Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Menjadi Aneh


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


Jangan coba-coba untuk keluar dari sini!


Itu yang terlihat di dalam raut muka milik Ilda saat Ana menoleh kearahnya. Cengkeraman dipundak siren betina tersebut terasa semakin kuat, Ana melirik. Ilda benar-benar menaruh hampir semua kekuatannya di sana—dengan harapan betina satu ini tidak melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan dirinya sendiri.


Lebih lagi untuk telur-telur berisi keponakan Ilda nanti. Akan jadi masalah jikalau sesuatu di luar sana mengetahui sarang mereka, lalu memilih untuk memporakporandakan makhluk-makhluk kecil tak berdaya itu (telur); seperti memecahkan atau memakan mereka secara sengaja.


Tidak ada yang mengharapkan hal tersebut, iyakan?


Jadi Ilda memohon dengan ekspresi wajahnya agar Ana jangan bertindak gegabah hanya karena rasa penasaran saja. Memahaminya, siren betina bersisik peach tersebut mengendurkan keinginan. Dia meletakkan telapak tangan menuju punggung tangan milik Ilda, seraya mengangguk paham kearah mermaid jantan itu dengan wajah manis.


Ilda melepaskan tangan dari pundak Ana, kemudian berpindah menuju pergelangan tangan dari siren betina itu agar ia dapat menarik Ana pergi menjauh dari situ. Lebih baik meletakkan betina satu ini dekat dengan anak-anaknya. Meski belum sampai setengah jalan suara teriakan tiba-tiba terdengar. Ana yang mendengar tersentak, spontan menepis tangan Ilda lalu memilih berbalik—kembali menilik.


Di antara celah dari padang lamun tersebut, Ana mengintip. Sebenarnya apa yang tengah terjadi di luar sana?! Menyikapi sikap yang di tunjukan oleh Ana Ilda hanya mampu menghela napas lelah. Dia tahu siren betina satu ini memang memiliki sifat yang sangat pemberani, mengingatkan Ilda pada sosok Tivana. Sebelas dua belas saja—kan mereka satu tubuh meski kepribadian mereka berdua sangatlah berbeda.


Memilih mengikuti apa yang dilakukan Ana, Ilda memutuskan untuk mengintip juga. Tentu sambil memegang kembali pergelangan tangan Ana, mencegah siren betina bersisik peach tersebut supaya tidak bertindak impulsif. Cuma ini langkah satu-satunya yang dapat Ilda pikirkan agar ia bisa menjaga sosok Ana tetap jauh dari bahaya.


Nanti mermaid itu akan meminta maaf secara terpisah pada Òsedian karena sudah menggenggam tangan dari pasangan sahabatnya tersebut seenak jidat.

__ADS_1


Berwajah serius, sampai detik ini Ana sama sekali tidak dapat menemukan 'sesuatu' yang bisa dikatakan menjadi sumber dari teriakan tersebut. Tapi! Jika ia tidak salah mengenali, nada teriakan tadi terdengar seperti milik seseorang yang sebangsa dengan dirinya—alias itu adalah teriakan milik seekor siren.


Curiga, Ana semakin menyipitkan mata. Beberapa detik setelah itu dia malah mendapati bayangan hitam aneh yang lumayan banyak—bergerak secara bergerombol.


Apa itu? Batin Ana. Menganalisa semua ciri-ciri yang dapat ia tangkap dengan kedua manik matanya.


Tak terlalu besar, panjang tubuh dari bayangan aneh itu tidak lebih besar dari seekor siren dewasa; mungkin 2 kali lebih kecil dari tubuh Ana. Mirip-mirip seperti sosok Ilda. Memiliki sirip hanya saja tidak selebar dan sebanyak yang dimiliki oleh siren. Sebenarnya Ana tidak ingin mengeluarkan pendapat, tapi melihat bukti nyata berseliweran tersebut.


Siren betina ini sudah tidak dapat menyangkalnya.


Serupa dengan apa yang Rivàn katakan.


"Itu Mermaid."


Segerombolan mermaid tengah menyerang.


...***...


Glek!


Ilda menelan saliva kasar, dia gugup. Mengapa mermaid dengan jumlah ratusan berenang meng-invasif area sekitar Teluk bersama tawa jahat mereka?


