
..._______________________...
...I k a n...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Lalala... lalala la... la~" Tivana bersenandung ria, duduk di atas kursi goyang miliknya sembari memejamkan kedua kelopak mata. Langit sore terlihat sangat indah di ujung laut sana, sungguh kehidupan yang sangat-sangat damai. Kalau tidak salah sudah lewat 6 tahun rasanya wanita tersebut menjalani kehidupan monoton di rumah sederhana yang dibelikan oleh Johan; teman guritanya pada dia.
Berkat bantuan sihir dari lelaki itu, Tivana benar-benar dapat hidup layaknya manusia—bahkan selama 6 tahun dia tidak pernah menyentuh air laut sama sekali. Meski kata Johan tidak masalah karena gurita tersebut sudah menempelkan sihirnya pada Tivana sehingga wanita itu bisa menyentuh laut tanpa harus berubah menjadi siren ataupun terlacak posisinya oleh Òsedian yang merupakan sang pasangan, hanya saja dia sedikit merasa was-was. Entah kenapa semua ingatan masa lalu kadang muncul dan hal-hal inilah yang membuat Tivana merasa terganggu lalu memutuskan untuk tidak mendekati tepi laut.
Demi keselamatan diri serta mental miliknya, walau itu terdengar seperti sebuah dalih saja. |
Persetan.
Tivana tidak peduli.
Dia tak merasa keberatan jauh dari laut, mau itu mati mengering menjadi ikan asin nanti—setelah sihir Johan perlahan habis atau apapun itu Tivana sudah bertekad. Sumpahnya untuk tidak terpikat dan terjerumus lagi kedalam lautan, atau lebih tepatnya kedalam kehidupan yang ada di lautan sana. Masa bodoh soal takdir.
Menikmati waktu sekarang lebih utama.
Usai bersenandung ria dengan nada lagu tanpa nama, Tivana kemudian membuka serentak kedua kelopak mata—bersamaan embusan angin yang membelai pelan pipi dari wanita itu.
Pemandangan sunset menyambut untuk pertama kalinya. Sudah berapa lama Tivana di sini? Entahlah, batin wanita tersebut. Dia tidak ingat mulai dari kapan ia berada di teras, duduk di kursi goyang miliknya tanpa melakukan apapun.
"Hosh..."
Hela napas terdengar pelan dari arah bibir Tivana.
Haruskah aku beranjak dari sini lalu membuat makan malam? Tanya dewi batinnya sembari meregangkan kedua tangan. Pegal juga, pikir wanita itu yang mulai merasakan sakit akibat duduk terlalu lama hingga membuat otot-ototnya menjadi sedikit kaku.
Beberapa ujung dari kapal nelayan terlihat, bertengger di area pelabuhan yang jaraknya lumayan dekat dari rumah Tivana.
Suara burung-burung camar terdengar.
Hal tersebut menarik kecil minat dari Tivana untuk menoleh kearah kapal-kapal kecil nelayan itu. Tumben sekali, batin dia. Biasanya para nelayan yang merupakan penduduk setempat pulang sekitar jam 3 atau 4 dini hari, sebelum fajar terlihat—ini karena para nelayan tradisional memerlukan angin darat yang bertiup menuju lautan untuk menggerakan kapal layar mereka, meski sudah ada beberapa yang menggunakan kapal modern dengan mesin pendorong di dalamnya.
Tap! Tap! Tap!
Sedikit terkejut, Tivana langsung berdiri dari kursi goyang tatkala mendengar suara entakan kaki yang terdengar begitu nyaring—dia lalu mendekat kearah pagar pembatas di teras ketika melihat serta mendengar beberapa orang berlarian menuju salah satu kapal nelayan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!" tanya Tivana, coba mencari tahu dengan bertanya kepada salah seorang yang melalui pagar rumahnya. Orang tersebut berhenti melangkah, dia seorang ibu-ibu gempal yang terkenal dengan sebutan madam Lula di daerah sini.
"Ah Tivana! Entahlah Madam juga kurang tahu, tapi tadi Madam dengar kalau beberapa kelompok Nelayan menangkap ikan aneh." ucap dia singkat lalu berbalik pergi meninggalkan Tivana tanpa menunggu jawaban. Mendengar hal tersebut keningnya langsung berkerut, ikan? Beo Tivana dalam hati merasa penasaran.
