Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Kehidupan Damai


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


Ana baru saja membuka kedua kelopak mata miliknya. Dengukuran halus terdengar tepat di samping tubuh dari siren betina itu, siapa lagi pemilik dengkuran halus tersebut kalau bukan Òsedian.


Dia benar-benar terlelap dengan wajah damainya, kedua lengan berkuku tajam khas makhluk karnivora melingkar erat di area perut Ana. Seolah tidak ingin lepas ataupun berjauhan.


Sudut bibir Ana terangkat, lucu—menciptakan sebuah senyuman hangat. Siren betina ini merasa senang karena yang pertama kali menyambut dirinya ketika bangun adalah pemandangan indah dari wajah tampan Òsedian.


Sebelah tangan Ana lalu terangkat bergerak menuju garis rahang milik Òsedian, dia membelai manja wajah itu dengan jemari ramingnya. Terkekeh sebentar kala mendapati Òsedian tampak merasa terusik.


Padahal Ana yang digempur tapi kenapa siren jantan ini malah terlihat seperti makhluk yang paling kelelahan di seluruh lautan? Aneh.


Ana kemudian memilih untuk merubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk di atas tempat yang tidak lain adalah rumah baru mereka. Gila. Padahal mereka baru saja sampai, Ana bahkan tidak sempat mendekorasi interior dari tempat ini—mereka malah melakukan hal senonoh dan tercela di sana. Semakin Ana pikiran, dia lama-lama mulai merasa semakin malu.


Dengan wajah merah, Ana mencoba membuyarkan bayangan dari moment-moment panas yang baru saja mereka lakukan. Toh! Sekarang kedua makhluk tersebut tidak lagi saling menempel. Rasa sakit semalam juga menghilang entah kemana. Ajaib. Apa karena memang tubuh siren sudah dirancang sedemikian rupa? Makanya Ana bisa melalui proses kawin yang mengerikan tersebut dengan baik. Syukurlah, Ana pikir dia akan mati.

__ADS_1


Melepaskan tautan tangan yang melingkar di perutnya dengan gerakan pelan agar Òsedian tidak terkejut lalu bangun; ketika berhasil—siren betina ini benar-benar bernapas lega. Bangkit dari posisi, Ana meregangkan tubuhnya lalu bergerak berenang menuju celah luar yang bentuknya mirip jendela serta fungsi lain dari benda itu adalah sebagai akses keluar masuk dari tempat ini. Apa lagi kalau bukan pintu. Sebut saja begitu.


Pemandangan yang berada di luar sana menyambut manik mata milik Ana. Dia tersenyum simpul, mungkin karena kemarin mereka berada disuasana malam makanya banyak sekali kerlap kerlip cahaya aneh bak sebuah sihir. Kalau sekarang lebih mirip seperti pemandangan laut biasanya.


Beberapa siren ada juga yang lalu lalang. Tidak se-produktif malam hari, pikiran Ana melayang.


"Apa siren itu nokturnal?" gumamnya bernada tanya.


DEG!


Lalu menyadari sesuatu. Ana mengernyitkam keningnya, istilah asing apa yang baru saja keluar dari dalam mulut siren betina itu? Seolah Ana bukan berasal dari bagain bangsa siren saja, sampai-sampai dapat berujar demikan.


Menarik~


Apa ini efek samping dari kehilangan ingatan? Tanya dewi batin Ana. Meski dia suka berpenampilan kekanakan dan bertingkah menggemaskan layaknya bayi kuda laut yang baru saja lahir, jujur saja otak siren betina itu masih sama cerdasnya seperti milik Tivana. Dia mudah dalam beradaptasi. Ya walau Ana tidak tahu tentang eksistensi dirinya di masa lalu. Berkat pencucian otak yang Òsedian lakukan. Ha-ha! Tolong rahasiakan itu dari Ana.


Lama termenung dengan pikiran dia sendiri, siren betina ini tidak menyadari bahwa sosok Òsedian tengah menggeliat gelisah. Tangan dari siren jantan itu meraba-raba sekitar, mencoba mencari sosok Ana tapi karena tak kunjung mendapatkannya—dengan berat hati ia membuka kedua kelopak mata.


