
Jlep!
Kedua mata Ilda terbelalak, lebar.
"Hah?"
Apa yang baru saja terjadi?
"AAAANNNNNAAAAAA!!!!!!" teriak Ilda kencang, berenang sangat cepat menuju kearah siren betina berwarna peach tersebut.
Memeluknya. |
Tunggu? Ini tidak nyata bukan? Batin mermaid itu, takut.
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
"Arghhh—?!" Lötus tertahan, dadanya merasa sangat sesak dengan napas yang terengah. Di ikuti oleh beberapa siren lainnya, tepat di belakang punggung Òsedian. Mendapati hal tersebut membuat sang Alpha berbalik. Wajah khawatir serta penasaran terpampang begitu jelas, Òsedian mendekat.
"Apa yang terjadi?!" tanya dia pada Lötus serta Bèan yang tidak lain merangkap sebagai ajudannya.
Mereka berdua sama-sama diam, hanya mampu menampilkan raut muka penuh rasa sakit sambil berusaha menyentuh simbol pasangan yang ada di atas punggung mereka.
Terbakar!
Ujar beberapa siren yang dapat Òsedian dengar, memilih mengambil inisiatif sendiri. Siren bertital Alpha tersebut membalik paksa tubuh Lötus, agar dia bisa tahu apa yang sedang terjadi.
Segel pasangan berserta ukiran simbol dari anak-anaknya Lötus terlihat memerah, seperti habis terbakar sebelum akhirnya perlahan menghilang dan itu jelas bukan kabar yang bagus.
Lebih mirip MALAPETAKA dari pada bencana.
Glek!
Òsedian bahkan sampai tidak sadar menelan saliva kasar, dia cepat-cepat mengalihkan pandangan menuju kearah siren lain yang berada di dalam kawanan. Sial! Hal serupa menyambut penglihatan mata Òsedian.
Tak perlu ada yang menjelaskan, Òsedian rasa semua yang ada di sini sudah pasti tahu apa arti dari menghilangnya segel pasangan tersebut. Makanya tak heran, setelah selesai merintih kesakitan; wajah pucatpun hadir.
Menghiasi mereka. |
Òsedian gemetar, dia mencoba menyentuh segel pasangan miliknya di belakang punggung dan anehnya—tolong garis bawahi, hanya segel pasangan Òsedian saja yang masih terlihat utuh.
Lagi-lagi pertanyaan yang sama kembali terucap.
__ADS_1
Sebenarnya?
Apa yang sedang terjadi?!
Deg!
Bèan menggapai pundak milik Òsedian, hal tersebut membuat si empunya pundak tersentak. Baru saja isi kepala Òsedian bertanya serta memikirkan sesuatu yang benar-benar jelek, tapi untung ajudannya tersebut menyentuh pundak siren itu—Òsedian jadi tersadar dari pemikiran buruk yang berseliweran di dalam kepala.
Membuat langsung keputusan Òsedian memilih bertindak, tanpa pikir panjang siren bersisik emas tersebut membuka kedua celah bibirnya. Dia bicara—
"Bergerak!" memberi perintah kepada para kawanan.
Dari pada berdiam diri terlalu lama di sini, lebih baik mereka bergegas menuju Teluk agar mereka mengetahui apa yang harus mereka ketahui; soal Teluk serta soal pasangan dan anak-anak mereka.
Semoga keselamatan selalu menyertai. |
...***...
Sebentar lagi, gerbang perbatasan Teluk terlihat. Òsedian bernapas lega, akhirnya mereka bisa sampai tanpa hambatan tidak seperti yang mereka alami sebelumnya.
Tinggal mencari tahu apa yang sudah terjadi, meski sebenarnya Òsedian benar-benar merasa tidak enak hati—ini karena semua bawahannya tampak terlihat sangat-sangat kusut. Mereka depresi berat dalam waktu singkat saat mengetahui fakta bahwa segel pasangan dipunggung mereka menghilang tanpa jejak. Òsedian bukanlah pribadi dungu, dia tahu betul arti dari hilangnya segel tersebut.
Bukan berarti sang Alpha tidak prihatin atas kesedihan para bawahannya, tapi! Dia harus bertindak layaknya seorang pemimpin. Tegar.
Munafik! |
Begitu sampai, gerbang daerah perbatasan Teluk terlihat; porak poranda, sedikit sulit untuk dijelaskan yang pasti area situ benar-benar sangat kacau. Tidak berbentuk.