Ikan berbentuk seperti apa yang dapat membuat para manusia berbondong-bondong agar bisa melihatnya? Seberapa aneh ikan tersebut? Batin Tivana lagi.
Membuat keputusan untuk ikut bergerak, membaur di antara beberapa orang.
Ini murni karena rasa penasaran saja, oh ya! Tivana juga akan bergerak hati-hati agar dia tidak terlalu dekat dengan air laut. Setidaknya itu yang ia pikirkan sebelum melihat sesuatu yang cukup mengejutkan terjerat jaring nelayan.
Apa itu?! Batin Tivana tak percaya, menggertak gigi secara tidak sadar. Rahangnya mengeras.
Sesuatu tersebut sangatlah tidak asing. Warna sisiknya pucat ketika naik kedaratan dengan panjang hampir sekitar 1,5 meter (yang dapat terlihat), jelas bukan ikan biasa. Iyakan?
"Siren." gumam Tivana pelan serupa bisikan, menyaksikan dengan tatapan tajam kearah sirip ekor dari makhluk setengah ikan?
Dia tidak bergerak, menilik lebih dekat—Tivana akhirnya mendapati sebuah fakta lain; kalau nyatanya makhluk sebangsa dia itu (siren) telah kehilangan nyawa berserta anggota tubuh bagian atas atau lebih tepat area dari bagian manusianya.
Hanya menyisakan bagian bawah serta sirip ekor saja layaknya ikan besar.
Mengerikan.
Lalu—
Ada yang sedikit lebih mengejutkan lagi, Tivana rasa—ia tahu siapa pemilik dari ekor pucat tersebut.
Dan itu adalah?
"Òsedian..."
...***...
Tivana tidak salah menduga, wanita itu benar-benar sangat yakin—pemilik dari sirip ekor tersebut adalah pasangannya. Siapa lagi kalau bukan Òsedian; meski hanya melihat dalam hitungan detik saja.
Usai puas menatap serta menemukan jawaban dari rasa penasaran, Tivana lantas berbalik. Beranjak pergi dari sana menuju tempat tinggalnya tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Seakan abai, dengan apapun yang sudah terjadi pada siren jantan tersebut.
Memasuki teras rumah, Tivana semakin mempercepat langkah. Menarik kenop pintu lalu melengos masuk sambil membanting pintu hingga terdengar suara 'BRAK!' yang sangat kencang.
Dada Tivana naik turun, napasnya tersengal.
Bersandar tepat di belakang pintu, pijakan Tivana tiba-tiba melemah. Dia merosot jatuh tanpa suara. Entah karena apa, wanita tersebut merasa sangat gugup. Seluruh tubuhnya gemetar, menggigil kedinginan. Tanpa sadar kedua tangan bergerak—menuju kearah perut.
Tivana ragu-ragu, disingkapnya baju hingga menampilkan perut.
__ADS_1
Samar-samar bekas dari segel pasangan terlihat sangat pudar. Dia ingat kalau Johan pernah berkata, sosok Ana si siren betina telah tiada.
"Aku menghilangkan seluruh jejakmu Tivana, hingga para Siren termasuk pasanganmu akan menganggap dirimu telah mati."
Ini menjelaskan bahwa Òsedian sudah tidak memiliki lagi segel pasangan di belakang punggungnya, berbeda dengan sosok Tivana. Dia masih memiliki segel itu selama Òsedian tetap hidup serta berkeliaran bebas di lautan sana.
Tapi?
Apa yang baru saja dia saksikan?
Benarkah kalau itu adalah Òsedian?
Bagaimana caranya makhluk buas setengah ikan tersebut bisa mati?
Apa yang membunuhnya?
Mengapa dia bisa terbunuh begitu saja?
KENAPA?!
Rasa nyeri perlahan menyetrum perut bagian bawah dari Tivana. Wanita itu tersentak.
Sakit!
Dia memeluk cepat area itu.
Setengah tidak terima. |
Apa yang terjadi padamu Òsedian?!
Mendesis geram. Percayalah, manik mata Tivana memancarkan semacam kilat. Dia menggeleng. Jengkel.
"Harusnya aku yang membunuhmu dengan kedua tanganku." bisiknya. Amat sangat kesal sembari menitikkan sebuah air mata?
...***...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
__ADS_1
...Bye...
...:3...