Roar Of The Ocean

Roar Of The Ocean
Teluk Siren


__ADS_3

...Perhatian!...


...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...Roar of the Ocean...


..._______________________...


..._________...


...____...


..._...


Wajah Ana terlihat masam, susah payah dia berusaha menelan daging ikan besar hasil buruan Òsedian.


Rasa geli tertinggal di area kerongkongan, akhirnya benda itu bergerak menuju lambung. Sial! Ana mual—dia merasa tidak cocok memakan daging ikan segar.


Melihat reaksi lucu Ana membuat Òsedian tertawa, lantas siren jantan itu mengambil sisa makanan yang berada di tangan Ana. Tanpa pikir panjang ia langsung melahapnya.


"Jika tidak suka jangan memakannya Ana." tutur Òsedian kemudian. Mendengar hal tersebut membuat Ana mendengus pelan, wajah siren betina itu tampak cemberut kesal.


"Kenapa aku selalu tidak bisa menelan makanan ku?!" gerutu Ana sebal, dia memeluk erat perutnya sendiri—merasa sangat lapar tapi tidak bernafsu dengan ikan segar hasil buruan sosok di sampingnya ini. Òsedian.


Òsedian melirik sejenak kearah beberapa rumput laut yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada. Menyapu sudut bibir bekas darah ikan, Òsedian kembali bicara.


"Mau coba ganggang Ana?" tanya sosok itu, menunjuk kearah sekumpulan rumput laut yang tengah bergoyang. Ana menoleh. Melihat benda tersebut membuat dirinya teringat kembali sosok Ilda, biasanya mermaid itu yang menyarankan siren betina ini untuk memakan beberapa alga atau ganggang jika ia tidak sanggup memakan ikan segar.


Tidak mendapat reaksi apapun dari Ana membuat Òsedian meletakan sebelah tangannya menuju kearah pucuk kepala siren betina itu. Raut sedih terlihat menghiasi kembali wajah itu, hal tersebut membuat hati Òsedian sakit.


"Ada apa Ana?" tanya makhluk setengah ikan itu pada Ana. Mau tak mau Òsedian harus bertanya, agar dia dapat membantu pasangannya ini untuk mengatasi kesedihan yang melanda hatinya.


Ana menggeleng, seperti bayi. Siren betina itu kemudian berkata—


"Kenapa Ilda tidak bisa ikut dengan kita?" dengan nada setengah merengek. Ini membuat Òsedian yang mendengar menghela napas lega, ternyata bukan sesuatu yang serius. Mengelus pelan kepala Ana, bibir Òsedian lalu terbuka.

__ADS_1


"Itu karena dia Mermaid Ana, bukankah Ilda juga bilang kalau dia tidak bisa ikut bukan karena dia tidak mau, tapi karena dia tidak bisa." sahut Òsedian gantung yang berhasil membuat kedua manik mata Ana berkaca-kaca. Dia masih tidak terima dengan fakta tersebut.


Òsedian tersenyum manis, meski gigi taringnya masih sedikit terlihat. Percaya atau tidak dimata Ana Òsedian saat ini benar-benar sangat tampan. Penglihatan siren. |


Tangan yang semula mengelus pucuk kepala Ana berpindah, menjepit lembut kedua sisi dari pipi milik siren betina di sampingnya hingga membuat Ana terlihat seperti ikan buntal.


Òsedian lalu kembali menjelaskan.


"Jika kita tetap memaksa Ilda ikut, beberapa meter dari Teluk Siren aku jamin tubuh Ilda pasti sudah tercabik-cabik oleh para Siren lainnya yang tinggal di sana. Ingat Ana, kita punya masa lalu yang buruk dengan bangsa Mermaid."


"Kecuali Ilda! Dia baik?!" potong Ana, cepat. Lagi-lagi Òsedian terkekeh, sial dia merasa gemas sekali—ingin rasanya mencumbu bibir manis itu dengan brutal; pikir Òsedian. Nakal.


"Iya, Ilda baik. Tapi sebelum aku berhasil mendapat posisi Alpha, kita tidak bisa membawa sembarangan dia masuk kedalam Teluk para Siren Ana. Lagi pula kita 'kan bisa berkunjung kapan-kapan ketempat Ilda." ucap Òsedian, mengecup pelan bibir Ana hingga menimbulkan suara lucu.


Cup~


Kedua pipi Ana bersemu merah, raut sedih hilang digantikan dengan wajah malu. Siren betina bersisik peach tersebut membuang pandangan kearah lain, serius—dia benar-benar merasa malu.


