
..._______________________...
...M e n j a u h !...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Memicingkan mata, Tivana menatap bengis kearah Ilda. Apa yang dilakukan wanita itu spontan membuat Ilda berhenti melangkah. Merasakan perbedaan atmosfer yang sangat kentara tersebut; Ilda berhasil meyakinkan diri kalau sosok yang berada tepat di depan matanya ini bukanlah Ana, melainkan Tivana.
"Lam-a tidak ber-temu?" sapa Ilda canggung yang langsung mendapatkan lemparan dari sebuah jam weker.
BRAKK!
Suara hantaman dari benda itu terdengar cukup keras—mengenai tepat dinding ruangan di samping tubuh Ilda. Johan meringis, padahal jamnya tidak salah apa-apa; dia hanya duduk manis di atas nakas yang kebetulan berada di samping ranjang.
Ilda terpejam. Serpihan kaca jam berserakan di dekat kakinya, lama tidak bertemu Tivana—siapa sangka sosok tersebut malah semakin brutal. Apapun penyebab kembalinya ingatan wanita itu, persetan! Ilda malas berpikir.
Mendengus remeh, Tivana menampilkan raut wajah jijik sembari membuka mulut untuk bicara.
"Ya, lama sekali rasanya. Bagaimana kabarmu Ilda?" sarkas Tivana yang berakhir dengan kalimat tanya.
Menelan saliva kasar, kalau boleh jujur Ilda benar-benar enggan untuk menjawab. Tapi! Agar suasana tidak semakin keruh, lebih baik dirinya menjawab serta menerima respon yang akan diberikan Tivana nanti dengan lapang dada.
"Baik—?"
"Heh?!" Baru kata pertama yang keluar dari mulut Ilda Tivana sudah langsung memotongnya dengan sebuah dengusan.
Baik sekali~ Pikir wanita itu sambil merotasi kedua bola mata jenuh.
"Bagaimana hidup damai mu bersama Ana? Dia siren betina yang sangat manis juga ramah, iyakan?" celatuk Tivana lagi, bernada super duper sarkas. Entah kenapa wanita ini merasa dia perlu menyinggung soal kepribadian buatan miliknya itu; pada Ilda, sang pencipta sosok Ana.
Jangan salah, Tivana ingat dengan jelas siapa pemilik ide gila tersebut. |
Di tambah konconya, siapa lagi kalau bukan Òsedian.
__ADS_1
Merapatkan bibir, Ilda tak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Dia menunduk malu, semua kemunafikannya berbalik arah lalu menyerangnya. Luar biasa, inikah yang dinamakan KARMA?
"Huh?!" mendengus, Tivana tahu kalau Ilda tidak bisa menjawab. Memilih menenangkan diri, wanita tersebut terlihat mengendurkan otot wajah. Bukan waktu yang tepat jika dia ingin meluapkan amarah, atau lebih tepatnya sudah terlambat untuk dia meluapkan gejolak emosi di dalam dirinya. Saat ini hanya tersisa perasaan lelah saja.
"Pergi." satu kata terucap dari mulut wanita itu setelahnya. Tidak ada yang tahu maksud dari ucapan tersebut. Johan sebagai pihak ketiga memilih tetap diam di tempat; tidak ikut campur. Lagi pula ini bukan masalahnya.
"Hosh..."
Menghela napas, Tivana mendongak lalu terpejam sebentar. Rona muka wanita itu tidak main-main—dia sungguh kacau. Celah bibirnya kembali terbuka, seksama Ilda menyaksikan apa yang ingin Tivana katakan.
"Kumohon pergi dari sini Ilda, melihatmu membuatku teringat semua mimpi buruk yang terjadi pada anak-anakku. Menjauh! Aku tidak ingin terlibat lagi dengan kalian, kau ataupun Òsedian. Kumohon!" ucap Tivana lirih, membuka kedua kelopak mata kemudian menatap kosong kearah Ilda.
Si empunya tubuh (Ilda) menggigit pipi bagian dalam ketika mendengarnya. Padahal hanya sebuah kalimat permohonan biasa saja, jika sekilas didengar—tapi! Ilda paham betul beribu maksud yang tersirat di dalam perkataan tersebut.
Dia meminta Ilda pergi, pergi dari sini! Menjauh sejauh mungkin dari hadapan wanita itu dan jangan pernah muncul lagi.
