
Perih, kulit berlapis sisik penuh dengan lebam itu terasa perih. Meringkuk takut di sudut sana, menyaksikan wajah dari sang kembaran yang terlihat sangat senang seusai menyiksa dirinya.
"Ilay? Apa yang kau lakukan di situ?" Seseorang tiba-tiba bertanya. Mermaid dewasa dengan trisula tersebut meneliti dari atas kebawah bersama tatapan dalam.
Ilda gemetar, dia menunduk takut—lain halnya dengan si kembaran; Ilay. Dia justru mendekati mermaid dewasa itu tanpa tahu malu.
"Tidak Ayah..." sahutnya sambil terkekeh senang.
"Aku hanya memberikan pelajaran pada Kakak, entah bagaimana bisa dia jadi sebodoh itu."
Menjijikan. |
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Apa yang baru saja Ana katakan? Segerombolan mermaid menyerang? Tidak mungkin! Bagaimana bisa?! Teluk terkenal sebagai daerah teraman bagi siren karena keajaibannya sendiri; tak ada satu mermaid-pun 'seharusnya' dapat menerobos masuk tanpa izin kedalam Teluk. Percayalah. Tempat ini merupakan benteng terbesar yang pernah dimiliki para siren, bahkan letaknya saja sulit untuk ditemukan.
Tapi?!
Bagaimana bisa?! Jerit Ilda, panik. Dia lantas menoleh kearah siren betina yang tidak lain adalah Ana, entah kenapa Ilda rasa dia perlu melakukan itu—menunjukan kesungguhan agar Ana percaya kalau dia bukan merupakan bagian dari para mermaid yang menyerang. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Ilda tidak ingin dicurigai apa lagi sampai dianggap sebagai seorang pengkhianat.
Lebih lagi jika itu oleh Ana, salah satu keluarga yang baru saja ia dapatkan. TIDAK!
Jangan sampai!
Meski pemikiran Ilda tersebut ternyata lumayan dangkal, dia tiba-tiba merasa pusing. Suatu perasaan terbakar bergejolak, segel budak di atas lidahnya yang seharusnya tidak berfungsi lagi mulai terasa sakit. Ada apa ini?!
Menahan dengan cara melawan, Ilda menggigit dalam lidahnya dengan gigi. Persetan! Semisal benda itu akan putus nanti yang penting ia dapat mempertahankan kesadaran penuh miliknya. Ya walau sebenarnya usaha tersebut hanyalah sebuah kesia-sia-an. Guncangan hebat terasa mengaduk-aduk jiwa Ilda. Dia mulai kesulitan berpikir bahkan untuk sekadar menanggapi sosok Ana.
Dan—!
Dalam hitungan sepersekian detik. Ilda rasa ia seperti dihisap oleh kegelapan; ditarik paksa dari kepemilikan atas tubuhnya sendiri.
Oleh siapa?
__ADS_1
Oleh Ilay. |
...***...
Di mana ini?
Pertanyaan yang pertama kali muncul saat Ilda berhasil mendapatkan setitik dari kesadaran miliknya. Mermaid tersebut melihat sekitar, hanya ada kegelapan di dalam sana menghiasi sejauh mata memandang. Seperti habis tertidur, itu yang ia rasakan beberapa waktu lalu.
Berpindah, Ilda kini mulai menatap nanar kedua tangannya. Mati rasa. Dia merasa masih berada di alam mimpi. Apa sebutannya?
Lucid dream?
Sadar kalau dirinya berada di dalam mimpi. Apa yang terjadi?! Pertanyaan klise yang selalu muncul ketika seseorang mengalami sebuah fenomena dengan tanda tanya besar di atasnya.
Ilda penasaran.
Kenapa dia tidak bisa bangun dan mendapatkan kesadaran diri sepenuhnya? Malah terjebak di antara keadaan sadar tidak sadar. Seolah ada yang menghalangi atau lebih tepatnya ada yang menepati.
Terakhir yang mermaid ini ingat adalah tentang dirinya yang sedang berbicara dengan Ana, soal 'aku bukan bagian dari mereka dan aku bukanlah seorang pengkhianat' semacam itu—lalu kegelapan tiba-tiba menarik paksa sosok Ilda hingga dia berakhir di sini. Entah apa yang terjadi setelah itu, Ilda kurang tahu.
Lebih baik mencari tahu apa yang saat ini ia alami, pikir Ilda. Coba menelaah semua informasi yang dia miliki. Sensasi jiwa yang lepas dari raga?
