Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Bunuh Aku?


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


...________________________...


..._________...


...____...


..._...


"Kau memang mencintai dia, tapi Tivana belum tentu mau mencintai mu dan lihat sekarang?! Berkat semua tindakan 'berlebihan' yang kau lakukan—'dia' menjadi sangat ketakutan hingga berpikiran 'LEBIH BAIK AKU MATI' dari pada harus menerima kenyataan." ucap Ilda, menampar keras ulu hati Òsedian dengan sebuah fakta yang tak dapat ia elak.


Makhluk setengah ikan tersebut mengeratkan pelukannya pada Tivana. Dia kemudian menunduk.


"Lalu, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya, bergumam pelan sambil memperhatikan lekat sosok yang berada dalam rengkuhan.


Ilda yang mendengar melenguh panjang, sejatinya ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan. Ilda dulu memang sering berbaur di antara manusia tapi dia tidak pernah berpikir akan terpikat ataupun jatuh hati pada seorang manusia, tak pernah sekali pun?! Makanya Ilda benar-benar tidak tahu harus memberikan saran yang bagaimana untuk temannya ini. Haruskah lelaki tersebut berhenti berpikir? Lalu menyerahkan semuanya pada Òsedian saja, toh! Dilihat dari sudut pandang manapun Ilda tidak memilih hak untuk ikut campur.


Òsedian seharusnya mengurus hal itu sendiri. Apa yang kau tanam itulah yang kau tuai, begitulah prinsipnya.


Tapi—!


Ilda rasa dia tidak akan tega. Lihat saja wajah murung yang saat ini Òsedian tampilkan, salah mu sendiri?! Batin lelaki itu menghardik semua tindakan impulsif yang Òsedian lakukan.


Lama termenung, keheningan di bawah laut pecah tatkala gendang telinga dari makhluk setengah ikan yang berada di sana mendengar lenguhan panjang.

__ADS_1


"Argh?" Dibarengi ekspresi tidak nyaman.


Òsedian yang mendengar langsung melepaskan pelukannya, dia mengubah posisi Tivana menjadi seperti menggendong tuan putri. Mereka berdua tidak salah dengar, wanita yang sekarang berada di antara kedua tangan Òsedian terlihat tampak gelisah; Tivana menggeliat—sosoknya benar-benar merasa tak nyaman.


Melihat hal tersebut, makhluk setengah ikan dengan warna emerald itu tersenyum senang. Begitu juga teman mermaid di sampingnya, Ilda—meski pikiran Ilda sendiri mulai berkecamuk. Dia merasa was-was, reaksi apa yang akan Tivana tunjukan ketika dia sudah sadar nanti. Òsedian jelas tidak peduli akan hal itu, tapi jika makhluk setengah ikan ini ingin hubungan miliknya berhasil Ilda harus membuat Òsedian sadar, peduli, dan mau memikirkannya.


Kalau tidak, hanya akan terjadi kemalangan dalam hubungan mereka. Ilda tidak ingin kehilangan Òsedian dan mungkin dia juga tidak ingin kehilangan Tivana; meski waktu yang mereka lalui sangatlah singkat untuk saling mengenal tapi bagi mermaid itu sendiri Tivana sudah menjadi bagian dari keluarga.


Pelan namun pasti, kedua kelopak mata siren cantik berwarna peach di depan mereka terbuka. Warna manik mata manusia yang biasa didominasi oleh brown kini berubah, selaras dengan warna sisiknya. Òsedian tertegun, sangat cantik! Pekik dewi batin dari makhluk tersebut. Tapi Tivana hanya menatap kosong kearah atas, dia tidak menanggapi kedua sosok yang berada di sampingnya.


Hela napas, buih udara dan air keluar dari sepasang insang yang terletak di area tulang selangka wanita itu.


Haruskah Òsedian memanggil? Dewi batin dari makhluk tersebut bertanya. Tivana tak kunjung memberikan reaksi terhadap kehadiran Òsedian maupun Ilda. Ragu—Òsedian akhirnya memutuskan untuk buka suara. Dia memanggil nama Tivana, dengan nada lembut dan juga ramah meski sedikit gagap. Ini karena dia merasa agak gugup.


"A-Ana?"


