Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Kehidupan Bersama


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


"Jangan panik, dia hanya tertidur karena kelelahan..." ucap Ilda menenangkan.


Semua siren yang mendengar bernapas lega, termasuk Òsedian. Akhirnya—proses bersalin yang Ana lakukan selesai. Telur terakhir sudah di-amankan dan di letakkan bersama dengan telur-telur yang lainnya.


Pendarahan pada Ana sendiri juga sudah ditangani dengan sangat baik. Jadi siren betina bersisik peach tersebut sudah jauh dari kata kritis, untunglah. Andai kata Ilda datang sedikit lebih terlambat lagi dari tadi—semua kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.


Dan Òsedian jelas tidak akan mampu untuk menghadapinya. Kenyataan soal dia yang nyaris kehilangan pasangannya, Ana.


.


.


.


.


.


"Apa benar Ana baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dia masih tidak sadarkan diri? Kau yakin menggunakan teknik penyembuhan 'kan Ilda?" Rentetan pertanyaan berulang yang isinya serupa tersebut kembali ditanyakan oleh Òsedian. Ilda yang mendengar dibuat jengkel, sudut bibirnya berkedut kesal.

__ADS_1


Entah sudah keberapa kali mermaid ini mendapatkan pertanyaan semacam itu keluar dari dalam mulut siren di sampingnya.


Menilik sebentar lalu melenguh pelan, Ilda pun menjawab. Ya meski jawaban yang ia berikan selalu sama, telinga dan otak Òsedian saja yang tidak mau mendengar serta mencernanya dengan baik.


"Ya, dia baik-baik saja. Ini proses yang normal terjadi, bukankah kau sendiri sudah melihatnya? Ana akan tertidur panjang pasca dia mengalami kecelakaan yang menyebakan dirinya kehilangan banyak darah. Seperti waktu itu, ingat? Lalu aku sudah mengerahkan semua yang ku punya untuk menyembuhkan Ana, jadi berhentilah panik. Dalam 2-3 hari lagi dia pasti akan bangun dari tidurnya. Percayalah!" Sahut Ilda runtut dengan ekspresi yang datar, sungguh! Demi apapun—dia sudah benar-benar merasa bosan memberikan jawaban yang sama pada Òsedian. Mengapa siren jantan ini tidak dapat memahaminya? Atau mungkin dia hanya menolak untuk percaya. Sial! Merepotkan Ilda saja.


"Kau benar-benar yakinkan Ilda? Tapi—Ana sudah tertidur hampir selama satu minggu penuh." Beonya. Lihat, benarkan apa kata Ilda; Òsedian tidak mau mendengarkan keterangan miliknya dan hanya kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada Ilda. Merotasi mata jenuh, lagi-lagi Ilda membuang napas lelah.


Hosh~


Dia tahu seberapa khawatirnya Òsedian saat ini, terlihat dari pancaran mata penuh cinta yang selalu siren jantan tersebut tunjukan ketika dirinya menantap lekat lekuk wajah milik Ana. Ah~ dramatis.


Memilih tidak menjawab, mermaid itu bergerak menjauh dari posisi Òsedian dan Ana yang saling berdekatan. Ilda pikir lebih baik dia mengurus para keponakan yang masih berupa telur dari pada dua pasangan berlabel budak cinta tersebut.


"Paman di sini~" genit Ilda, mengangkat satu telur yang lumayan besar dari pada yang lain kemudian memeluknya. Seolah tengah menyalurkan sebuah kehangatan. Lalu berganti ke-telur selanjutnya dan terus begitu sampai semua keponakannya mendapatkan pelukan.


Senangnya~


...***...


Benar apa yang Ilda katakan, setelah lewat dari 2 hari atau lebih tepatnya di hari ketiga Ana akhirnya terbangun dari tidur panjangnya. Moment tersebut menghadirkan air mata haru, siapa lagi kalau bukan Òsedian yang menangis senang tatkala dia mendapati sosok yang tidak lain adalah sang pasangan akhirnya terbangun.


Dan lihat saja sekarang, makhluk setengah ikan dari bangsa siren tersebut sedang bermanja ria di dalam pelukan Ana sambil tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur atas keselamatan calon anak serta pasangannya.


"Ilda?"


