Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Kabar Baik


__ADS_3

Òsedian merasakan kalau Ana tidak lagi berusaha untuk membujuknya. Karena penasaran, siren jantan tersebut memilih berbalik agar ia bisa melihat apa yang sedang siren bersisik peach itu lakukan saat ini—dan manik mata Òsedian malah disambut oleh pemandangan yang sedikit unik dari Ana.


Di mana siren betina tersebut tengah menggosok-gosokan kuat area perutnya. Seperti ingin menghapus sesuatu yang berada tak jauh dari simbol segel pasangan. Tertarik, Òsedian menghentikan aksi meringkuk bak bayi kuda lautnya lalu ikut duduk bersimpuh dengan ekor terlipat kebelakang tepat di hadapan sosok Ana.


Mungkin karena terlalu asik sendiri dengan kegiatan itu, Ana sampai-sampai tidak menyadari kalau Òsedian saat ini melayangkan tatapan tajam dan juga dalam. Melihat dengan cermat, apa yang ingin Ana hapus? Dewi batin Òsedian bertanya. Menyipitkan mata, hingga dia—siren jantan itu akhirnya menyadari.


Ada simbol berpola titik dengan ukuran sangat kecil.


Tunggu?


Itu bukan titik, lebih mirip seperti sebuah—?


TELUR.


Degh!


Kedua mata Òsedian membulat sempurna, dia kaget bukan kepalang. Dengan gerakan cepat menggapai tiap sisi dari bahu Ana menggunakan tangannya, Òsedian mencengkeram kedua bahu itu. Hal ini jelas mengagetkan sosok Ana.


Celah bibir Òsedian lalu terbuka. Untaian kata terdengar dari sana.


"Itu telur!" ucapnya, kegirangan.


"Telur?" beo Ana spontan. Pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Òsedian jelas mengejutkan diri Ana. Dia menunduk—menantap kearah perut dengan tatapan tak percaya, memeluknya secara tidak sadar. Ana lalu melayangkan sebuah pertanyaan.


"Aku hamil?" Yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Òsedian mengangguk dengan mantap. Rona muka siren jantan tersebut seperti berkata.


IYA!

__ADS_1


KAU HAMIL ANA!


Tanpa sadar, setitik air mata bahagia jatuh dari dalam pelupuk mata; tentu sebelum menyatu dengan lautan. Ana membungkam kuat mulutnya tak percaya dengan kedua tangan. Dia masih menampilkan wajah shock tepat di hadapan sosok Òsedian.


Òsedian yang melihat menampilkan senyum terbaiknya, dia lalu menyapu pelan jejak air mata milik Ana. Kemudian mendekatkan wajahnya pada siren betina itu sampai kedua kening dari makhluk tersebut saling membentur; dengan pelan.


"Kita akan jadi orang tua?" ucap Ana setengah berbisik.


"Iya..." sahut siren jantan yang berada sangat dekat dengan Ana tersebut.


Memberikan kecupan hangat di area kening, Òsedian kembali bicara.


"Kita - akan - jadi - orang - tua." mengulangi kalimat milik Ana dengan wajah bangga.


Percayalah, saat ini kedua makhluk setengah ikan yang entah mulai kapan sudah berpelukan tersebut—merasa menjadi sosok yang paling bahagia.


Ana termenung, menumpu sebelah pipinya dengan tangan sembari menatap damai pemandangan yang berada di luar sarang.


Rivàn baru saja pergi, siren betina bersisik ungu yang didampingi oleh pasangannya tersebut tadi datang berkunjung untuk mengucapkan selamat pada Ana.


Atas telur pertamanya.


Òsedian yang melihat pemandangan itu memilih mendekati satu-satunya pasangannya tersebut. Memeluk pelan dari belakang lalu bersandar tepat di dekat tengkuk milik Ana sembari bertanya.


"Apa yang sedang kau lamunkan sayangku Ana?" bisik Òsedian bernada dalam. Mengendus feromon yang mulai menyeruak di sekitaran tubuh Ana, kata beberapa kenalan siren dari Òsedian masa kehamilan betina 'lah yang paling luar biasa—kata mereka.