Glek!
Aroma darah siren bercampur dengan air laut tiba-tiba tercium. Firasat buruk Òsedian terjawab, jelas sekali kalau kawanan mermaid telah menyerang Teluk. Entah menggunakan taktik apa yang pasti—taktik itu benar-benar berhasil.
Menghancurkan Teluk seutuhnya.
Òsedian menggertakkan gigi, rahang dari makhluk setengah ikan tersebut mengeras. Dia marah serta kecewa pada dirinya, sebagai Alpha—Òsedian benar-benar gagal melindungi bangsanya.
Belum sampai di situ, kemarahan siren bertital Alpha tersebut tiba-tiba menjadi sirna tatkala dia merasakan rasa sakit seperti menyengat tepat di belakang punggungnya. Hal ini spontan membuat Òsedian mengangkat kedua tangan dengan panik, menyentuh segel pasangan berserta simbol telur yang belum menetas.
Lötus yang berada tepat di belakang punggung Òsedian mendongak, dia merasa aneh saat melihat pemimpinnya berhenti berenang secara mendadak. Di ikuti para siren lainnya yang masih tersisa, mereka menantap Òsedian secara bersamaan sampai mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Terbelalak, satu persatu simbol telur menghilang. Lötus langsung mengangkat tangan untuk menggapai pundak milik sang Alpha, namun sayang hal tersebut membuat Òsedian sensitif. Tubuh Alpha yang biasanya kokoh dengan ekspresi wajah perkasa tersebut berubah. Penuh ketakutan dan kesakitan.
Òsedian baru saja mengalami mimpi buruk yang sama, persis seperti apa yang dialami oleh para bawahan serta ajudannya.
Sedikit gila, Òsedian secara impulsif memutuskan pilihan. Berenang cepat meninggalkan mereka semua di situ (bawahan serta para ajudan) menuju kesatu tujuan yaitu sarang.
Tempat Ana serta Ilda berada.
Rasa sakit dari menghilangnya simbol telur perlahan reda, Òsedian rasa tidak ada yang tersisa lagi di sana kecuali segel pasangan miliknya bersama Ana.
Mencoba memanggil, Òsedian memberikan gelombang sinyal darurat kepada sosok Ana maupun Ilda tapi sayang masih tetap tidak bisa.
__ADS_1
Jejak sihir penghalang dari mermaid masih tersisa.
Menggigit pipi bagian dalam sekuat tenaga. Lagi-lagi perasaan marah juga kecewa muncul, dia benar-benar merasa gagal. KENAPA KAU TIDAK BISA MENJAGA PASANGAN DAN ANAK-ANAK MU!
BAHKAN BANGSA MU?!
Mengapa hal ini bisa terjadi! Baru kali ini Òsedian merasa menyesal, dia terlihat seperti sosok yang tidak berguna.
Pintu sarang yang tertutupi beberapa helai rumput dari padang lamun menyambut manik mata milik Òsedian. Menggerakan ekornya semakin cepat, Òsedian memasuki sarang begitu ia sampai—dan apa yang menyambut dia pertama kali?
Itu hanyalah keheningan yang panjang dengan nuansa suram.
"Ana?" panggil dia. Gemetar. Mengedarkan pandangan kesana kemari. Tidak ada apapun di sana, kecuali cangkang telur rusak yang tak ada isinya. Terhenyak, hati Òsedian menjadi sangat sakit.
Itu anak-anaknya. |
Òsedian otomatis menunduk, dia mengambil cangkang telur tersebut lalu memeluknya; dia goyah—menangis dalam diam.
Suara nyanyian terdengar dari arah luar sarang. Lötus memimpin nyanyian itu sambil memeluk satu-satunya kepala dari pasangannya, Rivàn.
Di ikuti para siren yang mengalami kondisi serupa.
Menyanyikan lagu duka khas bangsa siren yang diiringi oleh tangisan. |
Panas dan sakit kembali terasa, segel pasangan di belakang punggung Òsedian perlahan menghilang.
"Ana..." panggilnya lirih.
Bersama wajah pasrah, Òsedian putus asa.
Sekali lagi—
Nyanyian penuh rasa pilu berkumandang, menjadi musik utama yang mengisi suasana di Teluk para siren tersebut.
...***...
...Main story...
...Roar of the Ocean...
...Selesai...
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih....
...Ketemu lagi nanti,...
__ADS_1
...bye...
...:3...