Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Waktunya Berpisah


__ADS_3

Nama mu adalah Ana, seekor Siren muda yang berhasil selamat beberapa tahun silam dari penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa Mermaid.


Lalu mengembara di lautan lepas dengan sebuah pemikiran bahwa tinggal dirimu seorang saja yang tersisa di dunia.


Sebuah kebetulan ataupun takdir, kau malah dipertemukan oleh Òsedian. Siren lainnya yang sama seperti mu dengan sisik cantik berwarna emerald.


Menghabiskan waktu bersama membuat kalian berdua saling jatuh cinta, kemudian berjanji—beberapa tahun kedepan; saat tubuh kalian menjadi lebih besar dari sekarang kalian akan saling berpasangan.


Sehidup semati.


Namun, sebuah badai tiba-tiba saja muncul. Seakan laut menolak janji yang telah kalian ucapkan dengan begitu lantang—kalian pun kembali dipisahkan.


"Òsedian??!!!"


^^^"Ana?!!!"^^^


Bertahun-tahun dilalui dengan saling mencari satu sama lain. Tapi tidak membuahkan hasil, kalian berdua nyaris menyerah. Lalu kemudian keajaiban lain muncul—seakan ada yang mendengar tangisan pilu serta kerinduan dan juga cinta milik kalian. Ana, kau digiring berenang menuju tempat Òsedian berada, oleh arus yang begitu besar dengan menumbalkan ingatan masa lalu mu tentang pasangan mu.


Òsedian. |


"Dan beginilah akhirnya."


...______________________...


...Roar of the Ocean...


...______________________...


...__________...


..._____...


..._...


Seperti dongeng, andai Ana boleh memberikan sebuah pendapat. Tiap kali ketika ia teringat tentang identitas serta masa lalunya. Siren cantik yang duduk manis di atas pasir laut tersebut sedang menyisir surai rambut dengan sela-sela jari tangan.


Di temani beberapa biota laut yang mulai merasa nyaman terhadap kehadiran sosok dari Ana di area terumbu karang mereka.


Tak jauh dari siren cantik tersebut terdapat seekor mermaid berwarna kebiruan yang tengah berbaring nyaman sambil menatap langit di atas sana melalui pantulan air laut. Itu Ilda.


Bersenandung ria, usai menata rapi surai rambutnya Ana pun kemudian bicara.


"Kapan Òsedian akan menjemput ku Ilda?" tanya dia pada sosok yang tidak lain adalah teman dekat dari pasangannya.


Ilda melirik, dari balik ekor mata sebelum menjawab.

__ADS_1


"Dalam beberapa hari, mungkin..." sahutnya yang kemudian memilih untuk menutup mata. Ilda rasa dia ingin tidur siang sebentar.


Ana cemberut, bukan itu jawaban yang siren betina ini inginkan. Dalam hati ia menggerutu, kenapa Òsedian tidak serta merta membawa dirinya saja?! Tinggal bersama Ilda cukup membosankan. Lama-lama sifat asli dari mermaid tersebut muncul, ternyata Ilda agak menyebalkan, monoton, dan sedikit kolot. Tidak heran, dilihat dari usia ternyata Ilda benar-benar jauh lebih tua bahkan melebihi Òsedian.


"Hah—?!" memilih menghela napas kesal, Ana mengikuti apa yang mermaid di sampingnya ini lakukan; mengempaskan diri di atas pasir laut lalu memejamkan kedua mata.


Anehnya, hanya perlu beberapa detik saja Ana sudah dapat terlelap dengan wajah yang damai. Dengkuran halus terdengar.


"Haha... setelah puas bermain dia langsung tertidur..." kekeh Ilda. Berbaring miring dengan tangan menumpu kepala; menghadap kearah siren cantik yang ada di sampingnya. Ana.


"Benar-benar seperti bayi..." gumam Ilda sembari memperhatikan lekat sosok Ana yang tampak terlihat begitu menggemaskan. Tak heran Òsedian begitu mencintainya.


Dalam hati, Ilda berucap—suatu saat nanti apa aku akan menemukan pasangan ku juga? Secara tidak sadar.


Mermaid tua yang hobi menghabiskan waktu dengan penelitian ini akankah mendapat kesempatan untuk merasakan apa itu jatuh cinta, sama seperti Òsedian.


"Sial. Apa yang aku pikirkan! Kenapa aku jadi iri?!" dengus Ilda tiba-tiba, ketika alam bawah sadarnya menyerukan pemikiran yang tidak-tidak. Memilih menyudahi kegiatan menatapi pasangan milik temannya, Ilda berbalik—kesisi lain lalu memejamkan kedua mata. Melanjutkan rencana yang ingin ia lakukan tadi, yaitu tidur siang.


