
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Hm~ Hmm~ Hmm~"
Ana bersenandung dengan ria, dia memeluk erat sebelah lengan Òsedian tanpa jarak. Menempelkan pipi miliknya kesana dengan sekali-kali mendusel lengan Òsedian menggunakan hidung.
Keluar dari gua tempat Bàba berada, setelah mereka berhasil mendapatkan persetujuan dari sang Alpha tersebut—segel pasangan muncul. Ibarat kata sebagai penanda bahwa kedua makhluk ini telah resmi dan sah menjadi pasangan. Istilah lain yang lebih sederhana anggap saja segel itu sebagai (bukti) cincin kawin.
Ana mendapatkan segelnya di area dekat perut, Bàba bilang kalau siren betina hamil simbol pada segel itu akan bertambah banyak sesuai jumlah telur yang tersimpan di dalam rahimnya sedangkan Òsedian yang merupakan siren jantan mendapat segel pasangan tepat di punggung. Sebagai bentuk ketangkasan, berbeda dengan milik Ana simbol pada segel Òsedian akan bertambah apabila semua telur yang di lahirkan Ana berhasil menetas dengan selamat; segel akan menunjukan jumlah anak yang dapat bertahan hidup dan akan menghilang jika anak tersebut tidak berhasil bertahan hidup. Berlaku juga apabila Òsedian kehilangan sosok Ana dalam artian gelap yaitu mati, segel pasangan milik mereka akan segera lenyap.
Jadi, kesimpulannya saja—kedua segel yang di milik Ana maupun Òsedian memiliki makna mereka masing-masing di mana yang satu adalah 'sebuah kelahiran' dan satunya lagi adalah 'sebuah kehilangan'. Itu kenapa perlu keteguhan hati untuk saling menyayangi dan menjaga satu sama lain agar kedua segel tersebut tetap berkaitan. Syarat mutlak jika benar-benar ingin menjadi pasangan sesungguhnya.
Mencintai. |
Melihat Ana senang, Òsedian turut ikut serta merasa senang. Setelah berpamitan dengan Bàba siren jantan tersebut mengajak Ana jalan-jalan di Teluk para siren; sebelum—ehm! Òsedian menunjukan sarang miliknya pada Ana yang akan menjadi rumah baru mereka. Nanti.
Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba Ana terhenti, hal ini membuat gerakan Òsedian menjadi tertahan. Siren jantan itu lalu menoleh, sembari bertanya.
__ADS_1
"Ada apa Ana?" pada siren betina bersisik peach di sampingnya. Mengapa mereka berhenti di sini? Dewi batin Òsedian bertanya dalam diam, sama penasarannya.
Ana tidak serta merta langsung menjawab, dia kemudian mengangkat sebelah tangannya—menunjuk sesuatu yang ada di depan mata. Sebelah alis Òsedian terangkat; heran, lantas dia mengalihkan pandangan miliknya menuju kearah yang ditunjuk oleh Ana. Terdapat banyak sekali ubur-ubur di sana.
Menegak ludah, Ana tergiur dengan kumpulan jelly yang tengah berenang tersebut. Ia ingin itu! Ana ingin memakannya, dia ingin!
Tidak mengerti sama sekali dengan maksud yang siren betina ini ingin tunjukan, wajah bingung Òsedian kentara semakin terlihat. Mungkin karena Òsedian agak bodoh dan kurang tahu cara menghadapi lawan jenis makanya dia tidak tahu apa maksud dari Ana yang menunjuk segerombolan ubur-ubur itu. Haruskah Òsedian bertanya? Sebelum dia benar-benar menjadi semakin bingung, ya meski setelah itu ada kejadian di luar nalar yang terjadi begitu saja.
Berlangsung sangat cepat, bahkan sebelum Òsedian sempat bertanya apa yang menjadi keinginan dari siren betina tersebut—di mana Ana berenang sangat cepat; mengibaskan sirip ekornya dengan kencang menuju kearah sekumpulan ubur-ubur tidak bersalah lalu melahap mereka dengan ganas.
Kedua mata Òsedian membola sempurna.
Hal ini bahkan sampai membuat banyak pasang mata dari siren yang ada di sana menaruh minat kepada Ana—mereka menatap heran sosok siren betina dengan sisik berwarna serupa buah persik tersebut.