Tidak ada reaksi.


Tivana masih menampilkan raut wajah seperti ikan mati. Dia terlihat sadar tapi sebetulnya tidak, Ilda merasa ada yang menghalangi kesadaran dari wanita itu. Entah apa, Ilda tak tahu.


Kembali ingin memanggil nama Tivana, ucapan Òsedian tiba-tiba tertahan. Wanita tersebut tanpa diduga membuka kedua bibirnya perlahan lalu kemudian berkata.


DEGH!


Jelas menggetarkan hati para pendengarnya.


...***...


"KENAPA?!" teriak sosok itu, melepaskan diri dari Òsedian.


Tivana berenang menjauh, menatap kedua tangannya dengan mata yang bergetar. Dia jelas merasakan kegelapan yang begitu damai tadi, tapi? Kenapa?! Kenapa kedua kelopak matanya malah terbuka?!


"Kenapa aku masih hidup?!" pertanyaan yang sama kembali muncul. Tivana tidak terlihat seperti sosok biasanya, raut panik dan juga takut terlalu kental mendominasi.


Dia menggeleng, tak percaya.


Melihat sikap serta gelagat aneh yang wanita itu tunjukan membuat Òsedian panik, dia berupaya mendekat tapi seakan ada bola mata di belakang kepala Tivana—wanita itu langsung menghindar. Menjauh beberapa meter dari sosok Òsedian secara tidak sadar.

__ADS_1


"Ana, kau baik-baik saja?" pertanyaan bodoh. Òsedian tahu itu, tapi dia benar-benar kebingungan harus bertindak apa dan harus bagaimana. Tanpa sadar sosok tersebut menelan saliva kasar. Ilda yang menonton dari kejauhan memilih diam dan mengamati, dia rasa dia lebih baik tidak ikut campur dulu—kecuali situasi yang terjadi sudah berada di luar nalar.


Terus dan terus, Òsedian mencoba mempertipis jarak tapi Tivana selalu menghindar. Sebenarnya apa yang terjadi? Semua tindakan Tivana ini jelas bukan hal yang wajar, terlebih lagi untuk seseorang yang baru saja sadar dari pingsan mereka.


"Ana..." Òsedian kembali mencoba, kali ini dia ingin menggapai pergelangan tangan Tivana. Wanita yang masih sibuk dengan pikiran kacaunya mengelak, menepis kasar tangan milik Òsedian.


Tanpa sengaja, punggung tangan Tivana menyentuh Òsedian. Sosok tersebut pun tersentak, dinginnya suhu tubuh Òsedian seperti menyadarkan pikiran dari wanita itu.


Tivana sejenak membatu, Òsedian yang menyadari adanya celah di situ—tanpa pikir panjang langsung mendekat; sedekat mungkin.


"Ana..." panggilnya untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi Tivana tersentak, dia merespon panggilan tersebut. Beberapa detik setelah namanya di panggil Tivana lalu mendongak.


Manik mata dari wanita di depan Òsedian ini berkilat tajam, ketika pandangan mereka saling bersinggungan. Tidak ada sahutan, mulut Tivana terkunci rapat—kurang lebih seperti tadi; meski ada sedikit pembeda di mana raut muka panik digantikan oleh tatapan bengis.


Glek!


Lagi. Menelan saliva kasar.


Ini membuat Òsedian gelisah. Sial! Dia merasa terintimidasi, mengikuti saran yang Ilda ucapkan sebelumnya. Makhluk setengah ikan itu mencoba bertindak sedikit hati-hati, terlebih dalam menghadapi sosok Tivana—pasangan sehidup sematinya.


Tangan Tivana kemudian terangkat, dalam keheningan panjang yang sangat tidak mengenakan ini—Òsedian melihat; wanita itu tengah menunjuk dirinya. Kemudian mulut Tivana terbuka perlahan, untaian kata keluar dari sana.


"Kau... tolong bunuh aku?" ucapnya, dibarengi linangan air mata yang keluar dari arah pelupuk mata lalu menyatu dengan lautan.


Setelah itu?


Tivana berakhir kehilangan kesadaran lagi. Jatuh dalam sebuah kegelapan yang menurutnya—sangatlah nyaman.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2