Mermaid yang sedang menggendong salah satu telur berisi calon keponakannya itu berbalik. Tersenyum canggung kala manik matanya mendapati sosok Ana bersama Òsedian yang tengah menantap dengan pandangan dalam. Ada apa? Ucap dewi batin dari mermaid tersebut.


Kalian bisa melanjutkan apa yang kalian lakukan tadi, imbuhnya lagi dalam hati soal kegiatan haru yang dua siren itu tengah lakukan sebelumnya. Ilda tidak berniat mengganggu, sumpah.


Tapi tak kunjung mendapati maksud dan tujuan dari sosok Ana yang memanggil nama dan hanya menantap dirinya membuat Ilda kesal. Temperamen mermaid satu ini ternyata cukup buruk yah? Apa lagi—hanya keheningan panjang yang memenuhi suasana canggung ini.


"Ada apa?" putus Ilda, mengajukan pertanyaan lebih dahulu. Dia melihat Òsedian menilik, lalu kemudian merentangkan tangannya seperti tengah meminta sesorang untuk memeluk. Apa maksudnya lagi itu coba?! Batin Ilda kesal, andai kata dia tidak mendengar ucapan Ana setelah Òsedian menunjukan prilaku aneh terhadap dirinya.


"Selamat datang di rumah."


Degh!


Ilda tertegun, detak jantung tiba-tiba terdengar sangat nyaring. Seolah benda tersebut terletak tepat di samping gendang telinga miliknya.


Selama beberapa detik Ilda tidak menunjukan reaksi apapun, dia hanya kembali meletakkan telur yang ia gendong ketempatnya semula lalu kemudian berbalik.

__ADS_1


Òsedian maupun Ana melihat, kedua manik mata Ilda bergetar. Ilda sendiri juga merasakan kalau benda tersebut sekarang terasa sangatlah pedas, dalam diam Ilda pun bergerak—maju. Ikut merentangkan tangan lalu memeluk tubuh Òsedian bersama sosok Ana sekaligus.


Hug~


Entah mulai kapan, tapi saat ini—detik ini mermaid pemarah tersebut sedang menitikkan air mata dari area pelupuk mata tanpa alasan yang jelas; menurutnya.


Ya meski sebenarnya itu hanyalah upaya yang dia lakukan untuk menyangkal fakta kalau Ilda sekarang ini memiliki sesuatu yang disebut sebagai rumah. Selain itu dia akhirnya punya yang namanya KELUARGA.


Menangis pilu, Ilda memeluk erat kedua makhluk yang berada di depan sana. Òsedian yang merasa sedikit canggung memilih menepuk pelan punggung mermaid tersebut, jarang-jarangkan ia menyaksikan sisi lemah dari sosok Ilda yang merupakan tidak lain adalah sahabatnya.


"Cup cup cup..." ucap Ana berniat menenangkan meski kesannya terdengar sedikit mengejek ditelinga Ilda. Seolah menghadapi anak-anak saja.


Padahal beberapa bulan lalu Ilda ingat Ana 'lah yang masih bersikap seperti layaknya bayi—bayi besar tepatnya yang suka bertingkah kekanakan di mana pun dia berada. Tapi lihat sekarang, Ana sudah mampu bersikap dewasa. Entah kenapa Ilda rasa, dia sedikit merasa bangga. Ha-ha! Faktor pernah menjaga sosok Ana.


Tidak ingin terlalu larut dengan suasana, Ilda kemudian membuka celah bibirnya untuk bicara.


"Hak penentuan nama ada pada ku yah?" ucap Ilda tiba-tiba, menghancurkan suasana. Sudut bibir Òsedian otomatis berkedut, ketika dia mendengar ucapan itu.


"Hah?" beonya, jengkel dengan manik mata yang tajam.


Melepaskan pelukan, Òsedian kembali menyaksikan wajah menyebalkan milik Ilda. Itulah sahabatku, kira-kira ini yang tengah Òsedian pikirkan.


Sambil memberikan senyum simpul, Ilda dengan tidak tahu malu bertanya lagi—dan sama seperti yang lalu-lalu kedua makhluk setengah ikan tersebut kambali bergelut.


Bertengkar satu sama lain disaksikan Ana yang hanya mampu terkekeh ringan. Ah~ beginilah rutinitas mereka dan seterusnya akan begini.


Ya—?


Walau, ternyata pemikiran tersebut sangatlah dangkal.


Tidak ada satu pun yang menyadari, moment damai ini akan berubah menjadi sebuah MALAPETAKA.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2