Familiar.
Masih tinggal di kerajaan mermaid yang dipimpin oleh mermaid dewasa dengan tital raja di depan namanya; bersama sang KEMBARAN.
Ilay.
Atau lebih tempatnya adalah sang pangeran.
Ah! Benar. Ilda ingat.
Dulu satu-satunya saudara kembar milik Ilda tersebut sering melakukan eksperimet kepada tubuh Ilda. Di barengi caci maki dan umpatan kasar, percaya atau tidak tak ada satu mermaid-pun yang mengharapkan kelahiran dari Ilda. Mermaid terbodoh dan dungu—anggap mereka. Itu kenapa Ilda selalu mendapatkan penyiksaan hingga beberapa kali hampir pernah sekarat.
Eksperiment terakhir yang Ilda ingat adalah ketika Ilay mencoba merasuki dan mengambil alih kesadaran serta tubuh milik Ilda dengan cara menanamkan segel budak, tapi! Karena mereka melakukan hal tersebut diusia muda jadi Ilay gagal melakukannya dan malah membuang Ilda kelautan lepas dengan kondisi nyaris mati.
Di situlah pertama kalinya Ilda bertemu dengan Òsedian, penyelamat hidupnya.
Berkat Òsedian-lah Ilda berusaha mati-matian untuk tetap berjuang, dia bahkan berhasil menghancurkan pola segel di atas lidahnya dan hidup dalam pengasingan tanpa satu mermaid-pun tahu bahwa pangeran bayangan masih tetap hidup—di luar sana. Ya itu yang Ilda pikirkan beberapa saat lalu sebelum ia yakin kalau sensasi lucid dream yang dia alami sangatlah tidak asing.
Ini semua jelas perbuatan dari Ilay, saudara kembarnya. Masuk akal, jika semua yang terjadi pada Teluk merupakan tanggung jawab dari mermaid bertital pangeran tersebut.
Akhirnya~
__ADS_1
Ilda dapat menarik satu kesimpulan menggunakan otak pintarnya, meski sedikit merasa buruk karena ada satu kenyataan yang tidak dapat ia sangkal; bahwa dirinya secara tidak sadar terlibat dalam penyerangan yang terjadi di Teluk para siren.
Tch!
Kurang ajar!
Jadi—Ilda sebenarnya selama ini hanya dimanfaatkan. Simpelnya begitu.
Mari tarik satu garis kesimpulan lain untuk mempermudah, entah sejak kapan agaknya pergerakan dari Ilda yang hidup jauh di lautan lepas tersebut diketahui oleh Ilay. Mungkin karena segel yang pernah ditanamkan oleh saudara kembarnya tersebut masih meninggalkan jejak, padahal Ilda sudah mati-matian untuk menghancurkannya. Ternyata sia-sia. Ilay pasti mengetahui fakta kalau dirinya berteman dengan seekor siren, itu kenapa rencana penyerangan ini tercipta.
Licik.
Saat Ilda benar-benar diterima di dalam lingkungan para siren Ilay melancarkan aksinya, membawa ratusan mermaid menuju Teluk tersembunyi para siren lalu memulai perang secara sepihak. Motif? Ilda rasa saudara kembarnya itu hanya ingin menjadi bangsa terkuat saja dengan menghancurkan bangsa lainnya. Tidak ada yang istimewa.
Dia selalu begitu, menjadi yang terkejam di antara kekejaman.
Dan untuk saat ini? Yang terjadi pada tubuh Ilda, mermaid itu menduga—Ilay mengambil alihnya untuk dapat membuka jalur menuju Teluk sehingga para prajurit mermaid di bawah pimpinan Ilay dapat memasuki Teluk lalu menghancurkannya.
Jika ada Òsedian di sini, mungkin ekor milik Ilda akan patah menjadi dua lalu mulutnya nanti akan dirobek secara paksa. Demi kebaikan. Agar Ilda tidak dimanfaatkan untuk membuat kekacauan. Sial! Ilay benar-benar tepat dalam memilih waktu, sekarang Ilda sangat merasa bersalah; pada para siren yang mengalami penyerangan serta pada sosok Ana.
Dia pasti merasakan kekacauan secara mental.
Menyaksikan Ilda bertindak seperti seorang PENGKHIANAT.
Ah~
Aku ingin memiliki siren betina itu. |
DEGH!
Apa?
...***...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
...Bye...
__ADS_1
...:3...