Jarang-jarang ada siren yang mau memakan ubur-ubur. Biasanya siren tidak suka dengan sengat-an menggelitik dari tentakel makhluk itu. Tapi! Coba lihat saja Ana, dia tampak tidak terganggu sama sekali ketika memakannya.
Bahkan menurut raut yang terlihat diwajah Ana ubur-ubur ini sangatlah lezat.
Sama halnya dengan yang lain, Òsedian masih menampilkan wajah shock tidak percaya disertai rasa bingung yang luar biasa besar. Dia mengernyitkan alis.
Beberapa saat membiarkan Ana dengan selera makan aneh miliknya sebelum mendatangi siren betina itu—lalu menghentikan dia atau semua ubur-ubur yang tinggal di sini menjadi punah. Juga Ana akan mendapatkan sakit perut parah nanti karena memakan terlalu banyak jelly. Percayalah.
Dia rasa sudah waktunya menghentikan sosok Ana.
...***...
"Huh—!" Òsedian melenguh panjang. Kepalanya terasa sangat sakit. Beberapa surai rambut dari siren jantan itu lepas akibat jambakan kuat yang di lakukan oleh Ana saat Òsedian berusaha untuk memisahkan dirinya dari para kumpulan ubur-ubur dengan nasip mengenaskan tersebut.
Dan lihat sekarang, Ana hanya mampu menunduk malu pada Òsedian yang tampak tengah menampilkan raut muka kecut. Posisi mereka saat ini terlihat seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya dan meminta sang anak untuk merenungi kesalahan yang sudah ia perbuat. Meski semua itu dilakukan dalam diam.
Ana tadi khilaf, ketika melihat ubur-ubur dia merasa sangat lapar dan tanpa pikir panjang siren betina tersebut langsung memburunya. Ana juga tidak mengira kalau dia akan jadi sedikit menggila, bahkan sampai-sampai berani menarik keras rambut Òsedian hingga akar rambutnya tercabut dari kulit kepala gara-gara siren jantan itu mencoba memisahkan Ana dari para ubur-ubur tidak berdosa tersebut.
Kasihan.
Setelah Ana benar-benar sadar, dia mulai merasa bersalah dan menyesal. Setengah mengintip—Ana menantap sosok Òsedian yang masih menunjukan ekspresi wajah masam.
Batin Ana bertanya, apa Òsedian marah pada ku? Mengingat kembali tentang seberapa brutalnya Ana menjambak rambut dari siren jantan itu. Bahkan Òsedian tampak tidak berminat bicara pada Ana untuk saat ini.
__ADS_1
Haruskah Ana menangis? Biar amarah dari makhluk setengah ikan berbangsa siren tersebut sirna. Tapi Ana rasa itu bukan cara yang etis, ketika berbuat salah satu-satunya hal yang perlu untuk dilakukan adalah—
Meminta maaf. |
"Maaf..." gumam Ana pelan dengan bibir sedikit manyun.
Òsedian yang semula ingin mengabaikan siren betina itu langsung menoleh secara otomatis tatkala kedua gendang telinga miliknya menangkap suara serupa cicitan kecil yang keluar dari dalam mulut Ana.
Apa itu tadi?! Batin Òsedian. Merasa tak percaya kalau dia baru saja mendengar dan melihat hal imut lainnya yang sedang Ana lakukan.
Sial. Tentu itu semua berhasil meruntuhkan wajah masam milik Òsedian. Tanpa siren jantan tersebut sadari, sudut bibirnya terangkat—keatas; menciptakan sebuah senyuman indah.
Curang. |
Òsedian tidak bisa marah pada Ana.
Seberapa pun tingkah konyol yang sudah siren betina ini lakukan. Sebelah tangan Òsedian lalu terangkat, menuju kearah Ana. Hal itu membuat Ana mendongak—sepasang manik miliknya saling bersinggungan dengan manik mata milik Òsedian.
Ana lihat, kedua bibir dari Òsedian terbuka. Untaian kata keluar dari sana.
"Haruskah kita lanjutkan jalan-jalan kita?" ucapnya bermakna tanya, pada sosok Ana.
Siren betina yang mendapat pertanyaan serta uluran tangan tidak terduga tersebut kemudian menjawab; sembari membalas uluran tangan Òsedian dengan cara menggenggamnya erat.
Ana mengangguk.
"Iya?!" sahutnya, lantang—bersama senyuman yang begitu lebar.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...