Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Menyerang


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Apa yang terjadi pada dia Ana?" tanya Ilda, cepat—ketika kedua matanya mendapati sosok Òsedian yang meringkuk di pojok sana dengan wajah cemberut.


Ana yang sibuk dengan telur-telurnya menoleh sebentar lalu bicara. Memberi keterangan pada Ilda soal kondisi Òsedian yang terlihat sangat murung.


"Dia cemburu." ucap Ana singkat, padat, dan jelas. Awalnya Ilda tak mengerti maksud dari perkataan tersebut, tapi ketika ia cermati serta telaah lebih dalam lagi—otak pintarnya akhirnya dapat memahami; bahwa saat ini Òsedian tengah cemburu pada perhatian berlebih yang Ana berikan untuk calon anak-anak mereka.


Jika memang begitu?


"Pftt!" Bukankah itu terlihat terlalu kekanak-kanakan, batin Ilda berusaha menahan tawa agar tidak meledak. Meski sebenarnya dia hanya mampu menahannya tak lebih dari 15 detik saja.


"HAHAHAHAHA!" gelak tawa Ilda terdengar menggelegar. Perutnya sakit, sial! Dia merasa benar-benar tergelitik atas kelakuan norak yang Òsedian tunjukan.


Sibuk menertawakan siren jantan itu, Ilda mengabaikan fakta kalau Òsedian menoleh cepat kearahnya dengan tatapan tajam lalu kemudian mendesis nyaring layaknya hewan buas. Takut? Tentu tidak. Ilda masa bodoh dengan binatang satu itu.


Karena tidak ingin membuat keributan, Òsedian memilih mendengus—kembali meringkuk dengan hati yang berusaha mengabaikan tawa setan milik Ilda.


Anehnya melihat Òsedian yang tidak mau melawan ataupun membalas ejekan dari sang sahabat membuat Ana menarik kecil sudut bibirnya; ikut tertawa renyah.


Sungguh kehidupan damai dengan keluarga kecil yang bahagia.


.

__ADS_1


.


.


.


.


"Kau senang?" tanya Òsedian, pada Ilda di hari pertama dirinya mendapatkan rumah untuk pulang.


Ilda tersenyum, simpul. Dia menatap lekat wajah Ana yang kembali terlelap; setelah selesai dari acara berpelukan, tangisan serta pertengkaran main-main mereka. Ucapan Ana kembali terngiang, 'selamat datang di rumah' ujarnya menyambut kedatangan Ilda dengan tatapan hangat.


Debar jantung Ilda bahkan masih terdengar sangat nyaring—dari lubuk hati yang paling dalam mermaid itu benar-benar merasakan perasaan gembira.


"Tentu saja..." menjawab pertanyaan milik Òsedian. Siapa yang tidak senang? Dirinya yang hidup sebatang kara dalam pengasingan akhirnya mempunyai keluarga.


"Ini seperti mimpi," komentar Ilda lagi. Mendengar hal tersebut Òsedian terkekeh senang, dia jadi kembali ingat bagaimana pertemuan antara dirinya dengan sosok Ilda. Mermaid naas yang dibuang oleh bangsa dia sendiri.


Tergeletak di atas pasir laut dengan tubuh penuh luka sembari menantap kosong sekitar seolah berkata—siapapun 'TOLONG CABUT NYAWAKU'.


Menyadari Òsedian sama sekali tidak memberikan respon pada ucapannya, membuat sosok mermaid tersebut menilik dari balik ekor matanya. Meneliti tentang apa yang sedang Òsedian lakukan sampai-sampai dia enggan menyahuti perkataan Ilda, tapi yang Ilda dapatkan hanyalah wajah serius seperti tengah memikirkan sesuatu.


Mendengus pelan, Ilda tersenyum kecil. Dia rasa ini adalah moment yang paling pas untuk bicara.


Membicarakan sesuatu yang sudah lama ingin ia utarakan pada sosok Òsedian, tapi karena malu dan gengsi Ilda tak pernah mau mengucapkan. Namun, kembali lagi mermaid itu rasa inilah waktu yang tepat.


"Terima kasih, sudah mau menyelamatkan hidupku Òsedian."


...***...


