
..._______________________...
...A n a k...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Tivana terdiam. Lumayan pintar, pikir wanita itu. Siren betina yang jauh lebih muda dari pada Tivana baru saja melayangkan pertanyaan bagus. Andai kata Tivana tidak teliti orangnya, mungkin dia akan dengan mudah termakan oleh ucapan siren muda tersebut. Ini namanya dalih, melempar pertanyaan lain untuk menindih topik sebelumnya tanpa harus menjawabnya.
Tak sadar Tivana terkekeh. Dia suka siren betina bercorak keunguan tersebut, seperti melihat diri di masa lalu. Kenapa begitu? Tivana ingat dia dulu dipaksa harus mencerna segala macam situasi serta menormalisasikan apapun yang ia lihat agar tetap waras, ini semua harus dilakukan jika ingin bertahan hidup hingga akhir. Simpelnya harus berubah menjadi pribadi yang analitis.
Tersenyum simpul, Tivana tiba-tiba berenang memutar. Dia mengelilingi kedua sosok kakak-beradik yang tampak saling berpelukan dengan sangat eratnya, seperti serial televisi lama yang sering ia tonton. Apa judulnya? Aish! Tivana lupa, wanita itu hanya ingat selogan yang sering digunakan oleh para tokohnya; 'Berpelukan~' seperti itu.
Raut muka kedua siren muda tersebut menjadi pucat, mereka merasa terintimidasi oleh apa yang Tivana lakukan. Gerak-gerik wanita tersebut jelas sekali seperti tengah mengintai para calon mangsa, tidak heran kalau mereka ketakutan.
Puas dengan perubahan lucu yang ditampilkan kedua siren muda itu, Tivana lalu melanjutkan kekehannya sebelum akhirnya buka suara.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, tapi jika kau benar-benar penasaran kenapa aku bisa menyerupai manusia—hanya ini yang dapat aku katakan; aku lebih istimewa dari pada para Siren yang pernah kalian temui." ucap Tivana jelas, dengan kalimat yang menurut dia tepat. Dia tidak berbohong, wanita ini istimewa karena dia bukanlah siren murni. Sejatinya Tivana adalah manusia yang dipaksa untuk berubah lalu berbaur menjadi seekor siren oleh seseorang; dan soal dia yang bisa memiliki sepasang kaki seperti manusia? Itu karena Tivana berteman baik dengan penyihir laut terbaik, siapa lagi kalau bukan Johan—sang penyihir gurita. Tinggal pola pikir anak-anak ini saja lagi, apakah mereka bisa mencerna maksud dari perkataan yang baru saja Tivana katakan. Kalaupun tidak, itu bukan jadi masalah untuk Tivana sendiri.
Ha-ha. |
Usai mendengar ucapan milik Tivana, kening dari para siren muda yang berada di hadapan wanita itu berubah—menjadi semakin berkerut. Mereka bingung dan lebih takut lagi. Begini rasanya dipandang MONSTER oleh para monster itu sendiri. Mungkin para anak-anak ini akan dengan mudah percaya ucapan Tivana jika saja Tivana itu mermaid, tapi ini sebaliknya. Dia siren, siren jelas tidak memiliki kemampuan semacam itu apa lagi sampai bisa menggunakan sihir transformasi tubuh.
Hah... lama-lama melelahkan. |
Menjelaskan berbagai macam informasi pada kedua siren muda ini juga tidak akan berguna. Baiklah, terserah kalau begitu. Percaya atau tidak, persetan—Tivana tidak peduli.
Kembali kesituasi awal tadi. Setelah menampilkan raut muka kurang bersahabat kepada sosok Tivana, tiba-tiba si kecil (siren jantan muda) bereaksi di luar dugaan; dia menyelinap keluar dari dalam pelukan tubuh sang kakak. Dia berenang cepat mendekati Tivana sembari berkata—
__ADS_1
"BENARKAH?!" Percaya dengan apa yang Tivana katakan. Manik mata siren jantan tersebut berbinar kagum, persis seperti anak kecil yang bersemangat dengan mainan baru. Berbanding terbalik dengan sang kakak. Siren muda bercorak keunguan itu tampak kaget, lalu berusaha mengejar adiknya sambil berkata 'Lìan kembali kemari!' dengan nada lugas.
