Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Telur


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Ah~ harusnya kau tetap tertidur. Padahal aku ingin sedikit lebih lama lagi bersenang-senang."


Menjijikan! Batin Ana usai mendengar penuturan yang baru saja makhluk di depannya ini katakan. Siapa lagi kalau bukan Ilay, saudara kembar Ilda.


Sambil memapah mermaid di sampingnya, Ana melayangkan tatapan tajam—begitu juga dengan Ilda. Ia tak henti-hentinya menggeram, sembari menahan rasa sakit tentunya; akibat luka dalam yang dia derita setelah mengusir paksa sosok Ilay dari dalam tubuh. Beruntung, begitu berhasil menendang keluar Ilay Ilda langsung melafalkan mantra penyembuh—jadi mermaid tersebut bisa dikatakan bebas dari kondisi kritis.


Hah~


Kembali lagi ke-topik pembahasan utama. Entah apa yang terjadi pada isi kepala dari sosok di depan sana, tapi Ana rasa Ilay itu sedikit gila. Percaya atau tidak, dia memberikan senyum sumringah pada Ilda maupun Ana setelah mengatakan semua bualannya—entah soal Ilda yang seharusnya tertidur saja atau soal keinginan dia yang ingin sekali bermain lebih lama.


Makanya Ana mendelik, dia benar-benar tidak suka dengan perangai serta tutur kata tak masuk akal dari makhluk satu itu. Terlepas dari wajah yang ternyata memiliki kemiripan luar biasa dengan Ilda. Hanya menduga, tapi sepertinya Ana bisa menebak siapa sebenarnya sosok Ilay dan apa hubungan dia dengan Ilda—dilihat dari respon Ilda sendiri yang tampak mengenalinya.


Mereka saudara.


Atau tepatnya KEMBARAN.


Jujur bibir Ana sangat-sangat gatal, dia ingin sekali cepat-cepat menginterogasi Ilda; agar dia bisa mendapatkan sebuah jawaban.


Sejatinya apa yang terjadi pada Teluk?


Bagaimana bisa kawanan mermaid menyerang?


Membawa malapetaka lalu membinasakan bangsa siren secara membabi buta?


Mengapa ada makhluk yang memiliki wajah serupa dengan Ilda? Dan kenapa Dia dipanggil sebagai Prince oleh mermaid lainnya?

__ADS_1


Ana ingin tahu.


Dia ingin tahu alasan dari peristiwa yang bisa disebut sebagai TRAGEDI tersebut.


Sebelum kewarasan milik Ana kembali hilang, dia berjuang mati-matian untuk tetap bertahan di atas tumpukan mayat dari bangsanya. Darah seorang pejuang, entah kenapa Ana rasa dia memiliki hal tersebut di-nadinya, percaya atau tidak.


"Hosh..." terdengar lenguhan panjang. Ilay memilih menjadi makhluk pertama yang memecahkan ketegangan, bagaimana bisa Ana maupun Ilda sama sekali tidak memberikan respon terhadap ucapannya. Malah memilih diam seperti batu padahal Ilay sengaja memberi nada mengancam di akhir kalimat, tapi! Agaknya tak ada satupun yang termakan provokasi dari dia.


Lain dengan yang tadi, Ana sempat menggila karena emosi dia terguncang. Coba lihat sekarang, benar-benar membosankan; pikir Ilay. Di tambah kemunculan Ilda yang membuatnya menjadi semakin tidak menarik.


Ilay rasa dia perlu memikirkan sesuatu agar suasana panas kembali tercipta. Berbeda dengan sosok antagonis di depan mereka, Ilda maupun Ana sungguh hanya mampu menampilkan gelagat super duper waspada.


Dua makhluk setengah ikan tersebut sangatlah luar biasa, dalam hitungan detik dapat beradaptasi dengan baik serta mampu mengembalikan emosi menjadi tenang seolah tak pernah terjadi apapun.


Mengawasi baik-baik sosok Ilay, keheningan panjang tanpa sadar kembali tercipta sampai akhirnya Ilay membuat keputusan di luar nalar. Dia tiba-tiba merubah bentuk menjadi kecil lalu berenang dengan sangat cepat memutari Ana dan Ilda, menciptakan pusaran air laut dengan tekanan yang lumayan kuat.


