
...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...____...
..._...
Ana tidak tahu, bagaimana dia bisa berakhir seperti ini. Padahal beberapa detik yang lalu, seingat dari siren betina bersisik peach tersebut—dia baru saja menyerukan nama Òsedian dan ditanggapi oleh respon yang mana siren jantan bersisik emerald itu menoleh kearahnya.
Kemudian?
Berlangsung sangat cepat di mana Òsedian langsung mendatangi Ana, menyeretnya masuk kedalam sarang. Dan—? Berakhirlah Ana pada posisi dihimpit oleh Òsedian dan dinding dari tempat tinggal mereka.
Òsedian tidak mengeluarkan melakukan apapun pada Ana, tapi satu hal yang Ana tahu dan yakin kalau siren jantan tersebut tengah marah padanya.
Atau lebih tepatnya? Merajuk?
Terserah sebutan apa yang cocok; yang pasti marah dari Òsedian di sini bukan berarti marah dalam artian sesungguhnya.
Dia bahkan tidak mau bersuara, hanya sekadar menunggu Ana untuk bicara—menerangkan semuanya pada Òsedian. Memilih menghela napas sejenak, kedua tangan Ana setelah itu terangkat. Membingkai manis rahang milik siren jantan yang berada di depannya, siapa lagi kalau bukan Òsedian.
"Aku hanya pergi jalan-jalan dengan Rivàn tadi," terang Ana. Sedikit sekali mengendurkan ekspresi cemberut marah dari wajah Òsedian. Otak Òsedian lalu berkelana, Rivàn? Batinnya—mengingat kembali siapa sosok siren yang memiliki nama seperti itu. Ah! Òsedian ingat, kalau tidak salah Rivàn adalah siren betina yang tinggal tidak jauh dari sini bersama pasangannya. Identik bercorak ungu seingat siren jantan itu.
__ADS_1
"Hanya jalan-jalan?" tiba-tiba Òsedian membeo, dia tahu pertanyaan ini terdengar bodoh. Memang apa yang bisa Ana lakukan saat dia bersama siren betina lainnya hanya bisa terkurung di area Teluk. Cuma segelintir siren betina yang berani berburu, itu pun karena mereka kehilangan pasangan saat penyerangan bangsa mermaid beberapa tahun silam. Mau tak mau demi menghidupi anak-anak mereka yang belum memasuki masa dewasa para siren janda tersebut harus melakukannya, alias berburu.
Tidak! Tidak! Kembali ke-fokus cerita Òsedian!
Ana mengangguk, iya. Dia dan Rivàn hanya jalan-jalan biasa di Teluk. Itu saja.
Òsedian mengendurkan perlahan ekspresi wajahnya, dia bahkan sudah tidak lagi menghimpit Ana dengan cara mengurung siren betina itu di dalam kungkungan. Tapi masih membiarkan kedua tangan Ana membelai manja garis rahangnya.
Syukurlah~
Ada perasaan lega di hati siren jantan tersebut. Kalau boleh jujur, sebenarnya Òsedian tadi benar-benar merasa marah dan juga takut. Dia bahkan gelisah tiap kali harus meninggalkan Ana di sarang seorang diri karena pekerjaan Alpha-nya; Òsedian diharuskan memimpin perburuan sebagai pemimpin muda.
Lalu—siapa yang tidak kebakaran jenggot saat tahu objek yang selalu membuat Òsedian gelisah tiba-tiba menghilang. Tidak berada di tempat. Hal ini jelas membuat seluruh perasaan dari siren jantan tersebut berkecamuk. Dia takut ada sesuatu yang buruk menimpa diri Ana di luar sepengetahuan Òsedian. Mengapa terlihat terlalu was-was begitu? Anggap saja Òsedian berlebihan dan overprotektif pada Ana. Tapi satu hal yang harus diingat BAIK-BAIK—Ana itu bukan siren murni, mudah baginya untuk menjadi mangsa dari para predator lain yang hidup di lautan luas ini.