Kenapa? Itu karena para betina akan mengeluarkan feromon khusus beraroma manis yang hanya bisa tercium oleh hidung pasangannya, selama kurang lebih 6-7 bulan masa kehamilan. Lalu di sambung ketika telur keluar dari dalam tubuh induknya dan di-erami selama kurang lebih 5 bulan. Aroma feromon yang di keluarkan para betina akan semakin tajam dan bisa membuat para jantan menjadi gila—dalam artian tidak ingin berjauhan barang sedetik pun dari pasangan mereka.

__ADS_1


Òsedian tidak sabar, total ada sekitar 12 bulanan dia akan mengalami proses yang membahagiakan tersebut. Bersama Ana tentunya.


Ana menggeleng, dia menyahuti pertanyaan yang baru saja Òsedian ajukan; tentang apa yang sedang Ana lamunkan.


"Tidak ada..." sahutnya, pelan—ikut bersandar pada sosok siren jantan yang berada tepat di belakang dirinya. Ana lalu terpejam, merasa lelah karena sedari tadi dia hanya menyambut kedatangan para siren yang bertamu hendak mendoakan keselamatan sang telur yang berada di dalam rahim.


"Hosh~" menghela napas panjang.


Padahal belum sampai 1 jam Ana dan Òsedian mengetahui kalau mereka mendapatkan telur pertama, kabar baik soal kehamilan Ana ternyata sudah tersebar hampir keseluruh penjuru Teluk. Luar biasa, pengaruh dari berpasangan dengan Alpha ternyata seperti ini.


Lama terdiam, sama-sama hanyut dalam keheningan. Sesuatu terlintas begitu saja di dalam benak milik siren betina bersisik peach tersebut. Dia lantas membuka kembali kedua kelopak mata sembari bicara.


"Aku merindukan Ilda, Sayang... kapan dia bisa kemari? Bersama kita lagi." ucapnya. Mendengar perkataan tersebut Òsedian diam sejenak sebelum menjawab, otaknya sedang merangkai jenis kalimat apa yang cocok untuk ia katakan.


Agar tidak membuat Ana kecewa ketika mendengarnya. Òsedian tidak berani bilang untuk saat ini bahwa dia belum bisa menepati janji mereka—membawa Ilda kemari lalu tinggal bersama layaknya keluarga.


Biar pun Òsedian saat ini bertitel sebagai sang Alpha tapi beberapa siren tua yang selalu mendampingi Bàba sedikit sulit untuk ditangani. Mereka tidak terlalu suka soal fakta Òsedian yang berteman baik dengan seekor makhluk setengah ikan berbangsa mermaid. Jelas-jelas itu musuh tuding mereka.


Òsedian masih belum bisa meyakinkan kalau zaman permusuhan di antara kedua bangsa tersebut sudah berakhir. Sesama makhluk setengah ikan yang hidup di lautan dan di berkati oleh roh laut, mereka pasti bisa hidup berdampingan. Seperti Òsedian dan Ilda.


Ambisi Alpha baru yang ingin menciptakan kehidupan layaknya sebuah negeri dalam dongeng tidak akan pernah surut. Bahkan Bàba, sebelum siren tua yang merupakan Alpha sebelumnya sempat menyetujui proposal tersebut. Dia melihat dari manik mata Ilda tidak semua mermaid itu jahat serta suka membantai dan memburu para siren. Kembali lagi, masalahnya itu ada pada beberapa siren tua lainnya yang masih terjebak dengan tragedi masa lalu.


Membuang napas cepat, akhirnya Òsedian menemukan jawaban yang menurut dia sesuai untuk menjawab pertanyaan milik Ana.


"Maafkan aku Ana, ku mohon sedikit bersabar yah? Secepatnya aku akan membawa Ilda kemari. Setidaknya sampai usia kandungan mu mencapai titik stabil dan bisa ku tinggal untuk sementara waktu agar aku bisa menjemput Ilda." terang Òsedian, dengan kalimat teraman menurutnya. Mendengar uraian kata tersebut manik mata Ana berbinar.


"Benarkah?!" beonya, tak sabar.

__ADS_1


"Tentu saja." sahut Òsedian. Tenang.


__ADS_2