Memilih melanjutkan topik pembicaraan, Ana berucap—


"Kalau memang harus seperti itu kita akan berkunjung nanti, tapi—berjanjilah Òsedian?! Saat kau benar-benar menjadi seekor Alpha (pemimpin kawanan) kita akan membawa Ilda tinggal bersama kita. Janji! Ingat Dia itu keluarga kita?!" begitu lantang. Òsedian mengulum senyum jenaka miliknya, sial! Perkataan Ana membuat dia ingin tertawa lepas sejadi-jadinya. Tapi karena tidak mau membuat siren betina itu merasa tambah malu, Òsedian mencoba menahan semampu dia; sambil menjawab.


"Iya!" dengan sama lantangnya seperti Ana agar siren betina itu tidak kecewa ketika mendengarnya.


...***...


Apa ini karena efek dari lupa ingatan? Makanya Ana merasa seperti baru pertama kali melihat pemandangan indah yang ada di lautan bebas.


Sibuk dengan dunia sendiri, siren betina itu tidak menyadari kalau Òsedian beberapa kali memanggil-manggil namanya. Tak mendapat respon yang diharapkan membuat Òsedian melambat, hal ini spontan membuat siren bersisik peach itu ikut melambat lalu berhenti.


"Kenapa kita berhenti Òsedian?" tanya Ana, memalingkan wajah berkat rasa penasaran. Òsedian yang melihat tersenyum kecil, sebelah tangan milik dia yang bebas kemudian terangkat menunjuk sesuatu, Ana otomatis mengikuti arah tunjukan itu—dan apa yang menyambut matanya berhasil membuat Ana memekik girang.


Tak percaya.


Ada tempat seindah ini?! Seperti kota bawah laut!


Di huni oleh banyaknya spesies siren, sama seperti Ana dan Òsedian. Spontan Ana menoleh, kilauan mata dari siren betina itu seolah bertanya—Apa ini yang dinamakan Teluk para Siren?


Paham dengan isyarat tersebut, Òsedian lantas mengangguk. Bibirnya lalu terbuka.


"Benar Ana... selamat datang di Teluk..." ucapnya. Ana ternganga, mereka berdua mulai sekarang akan tinggal di sana. Luar biasa.


MENAKJUBKAN!

__ADS_1


Òsedian senang melihat Ana senang, siren jantan itu mengeratkan genggaman tangannya yang ada pada Ana.


"Ayo kita masuk..." ajak siren tersebut yang mendapat anggukan mantap dari Ana. Mereka berdua berenang maju, melewati sesuatu mirip gerbang masuk suatu wilayah. Semakin mendekat semakin tak dapat dipercaya, Ana tak bisa berhenti merasa kagum.


Begitu sampai di dalam teluk, manik mata Ana bahkan di sambut lagi oleh kilauan dari beberapa siren bersisik cantik beraneka warna. Tak sedikit ada yang menoleh kearah Ana, mereka penasaran layaknya Ana penasaran. Hal itu membuat siren bersisik peach ini mulai merasa gugup, tanpa sadar dia malah bersembunyi tepat di belakang punggung milik pasangannya. Siapa lagi kalau bukan Òsedian.


"Tenang saja..." bisik makhluk setengah ikan tersebut menenangkan. Beberapa siren kenalan Òsedian tampak berenang mendekat; seperti menyambut kepulangan dari makhluk itu. Karena batin Ana sedang ditindih oleh rasa gugup, dia jadi tidak dapat mencerna pembicaraan yang Òsedian lakukan dengan temannya.


Tau-tau selesai mereka pun berpisah, Òsedian lalu membawa Ana kembali—berenang menuju suatu tempat. Sekarang kemana kita? Dewi batin dari siren betina tersebut bertanya, tapi enggan bersuara.


Hanya memerlukan beberapa menit saja, ternyata sudah sampai. Ada tebing gua bawah laut di sana.


Sebelah tangan Ana terangkat, menyentuh lengan atas milik Òsedian. Siren betina tersebut mulai bertanya.


"Untuk apa kita kesini?"


Òsedian mengelus pelan sebentar garis rahang Ana dengan jemarinya.


"Kita akan bertemu dengan Alpha," sahut siren jantan itu gantung. Gurat bingung kentara terlihat di wajah Ana.


"Agar bisa menjadi pasangan sesungguhnya, kita perlu izin darinya... atau kau tidak ingin kita jadi pasangan Ana?" lanjut Òsedian, dengan kalimat menggoda diakhir katanya. Mendengar itu Ana menggeleng.


"Tidak! Aku ingin jadi pasangan mu Òsedian?!" sahut dia lantang dengan nada merengek.


Sial!


Seperti ada seribu udang yang menggelitiki perut Òsedian, dia benar-benar senang. Ana tampak sangat mencintai dirinya dan ini sangat-sangatlah luar biasa.


Ya meski—itu semua hanya sebuah kemunafikan belaka. |


...***...


...T b c...


...Tinggalkan jejak...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2