Renungi penyesalanmu Ilda, sedari awal—bukankah akar dari semua masalah yang menimpa Teluk hingga menghancurkan seisinya termasuk telur-telur Tivana adalah dirimu?
Andai saja mermaid ini tidak datang dan tinggal di sana.
Mungkin malapetaka yang dibawa oleh saudara kembarnya itu tidak akan pernah terjadi.
Semua ini salahmu!
SALAHMU ILDA?!
"Baiklah."
Johan menyaksikan, mermaid muda bernama Ilda yang berada tak jauh darinya tersebut memilih membalikkan badan. Kehabisan kata-kata. Sebelum benar-benar beranjak pergi dari sana, Ilda kembali melirik kecil kearah Tivana dengan wajah getir. Susah payah, mermaid itu membuka celah bibirnya. Johan duga mungkin ini akan jadi kata terakhir yang dapat makhluk itu katakan.
"Maaf..." bisik Ilda, lalu berjalan menjauh dari sana—hingga punggung serta bayangan dari mermaid tersebut tidak dapat lagi terlihat oleh mata; menyisakan Tivana bersama Johan yang berada tepat di pojok ruangan.
...***...
Hari demi hari tak terasa terlewati, masih bagaikan mimpi—Tivana dapat kembali kedaratan dengan keadaan hidup-hidup. Luar biasa, andai semua yang pernah terjadi hanyalah bunga mimpi meski itu terlalu nyata untuk disalahartikan—inilah paradoks; pikirnya kadang-kadang.
Merenung di atas ranjang sembari memulihkan keadaan ditemani oleh sosok Johan, si penyihir gurita.
Fakta mengejutkan, tapi setidaknya Tivana merasa jauh lebih aman bersama lelaki itu. Persetan soal identitas sebenarnya! Tivana muak.
__ADS_1
Dia tidak ingin membebankan pikiran hanya karena mencoba mengulik habis siapa lelaki di sampingnya tersebut.
Johan sendiri juga tidak ada niatan untuk menjelaskan atau sekadar memberi keterangan tentang siapa dirinya. Biar keheningan panjang yang menjawab, menyelesaikan tugas mengupas serta memotong apel menjadi bagian kecil. Lelaki tersebut lalu memberikan benda itu kepada Tivana.
Tidak berkomentar, wanita yang masih belum bisa beranjak dari atas ranjang ini langsung menggapainya. Menyuap dengan lahap benda tersebut kedalam mulut, rasa manis dari buah apel terasa diseluruh permukaan lidah.
Tampak sangat canggung jika dilihat-lihat.
Memutuskan buka suara, Johan memulai percakapan pertamanya kepada sosok Tivana.
"Setelah ini apa yang akan kau lakukan Tivana?" tanya Johan.
Yang diberikan pertanyaan menoleh, menyelesaikan makannya tapi tidak berkomentar. Tahu akan jadi begini, lelaki gurita itu kembali melanjutkan kata-kata dia.
"Seluruh orang yang mengenalmu termasuk orang tuamu Tivana, sudah menganggap dirimu mati. Jadi? Kau pahamkan maksudku? Setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Kembali kekehidupan lama mu dan membual soal segalanya yang sudah terjadi atau memilih menghilang dari peradaban dunia? Ingat! Kau bukan lagi manusia Tivana, eksistensi dirimu sangatlah tabu." terang Johan panjang lebar yang berhasil membuat wanita tersebut menarik beberapa point penting di dalam sana.
Nyatanya walau ekor berubah lagi menjadi kaki Tivana sudah sepenuhnya menjadi seekor siren secara kebetulan tanpa dikehendaki. Adanya wujud manusia sekarang mungkin karena berkat Johan yang memberikan sedikit sihir luar biasa-nya pada wanita malang itu. Makanya Tivana bisa merasakan kembali bagaimana rasanya menjadi manusia, meski hanya sesaat. |
Perlahan tapi pasti, akhirnya celah bibir dari wanita setengah siren tersebut terbuka. Dia hendak bicara.
"A-aku tidak tahu..." ucap Tivana bingung sambil menggelengkan kepala. Perkataan ini sangatlah jujur, dia benar-benar tak tahu lagi harus bertindak seperti apa. Sebagaimana yang dijelaskan di awal; Tivana sudah sangat-sangat lelah dengan kehidupan.
"Menurutmu Johan? Apa yang harus aku lakukan?" lanjutnya, bertanya pada lelaki tersebut.
...***...
...T b c...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
...Bye...
__ADS_1
...:3...