Waktu berlangsung sangat cepat, kalau tidak salah ini adalah bulan ke-5 setelah kedatangan Ilda. Pikir Ana, mengingat kembali kapan pertama kalinya mermaid itu tinggal di Teluk bersama para siren. Kehidupan makhluk setengah ikan tersebut untungnya berjalan dengan baik, mungkin karena Ilda tipe yang gampang bergaul dan cepat beradaptasi makanya dia dapat dengan mudah diterima di lingkungan para siren.


"Kemana?" tanya Ana ketika melihat Ilda ingin beranjak pergi dari sarang, tampak siren betina itu tengah sibuk menggendong salah satu telur yang bergerak rewel. Masih ada satu bulan lagi sebelum mereka benar-benar bisa bebas dari cangkang telur menyesakkan tersebut.


Ilda berbalik. Saat ini hanya ada mereka berdua di sana, Òsedian sudah lama pergi memimpin perburuan. Kalau tidak salah dengar mereka semua ingin memburu paus biru untuk dijadikan santapan.


"Mengambil napas," terang Ilda sembari menunjuk keatas dengan jari telunjuknya. Kilat warna merah dari manik mata mermaid tersebut terlihat. Menanggapi kalimat yang baru saja terucap dari mulut Ilda, Ana kemudian berkata.


"Owh..." Siren betina tersebut ber-oh ria sebelum kembali menjawab.


"—jangan terlalu lama, aku mendapat sinyal dari Òsedian kalau rombongan mereka sebentar lagi akan datang. Kau tidak boleh melewatkan jatah makanan mu seperti terakhir kali Ilda." omel Ana dengan wajah serius yang berhasil membuat sang empunya nama tertawa.


"Tentu saja Ana~" sahut Ilda menggoda lalu melenggang pergi dari sana menggunakan sirip ekornya.

__ADS_1


Melihat tubuh Ilda yang berenang menjauh; menuju atas hingga tak terlihat lagi dari pandangan membuat Ana terpikirkan akan sesuatu. Akhir-akhir ini mermaid tersebut sering sekali keatas—tepatnya menuju darat untuk mengambil napas.


Apa jangan-jangan itu hanya dalih? Pikir Ana tiba-tiba saat sesuatu muncul begitu saja di dalam benak. Berspekulasi mengenai 'mungkin saja Ilda bukannya kepermukaan untuk mengambil napas melainkan bertemu kekasihnya' siapa tahu ada siren betina yang berhasil menarik hati dari mermaid tersebut. Dia-kan bujang lapuk, sampai sekarang tidak pernah memikirkan ingin membentuk keluarganya sendiri dengan cara mencari pasangan.


Tersenyum licik, haruskah Ana menggoda mermaid itu nanti. Siapa tahu dia akan mendapatkan beberapa kebenaran yang mungkin saja Ilda coba tutupi darinya ataupun Òsedian.


"Hihi!"


Rasanya tidak sabar, ucap dewi batin milik Ana. Menyiapkan segala macam trik dengan akal bulus di dalamnya.


BADUM!


Degh!


Tersentak. Dentuman keras baru saja terdengar dibarengi getaran yang mengguncang hampir seluruh para siren yang masih berada di area Teluk sana. Menilik cepat, Ana menatap shock dari kejauhan.


Apa yang baru saja terjadi?! Begitu batinnya bertanya.


Setelah keributan yang hanya berlangsung selama 5 detik tersebut terjadi, keheningan panjang malah menggantikan seluruh suasana. Ana berenang; berbalik untuk meletakkan telur yang berada di-gendongannya bersama dengan telur-telur lain.


Jaga-jaga Ana menutupi telur-telur itu dengan kumpulan rumput laut. Menuju luar, Ana bergerak dengan cepat sambil memberikan sinyal darurat kepada Òsedian dan juga Ilda.


ADA SESUATU YANG ANEH TERJADI DI TELUK!


Meski sayang apa yang ia lakukan tidak mendapat balasan.


Menyipitkan mata, Ana bertemu dengan Rivàn di tengah jalan. Siren betina yang sama sepertinya.


"Apa kau tahu sesuatu Rivàn?!" tanya Ana, penasaran.


Rivàn menggeleng.


"Aku tidak tahu pasti, tapi! Katanya ada sejumlah Mermaid menyerang!" ucap dia, tegang.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2