Yups! Ana tidak berada di dekat tubuhnya.


Rupanya di sana, batin Òsedian. Bergerak sendiri menuju kearah Ana lalu memeluk tubuh makhluk itu dari belakang. Jelas hal ini membuat si empunya tubuh terkejut, lantaran sepasang tangan tengah menyusup lalu melingkar di area perutnya; lagi. Tak sampai di situ saja, dagu Òsedian mendarat tepat di atas pundak milik Ana; menyembunyikan wajah tepat di antara tengkuk dari siren betina itu.


"Pagi..." gumam Òsedian mengantuk. Lalu kembali tertidur.


...***...


Beberapa hari sudah terlewati, percaya atau tidak—kehidupan yang Ana jalani bersama Òsedian benar-benar sangat damai.


Damai yang begitu indah tepatnya.


Sesekali melakukan hal mesra bersama siren jantan itu, berjalan-jalan di sekitaran teluk lalu bersenda gurau dengan para siren lainnya yang merangkap menjadi tetangga.


"Mau kemana sayang?" tanya Ana, mulai terbiasa memanggil Òsedian dengan sebutan yang lebih intim lagi.


Òsedian berbalik, gerakan hendak keluar dari tempat tinggal mereka tertahan. Ana lihat wajah gugup terpampang jelas di sana, Òsedian lalu berucap.

__ADS_1


"Ada panggilan mendesak dari Bàba..." dengan wajah sedikit panik. Hal ini membuat Ana mendekat, mengernyitkan alis sambil bertanya—ada apa dengan Alpah tua itu?


Òsedian menghela napas pelan, sial! Dia malah menyalurkan rasa paniknya pada siren betina ini. Ana yang tidak benar-benar mengerti situasi menggapai pergelangan tangan milik Òsedian. Siren jantan tersebut pernah berkata padanya, kalau Bàba itu sudah menjadi figur ayah bagi seluruh siren yang hidup di Teluk ini, jadi wajar kalau Òsedian merasa khawatir terhadap ayahnya tersebut—lebih lagi dia melakukan panggilan darurat. Ana memang tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi. Namun Ana harap Òsedian mau menjelaskan barang sedikit pada dirinya agar bisa mengerti.


Merasakan kegundahan, Òsedian ingin membuka celah bibirnya—bicara. Tapi seekor siren yang Ana ingat sebagai salah satu dari kenalan Òsedian terlihat berenang mendekat, dia memasukkan setengah badannya kedalam rumah sembari memanggil.


"Òßè—?!" Bersama wajah yang tak kalah paniknya. Ana tidak sengaja mendengar Òsedian berdecih, siren jantan itu tanpa pikir panjang langsung melepaskan tautan tangan milik Ana. Tanpa menoleh kebelakang—makhluk setengah ikan bersisik emerald itu pergi berenang meninggalkan sosok Ana; seorang diri di dalam sana.


Sakit hati?


Ana rasa dia tidak punya waktu untuk medalami perasaan tersebut. Hati kecilnya berkata, semoga semuanya baik-baik saja. Mendoakan kepergian Òsedian yang bergerak menuju kearah tempat Bàba berada.


Dari apa yang Ana lihat, selain kedua siren yang ia kenal; banyak siren jantan lainya yang ikut berenang. Òsedian sebagai pemimpin di depan mereka. Siren betina seperti Ana rata-rata bersembunyi di tempat tinggal mereka masing-masing, ada yang dekat terumbu karang, celah tebing, ataupun bekas cangkang kerang raksasa yang entah bagaimana bisa tetap utuh di dasar lautan.


Belum sampai beberapa menit ekor dari gerombolan siren jantan itu menghilang ketika memasuki gua. Suara aneh yang panjang terdengar.


Bukan hanya dari satu ekor saja, tapi dari semua siren jantan yang mungkin ada di sana. Menggema, menggetarkan seisi lautan dengan suara mereka.


Ana tak paham, apa yang saat ini terjadi? Tapi! Satu hal yang pasti, siren betina ini menduga kalau suara itu adalah—


"Nyanyian para Siren?" gumamnya, merasa gemetar akibat ke-piluan yang ada pada nyanyian tersebut.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2