...***...


"Hosh..." hela napas panjang dan sisa air laut yang sudah tidak dapat diolah lagi keluar dari celah insang.


Kedua kelopak mata perlahan terbuka, pemandangan laut menyambut untuk pertama kalinya.


Indah~ batin sosok itu. Ana—yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Langit siang sudah berubah menjadi jingga.


Setengah sadar.


"Cantik..." Ana bergumam, kembali memuji pemandangan luar biasa yang menyambut penglihatan miliknya. Senyuman manis kemudian muncul, tatkala dia mendapati kerang-kerang dan siput saling berinteraksi dengan rukun.


Siren betina itu ingin kembali bermain bersama mereka, tapi gerakan Ana tiba-tiba tertahan ketika kedua gendang telinga mendengar ada yang memanggil namanya.


"Ana!" dengan lantang berhasil membuat sang pemilik nama menoleh. Manik mata senada dengan warna peach tersebut berkilau—pancaran senang memantul dari sana.


Sesosok siren dengan ekor yang sangat indah didominasi oleh warna emerald tampak tengah berenang menghampiri. Menuju kearah Ana.


Ana pun tersenyum, dia lalu langsung merentangkan kedua tangannya lebar—menyambut sosok itu dengan sebuah pelukan hangat.


Tanpa perlu memakan waktu lama, kedua makhluk itu sekarang sudah saling memeluk satu sama lain. Berenang berputar-putar dengan ekspresi wajah penuh rasa cinta. Yakinlah, para ikan yang melihat kemesraan mereka pasti merasa iri. Tampak seperti pasangan yang sangat bahagia, komentar mereka andai mereka bisa bicara.


"Hahahaha!!!"


Ana tertawa lepas, mengalungkan erat kedua tangannya sambil berucap.


"Hentikan!" dia mulai merasa pusing tapi masih saja menampilkan raut wajah gembira.

__ADS_1


"Òsedian—!" sambung Ana lagi, memanggil nama dari makhluk yang sedang memeluk dengan sangat kencang lalu mengajaknya untuk berenang berputar-putar di-antara para ikan.


Sudut bibir Òsedian terangkat, turut serta menciptakan sebuah eyes smile di atas wajahnya.


Mendapat pukulan ringan dikedua pundak serta permintaan untuk berhenti berulang kali mau tak mau Òsedian menyudahi aksinya yang membawa Ana berenang berputar-putar.


"Hosh..."


Ana menghela napas lega, mereka berdua saling tertawa sebentar. Lalu kemudian Ana yang masih berada di dalam pelukan Òsedian memilih untuk bersandar—tepat disalah satu pundak milik siren jantan tersebut. Berpasrah diri sepenuhnya kepada sosok setengah ikan berwarna emerald cantik itu. Percaya atau tidak, moment itu benar-benar terlihat sangat indah.


"Aku merindukan mu..." bisik Ana.


Sembari mengelus pelan pucuk kepala, Òsedian menjawab.


"Aku juga... Ana..."


Dan di tengah-tengah kemesraan mereka terdapat sosok Ilda yang masih berusaha untuk pura-pura tidur. Dalam hati dia melenguh jijik.


Apa semua pasangan yang saling mencintai akan melakukan hal-hal serupa semacam itu? Batin Ilda tak habis pikir.


Mengintip sedikit, Ilda mencoba mencari tahu kapan waktu yang tepat untuk dirinya agar bisa membuka kedua mata tanpa harus menghancurkan suasana mesra antara kedua temannya.


Omong-omong, Òsedian datang lebih cepat dari perkiraan lelaki itu. Padahal Ilda menduga 2 atau 3 hari lagi, tapi agaknya Òsedian berhasil menjelaskan dan meyakinkan dengan baik pada para penduduk siren yang tinggal di Teluk bahwa mereka akan kedatangan keluarga baru. Siapa lagi kalau bukan Ana, pasangan dari Òsedian.


Ilda turut serta merasa senang kalau begitu, meski sedikit dari hati kecilnya merasa sedih. Sosok itu lalu bangun, ternyata Ilda terlalu memikirkan—lihat saja kedua makhluk itu; mereka tidak merasa terganggu dengan seekor mermaid yang baru saja bangun.


Dunia serasa milik berdua.


Hela napas panjang tanpa suara muncul, Ilda terkekeh hambar menyaksikan senda gurau yang dilakukan bayi besar Ana dan Òsedian. Mermaid itu kemudian bangkit, berenang mendekat kearah mereka.


Tersenyum simpul, Ilda kemudian bicara.


"Waktunya berpisah."


...***...


...T b c...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti....

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2