Tanpa sadar mermaid bercorak biru tersebut bergerak mundur. Tubuhnya gemetar, semakin kuat saat kedua telinga milik Ilda mendengar Ana menyerukan nama dari bangsanya.


"Itu Mermaid."


Aku tidak tahu apapun soal mereka?! Terbaca dari mimik wajah Ilda.


Mermaid itu takut pada apa yang akan siren betina di sampingnya ini tunjukkan. Barang kali Ana nanti malah akan menuduh Ilda tanpa alasan seperti; kau pengkhianat! Mata-mata! Kau membawa kawanan mu untuk menyerang Teluk! Kurang ajar?! Semacam itu, pada Ilda.


Jelas sekali bahwa mermaid tersebut saat ini benar-benar merasa ketakutan setengah mati, ia tak ingin kehilangan kepercayaan dari keluarga yang baru saja dia dapatkan. Dan itu dari Ana.


Memahami perubahan emosi yang terjadi pada Ilda membuat Ana bergerak cepat dengan bertindak langsung membingkai wajah menggunakan kedua telapak tangan.


"Tenanglah!" bisik Ana dalam. Serupa cicitan. Meminta agar Ilda dapat menenangkan dirinya atau persembunyian mereka akan ketahuan oleh makhluk-makhluk dari keturunan putri duyung itu. Ya meski tampaknya mermaid di depan Ana ini tidak terlihat mau mendengarkan, Ilda hanya bergumam.


Aku tidak tahu! Aku bukan bagian dari mereka!


Sejenis itu pada Ana sampai-sampai membuat telinga Ana terasa gatal tiap kali mendengarnya. Ia jadi hendak menyumpal mulut Ilda dengan koral, serius.

__ADS_1


"Okay! Okay! Aku paham, jadi tenanglah Ilda?!" desis Ana geram. Insting siren betina itu merasakan ada sesuatu yang mulai mendekati sarang mereka.


Memilih keputusan cepat Ana lantas menutup mulut Ilda menggunakan kedua telapak tangan miliknya dengan sekuat tenaga. Menilik dari balik ekor mata. Perlahan sesuatu yang mendekati sarang itu menghilang, Ana kemudian mengembuskan napas lega. Walau hal mengejutkan lain tiba-tiba saja muncul.


Dia merasakan Ilda menjilat jemari tangannya, membuat Ana tersentak—hendak menjauhkan diri dari sosok Ilda yang naasnya siren itu gagal melakukannya.


Tangan Ilda menangkap Ana, mencengkeram benda itu dengan kuat seperti posisi tadi lalu kembali menjilati.


Prilaku aneh tersebut menimbulkan rasa ngeri di bagian ulu hati Ana. Apa yang terjadi dengan Ilda?! Tanya dewi batinnya. Menyaksikan manik mata milik Ilda yang berkilat tajam sebelum berubah warna menjadi merah.


Alarm bahaya berputar di kepala Ana.


Sekuat tenaga melepaskan tangan dari cengkeraman makhluk setengah ikan yang berada tepat di depan mata.


"Siapa kau?!" spontan Ana bertanya, apa yang terbesit dalam benaknya. Jelas-jelas sosok di depan sana adalah Ilda tapi tingkahnya tidak seperti Ilda. Sejauh Ana mengenal sosok tersebut.


Ilda yang mendapati pertanyaan itu malah tertawa. Menyeka rambutnya menggunakan sela jari tangan, dia kemudian berkata.


"Manisnya~ ku pikir aku ingin memiliki dirimu sayang."


DEGH!


Kurang ajar!


Tanpa sadar Ana mendesis, geram. Dia tidak suka dengan atmosfer yang mengelilingi tubuh sekitar Ilda. Melihat bentuk perlawanan, Ilda tersentak kecil—lebih kearah main-main.


"Ah! Maafkan aku." ucapnya, seraya melakukan gerakan menunduk seperti seorang kesatria yang tengah meminta maaf.


"Aku sudah melakukan tindakan tidak sopan pada mu Lady..." sambung ia lagi. Menimbulkan tanda tanya besar, di dalam kepala Ana. |


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggal jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2