Merasakan hal tersebut membuat Ana panik, rerumputan dari padang lamun yang menutupi para telur terangkat—terbawa arus buatan yang diciptakan oleh Ilay. Insting keibuan Ana otomatis membawa tubuhnya bergerak; melawan hal gila juga aneh yang sedang Ilay lakukan untuk melindungi anaknya.


Gerak-gerik mencurigakan itulah; membuat Ilay kembali menaruh minat terhadap sosok Ana. Di lihatnya ada telur di sana. Tanpa sadar mermaid berwatak minus yang tampaknya hobi bersenang-senang menggunakan kekejaman tersebut mendecih. Dia tidak mengira kalau siren betina yang dia taksir ternyata sudah memiliki pasangan, bahkan anak?!


Tidak bisa dibiarkan. Dalam waktu singkat Ilay memindahkan fokus menuju Ana dengan telur-telurnya. Ilda merasakan kejanggalan dari pergerakan sang saudara kembar yang tidak se-konsisten tadi mencoba untuk mencari tahu, tapi sayang—


Semua berlangsung sangat cepat.


Dan sulit untuk dicegah.


Ana menyaksikan menggunakan mata kepala dia sendiri, telur-telur yang berusaha dia lindungi dirampas paksa oleh Ilay. Lalu?


Ana hanya mampu terdiam dengan lidah kelu, menonton makhluk biadab tidak bermoral tersebut memakan satu persatu anaknya.


Tanpa sisa.


Sebuah kata yang cocok menggambarkan sosok Ilay yaitu—K E J A M. |


...***...


Kelopak mata Ana berkedut, rasanya pedih. Tak tahu raut muka seperti apa yang sekarang sedang Ana tunjukan yang pasti—dia benar-benar merasakan guncangan hebat hingga rona diwajah menjadi sangat pucat.


Sebenarnya tidak hanya Ana yang mengalami shock secara mental, kondisi Ilda juga tidak jauh berbeda dari siren betina itu. Tak mampu berkutik sampai mereka melihat Ilay menjilat ujung bibirnya; bekas cairan telur. Tampak terlihat sangat lezat, iyakan Ilay?


Padahal mereka sebentar lagi akan menetas, batin Ana. Hanya tinggal menunggu saja, tapi apa? Apa yang baru saja Ana lihat?


Tepat di depan mata kepala dia sendiri.


Sampai-sampai membuat Ana tidak mampu berkutik. Tewasnya para calon anak-anaknya.


"ARRRRGGHHHHHHH?!!!!!!!!!!!" Ana berteriak kencang, air mata dari siren betina tersebut banjir—menyatu dengan lautan.

__ADS_1


Kacau!


KACAU!


KACAU!!!


Ana langsung menyerang Ilay, meraung sejadinya setelah menyaksikan anak-anaknya tewas. Kenapa baru sekarang?! KENAPA BARU SEKARANG DIA BISA BERGERAK?!


Menggerakan ekor bersiripnya?!


KENAPA?!


Brutal tanpa pola, Ilay menerima semua serangan Ana dengan hati yang terbuka—seolah dia adalah seorang masokis saja.


Beda dengan Ilda, begitu mendengar Ana berteriak lantang dengan nada histeris mermaid itu barulah tersadar. Tangan dia gemetar, sekejam ini ternyata sosok kembarannya.


Tak puas membunuh para siren yang hidup damai di Teluk, dia bahkan mengincar para telur tidak berdosa yang belum mendapatkan kesempatan untuk melihat luasnya lautan.


"MATI!" lekingan Ana kembali terdengar. Ilda tersentak, mendongak menuju kearah betina itu. Ana benar-benar sangat kacau, dia menggila—mencakar, menggigit, apapun selama bisa menyakiti sosok Ilay.


Tapi! Semua usaha tersebut hanyalah kesia-sia-an dan akan berakhir nihil. Ilda tahu, sekadar luka kecil kembarannya tersebut pasti akan dapat dengan mudah menyembuhkannya ditambah Ana sama sekali bukan siren tipe petarung.


Paling hanya terasa seperti sengatan seekor ubur-ubur saja. |


Ya meski, apa yang Ana lakukan lebih baik dari pada Ilda yang sama sekali tidak dapat menggerakan sirip ekornya.


Seolah tertancap mati di sana. |


Andai saja ada Òsedian di sini, mungkin—hal buruk semacam ini tidak akan pernah terjadi.


Andai saja.


Aku tetep berada di pengasingan.


Jlep!


"Hah?"


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2