Melihat fenomena tersebut membuat Tivana kembali tergelitik, dia lantas menganggukkan kepala dengan mantap lalu menjawab.
"Tentu saja, aku benar-benar istimewa~" sahut Tivana sombong bersama senyum licik di sudut bibirnya. Omong-omong, Tivana di sini menggunakan bahasa informal. Dia benar-benar tidak tahu harus menyebut dirinya apa dalam bahasa siren, bibi? Tante? Entahlah. Anggap saja mereka semua seumuran, selesai.
Kilat mata dari siren jantan yang ternyata sangat-sangat kecil paling sepertiga dari ekor Tivana itu semakin terlihat jelas. Dia tiba-tiba berenang naik, menggapai tangan milik Tivana lalu kembali bicara. Kali ini dengan nada penuh mohon kepada sosok Tivana.
"Kalau begitu, bisa tolong kembalikan Papa pada kami?" ucap dia, di akhiri tanda tanya.
Papa?
...***...
Tak!
Potongan wortel baru saja melompat, Tivana terdiam. Dia membatu layaknya sebuah patung. Lenguhan napas panjang terdengar menyusul. Menyudahi kegiatan memotong sayur di dapur, wanita tersebut akhirnya memilih meletakkan pisau serta celemek yang ia kenakan—lalu beranjak dari sana menuju meja makan.
Duduk disalah satu kursi yang berada di situ. Tivana memijit pening kepalanya, teringat lagi dengan percakapan yang ia lakukan tadi malam; bersama para siren muda di lautan.
Setelah mengucapkan hal tersebut, siren betina yang menjabat sebagai sang kakak kembali menutup mulut adiknya. Dia nampak sangat panik, seakan kata PAPA tidak seharusnya diucapkan.
Hal ini membuat Tivana merasa jengkel, dia tidak mengerti sama sekali. Dengan impulsif, wanita ini menarik pipi dari siren betina yang menutupi mulut adiknya. Menjepit kuat dengan satu tangan hingga membuat mulut dari siren betina muda tersebut monyong; menjorong kedepan.
"Nak! Jangan menghalangi Adik mu untuk bicara." ucap Tivana dengan manik mata tajam. Sekarang dia tahu bagaimana cara untuk memanggil dirinya sendiri di hadapan anak-anak.
Merasa ketakutan, kelopak mata dari siren bercorak keunguan tersebut bergetar. Jika Tivana melanjutkan untuk menggertak dia, mungkin siren betina ini akan menitikkan air mata. Tapi! Beruntung, si kecil menengahi.
Dia melepaskan diri lagi dari jeratan kakaknya. Kembali bicara dengan wajah mantap.
"Papa, bisa kembalikan Papa pada kami."
Menggigit bibir bagian dalam, sial! Tivana memaki. Dia benar-benar belum bisa mencerna kata-kata milik si kecil ini sampai tiba-tiba, sang kakak ikut bicara.
__ADS_1
"Para manusia menggantung ekornya. Itu Papa, bisa kembalikan dia pada kami?"
Degh!
Tivana tersentak. Jelas sekali dia kaget, wanita tersebut langsung menyentuh area perut. Di sana adalah tempat dari segel pasangan serta simbol anak. Wanita ini ingat—tidak ada apapun lagi yang tersisa di situ. Hanya kekosongan.
Karena lumayan terkejut, Tivana hanya bisa bereaksi semampunya. Dia bilang secara spontan—berjanji akan menolong kedua siren muda itu, mengambil ekor yang mereka sebut sebagai 'Papa' lalu berenang pergi dari sana.
"Tunggu saja."
Tanpa menoleh kebelakang. Meninggalkan para siren muda.
"Hah~ Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gumam Tivana bingung, menatap langit-langit ruangan.
Dia sudah berjanji, meski itu hanya dalih. Menolong Òsedian? Ah~ Tidak mau. Tivana harap, percakapan yang ia lakukan kemarin malam hanyalah sebuah mimpi.
Meski sayang, Tivana rasa dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Anak... apa mereka Anak-anakku?"
...***...
...T b c...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti....
__ADS_1
...Bye...
...:3...