Percaya atau tidak. Terserah saja. |
...***...
Degh!
"Apa?!" sentak Òsedian dengan bola mata yang membulat sempurna, kala gendang telinganya baru saja mendengar pernyataan bahwa tempat yang menjadi tujuan utama dari jalan-jalan Ana bersama Rivàn adalah PERMUKAAN.
Lihat! Sang pemilik cerita tampak sangat biasa saja saat bercerita. Entah itu tentang seberapa indahnya Teluk dari atas, bintik-bintik kecil yang disebut bintang, serta fenomena aneh yang terjadi pada warna sisiknya.
Argh! Òsedian tidak tahu lagi! Kepala dia mulai terasa pusing. Sial.
Lebih memilih meringkuk di pojokan sana, Òsedian ber-cosplay layaknya bayi kuda laut. Ana yang menyaksikan dibuat terheran-heran, seharusnya dia tidak menceritakan soal naik kepermukaan. Bodohnya! Ana kira setelah semua amarah Òsedian luntur, dia tidak akan mendapatkan masalah saat menceritakan seluruh pengalaman yang baru saja dia dapatkan bersama Rivàn. Ternyata tidak. Justru sebaliknya.
Bukan lagi marah, merajuk atau semacamnya—tapi Òsedian sudah berada di tahap MURUNG.
Mendekati sosok tersebut, Ana bersimpuh. Melipat ekornya kebelakang agar dia duduk di samping Òsedian yang terlihat meringkuk layaknya janin.
Baru saja ingin menggapai bahu Òsedian, siren jantan tersebut mendesis. Dalam batin Ana bertanya, ada apa dengan suasana hati Òsedian? Agaknya siren jantan itu sedang mengalami emosi yang sangat kacau saat ini. Entah apa penyebabnya; yang pasti—keseluruhan adalah karena Ana. Mungkin.
Tidak tahu harus bertindak apa, Ana kemudian memilih membuka celah bibirnya lalu berkata.
"Maaf..."
__ADS_1
Pada semua tindakan yang sudah ia lakukan. Mulai dari pergi tanpa izin, tidak berada di tempat yang dapat di jangkau oleh penglihatan mata Òsedian, lalu soal dia yang naik kedaratan.
Hanya ini yang bisa Ana lakukan. Toh! Jika dilihat dari berbagai sudut pandang—itu semua cukup sepele untuk bisa dipermasalahkan.
Òsedian tidak menyahut. Dia masih dalam suasana hati yang sangat-sangat buruk, mau tak mau Ana menghela napas panjang. Melarikan pandangan, manik mata siren betina itu lalu berpindah menuju kearah sisik Òsedian yang warna emeraldnya perlahan memudar.
Di gantikan dengan warna emas. Persis seperti sang Alpha sebelumnya, Bàba. Berpindah lagi menuju area pinggul milik Òsedian, sial. Tiba-tiba Ana tergiur. Sebelum sesuatu yang dikehendaki terjadi Ana lantas langsung membuang pandangan miliknya kearah lain.
Kali ini menuju area punggung dari Òsedian. Simbol segel pasangan terlihat di sana. Itu membuat Ana spontan meletakkan tangan di perut, menyapu pelan segel pasangan miliknya sembari menunduk.
Ada satu titik kecil di situ. Lain dari pada yang lain.
"Eh?" Bingung Ana. Keningnya berkerut.
Ia tidak ingat ada pola bintik kecil di area perut, berusaha menggosoknya–barang kali itu noda iyakan? Meski berakhir sia-sia.
Tidak mau hilang. |
Saking sibuknya sendiri dengan pola bintik kecil tersebut, Ana tidak menyadari kalau Òsedian mulai tertarik padanya. Atau lebih tepatnya pada jenis kegiatan yang siren betina bersisik peach itu lakukan.
Òsedian berbalik lalu melihat.
Dan kemudian matanya terbelalak lebar dengan wajah yang girang.
"Itu telur!"
ANA HAMIL!
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
__ADS_1
...Bye...
...:3...