakukan hal receh tersebut dan lebih memilih meletakkan telapak tangan tepat di atas permukaan perut lalu mengelusnya dengan pelan. Benda itu sudah terlihat sangat membesar padahal baru jalan sekitar 3 bulan kalau tidak salah; seingat Ana dan ada sekitar 20 simbol telur yang tampak di sana.
Kemungkinan akan terus bertambah seiring waktu sampai memasuki usia masa kehamilan pada bulan ke-6 sebelum melahirkan.
"Aku bosan Òsedian..." gumam Ana kemudian. Òsedian yang sibuk melakukan kegiatan mendekorasi sarang mereka dengan berbagai interior kerang tak berisi, mutiara, dan beberapa tumbuhan laut lainnya tersebut menilik. Meneliti dari ujung kepala hingga ekor, yups! Tak perlu dijelaskan Òsedian tahu kalau siren betina itu sedang mengalami kebosanan pada tingkat yang tinggi. Simpelnya Ana jenuh sekali.
Tidak heran, karena siren betina tersebut hanya menghabiskan hampir seluruh waktunya di sarang tanpa melakukan apapun selain mondar-mandir, menatap pemandangan, memakan makanan, dan istirahat. Seperti itu-itu saja, jadi semacam siklus monoton yang tiap hari harus dilakukan dalam beberapa bulan terakhir ini.
Lain halnya dengan Òsedian, siren yang kini bersisik gold tersebut tampak memiliki segudang pekerjaan. Mulai dari mengurus kawanan; jam perburuan, kelompok berburu, kelompok penjaga Teluk, dan lain-lain yang setelah semua itu selesai akan disambung dengan merawat dan menjaga pasangannya. Jujur, seiring waktu Ana semakin sulit untuk bergerak karena perutnya terus membesar. Makanya dia selalu didampingi Rivàn ketika Òsedian benar-benar tidak bisa meluangkan waktu untuk menjaga sosok tersebut, tapi tenang—siren jantan ini akan berusaha semaksimal mungkin dengan baik dalam menyelesaikan segala macam jenis masalah a.k.a pekerjaan agar dia bisa mendapatkan waktu lebih banyak bersama sang pasangan. Ana.
__ADS_1
Contohnya seperti sekarang. |
Òsedian bahkan terlihat sibuk mempercantik sarang mereka, untuk telur-telur alias anaknya dan Ana yang 3 bulan lagi akan lahir. Jelas perlu sarang yang sesuai dengan tingkat keamanan terbaik jika sudah memasuk masa mengerami.
Ya meski bukan itu krisis utamanya di sini, melainkan kembali lagi keatas—soal KEBOSANAN yang tengah melanda diri Ana. Coba pikirkan sesuatu Òsedian, supaya siren betina itu tidak bermain-main dengan jalur napasnya sendiri lagi nanti.
Ah!
Bagaimana kalau—?
"Mau makan beberapa ubur-ubur sayangku Ana?" tanya Òsedian. Ana tampak terdiam sebentar, tidak langsung menjawabnya. Jika memang Ana mau, Òsedian akan langsung memburu beberapa jenis ubur-ubur tidak bersengat jadi tidak terlalu berbahaya untuk perut siren itu juga nantinya. Jangan biarkan Ana sendiri yang menangkap ubur-ubur, atau dia akan menggila dengan memakan brutal mereka. Sampai sekarang siren betina dengan sisik berwarna peach tersebut masih menyukai ubur-ubur sebagai cemilan.
Seharusnya begitu. |
Lama menunggu, Òsedian lihat celah bibir Ana akhirnya terbuka. Untaian kata keluar dari sana.
"Aku ingin daging Narwhal." ucapnya.
Eh?
Mengejutkan Òsedian, bukan itu jawaban yang siren jantan tersebut harapkan.
Sekarang kemana dia harus pergi menangkap 1 ekor paus bertanduk itu, sedangkan mereka biasa hidup di lautan bersuhu rendah alias dingin. Berbanding terbalik dengan habitat para siren yang tinggal di sekitaran Teluk bersuhu hangat.
Poor untuk Òsedian! Haha.
...***...
Apa istilah yang cocok untuk menggambarkan permintaan tidak masuk akal tersebut? Mengidamkah? Benar? Anggap saja begitu.
Terima kasih untuk Ana, berkat keinginan di luar nalar dan tidak bisa dinego itu Òsedian harus melakukan perjalanan sekitar 2 minggu secara mandiri untuk menangkap seekor Narwhal di perairan Arktika.
Gila-gila-an berenang sekuat tenaga tanpa istirahat dan saat Òsedian berhasil mendapatkan 1 ekor untuk Ana, ternyata pasangannya itu malah menolak mentah-mentah daging segar Narwhal lalu memilih untuk memakan beberapa ubur-ubur. Dia beralasan.
"Ya, aku inginnya saat itu. Sekarang tidak!" dengan wajah yang sayangnya menggemaskan di mata Òsedian. Ya meski siren jantan tersebut di buat kelelahan habis menangkap ikan paus bertanduk itu serta mengacaukan semua jadwal pekerjaan dia tapi tak apa. Untung saja para pengikut (siren jantan lain) memaklumi Òsedian, mereka bilang betina memang seperti itu. Kadang mereka meminta sesuatu yang menyebalkan saat hamil, tapi jika tidak dituruti betina akan meluapkan amarah mereka. Mereka bisa menjadi sangat kacau dan hal ini dapat meningkatkan potensi stress hingga keguguran.
TAPI!
__ADS_1
Lihat sekarang.
Òsedian hanya bisa menampilkan senyum datarnya sambil melempar daging mentah dari Narwhal pada beberapa rekan siren kepercayaan dia untuk dibagikan kesemua siren yang tinggal di Teluk.
Ah! Sisakan sedikit untuk Ana, siapa tahu siren betina ini NANTI akan mencarinya karena INGIN. Siapa tahu KAN!
Tidak memperdulikan sosok Òsedian lagi, Ana memilih melakukan peregangan otot singkat dengan cara berenang-renang berputar di dalam sarang mereka. Tulang punggungnya terasa pegal, ya meski belum sampai 5 menit; Ana memilih kembali istirahat. Ternyata tambah lelah.
Melihat tingkah tersebut, Òsedian langsung menutup mulutnya—lucu.
"Pftt!" coba menahan tawa, siren jantan dengan sisik berwarna emas tersebut membuang cepat pandangan kearah lain. Tidak ingin kedapatan menertawakan sosok Ana, atau siren betina ini nanti akan merajuk. Tapi sumpah!
Ana benar-benar terlihat imut.
Bergerak-gerak dengan perut membulat layaknya ikan buntal. Itu sangat menggemaskan, melebihi tingkah barbar dari ikan buntal itu sendiri ketika di dekati atau dipermainkan oleh para predatornya seperti contoh lumba-lumba.
Walau usaha Òsedian tersebut sebenarnya berakhir sia-sia karena Ana sendiri menyadari kalau siren jantan itu sedang berusaha menahan tawa dengan segala cara.
Berbeda dari bayangan Òsedian, Ana tidak merasa tersinggung. Sudut bibirnya malah terangkat—jahil. Ana lalu memutuskan untuk mendekat menggunakan gerakan yang sama, melihat hal menggemaskan itu lagi; Òsedian tidak bisa menahan dirinya.
Atau tepatnya tidak bisa menahan tawanya.
Tak segan Òsedian tertawa terpingkal sambil memeluk cepat tubuh Ana dengan hati-hati. Itu membuat Ana terpekik kencang tapi dia ikut tertawa senang.
Mereka berputar-putar pelan dengan girang.
Bahagianya~
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...