
Mita dan Andra kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas seperti biasanya, dan kembali ke pelukan pacarnya masing masing meski hati mereka sepertinya tak bisa lagi kembali ke pacarnya masing masing. Hati mereka seakan tersesat, tak tau jalan pulang untuk kembali ke tempat yang seharusnya.
"Kamu pulang ke Bandung kemaren Mit? Kok gak bilang, sih? Selama kamu disana, aku juga gak bisa ngehubungin kamu, hampir aja aku nyusul kamu kalo hari ini kamu gak pulang !" Protes David saat bertemu Mita di kampus.
"Emh,,iya anu, itu mendadak banget Kak, ibu nelpon nyuruh pulang, jadinya gak sempet pamit sama Kakak, kalo masalah gak bisa di hubungi, aku disana ada acara kumpul keluarga, jadi gak enak kalo aku mainan hp kan, jadinya hp di simpan di kamar, Kak" Bohong Mita panjang lebar berusaha agar David percaya.
Entah kenapa Mita tiba tiba saja lancar berbohong terhadap David, padahal biasanya Mita tak pernah pandai berbohong.
"Ooo,, gitu. Besok besok kalo ada apa apa itu bilang sama aku ya, pacarmu kan aku, bukan Andra" Sindir David, merasa dirinya tak berguna sebagai kekasih, karena semua hal di hidup Mita seolah Andra nomor satu dan dia yang jelas jelas pacarnya selalu di nomor dua kan.
"Apa sih Kak, ko ngomongnya gitu !" Protes Mita,
"Becanda,,,,! ya kali, aku cemburu sama sepupumu" David mencubit hidung Mita gemas.
***
Sore itu Mita melamun sendiri di balkon menatap langit yang berwarna jingga, dan sesekali memperhatikan suasana sore ibukota yang ramai karena jam pulang kantor.
'Kemana Andra, kok belum pulang jam segini, atau mungkin dia sedang melepas rindu dengan Lia? Cih,, padahal cuma gak ketemu tiga hari aja, pasti mereka sedang berdua duaan, menyebalkan !' Gumam Mita dalam batinnya, hatinya tiba tiba kesal memikirkan dan membayangkan kalau saat ini Andra sedang berduaan dengan Lia melepas rindu karena selama tiga hari ini mereka berpisah.
"Magrib magrib jangan ngelamun, ntar kesambet, lo !" Andra tiba tiba berdiri di belakang Mita yang sedang menggerutu di dalam hatinya.
"Ish,, Mandra lu kaya setan aja, tiba tiba nongol gak tau kapan masuknya" Ucap Mita yang kaget dengan kedatangan Andra yang tanpa di sadari tiba tiba sudah berada di dekatnya.
"Gue udah ucap salam tadi pas masuk, lu nya aja yang kena setan budeg, jadinya gak denger salam gue tadi." Andra berdiri sejajar disamping Mita dan saat ini mereka sama sama memandang langit sore yang indah.
__ADS_1
Entah apa yang kepala mereka pikirkan dalam diamnya, mereka hanya sama sama menatap langit senja, dengan sedikit senyum yang di sembunyikan, dan entah senyum untuk siapa.
***
Setahun berlalu,
Mita pikir seiring berjalannya waktu, dia bisa mencintai David dan melupakan perasaannya pada Andra, tapi ternyata itu salah besar. Semakin hari, semakin Mita yakin kalau dia memang menyayangi Andra bukan hanya sekedar perasaan seorang sahabat, tapi Mita mencintai Andra sebagai seorang perempuan yang mencintai lawan jenisnya.
Setelah menimbang nimbang segalanya, Mita memutuskan untuk jujur dan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Andra, dia tak peduli bagaimana nanti akhirnya walaupun resiko terburuk mungkin Mita akan kehilangan Andra atau mungkin hubungannya dengan andra akan menjadi canggung.
Tapi Mita sudah membulatkan tekad, dia tak ingin perasaannya terus tersesat, alih alih berpacaran dengan David, tapi hatinya hanya untuk Andra. Sungguh dia tak mau menipu perasaannya sendiri, dan membohongi juga menyakiti David lebih lama.
Andra sedang menonton televisi malam itu, Mita yang keluar dari kamarnya mengumpulkan nyali lalu duduk di sebelah Andra, beberapa kali dia mencoba memulai pembicaraan, tapi sayangnya bibirnya selalu saja kaku, tak mampu mengeluarkan kata kata, sampai pada akhirnya dia memberanikan diri dengan mengumpulkan segenap keberaniannya.
"Ada apa? Apa jangan jangan lu udah tau ya Tong ?" Wajah Andra tiba tiba pucat, ketakutan tergambar jelas di sorot mata Andra.
"Maksudnya? Tau apa ?" Mita bingung, belum juga dia mulai mengungkapkan isi hatinya, malah Andra membuatnya kebingungan.
"Lu beneran gak tau? Trus yang mau Lu omongin ke gue, apa?" Selidik Andra yang malah semakin membuat Mita bingung.
"Bentar bentar, ini ada apa sebenernya Ndra? Gue kok malah jadi bingung gini," Mita tambah penasaran,
"Sebenernya ada yang mau gue omogin juga sama Lu dari kemaren, tapi gue bingung gimana cara nyampeinnya ke lu." Ucapan Andra malah semakin membuat Mita penasaran.
"Tolong jangan berbelit belit deh Ndra, ada apa sebenernya?" paksa Mita tak sabaran.
__ADS_1
"Tapi janji, lu jangan marah ya, duh,, bingung banget Gue, sumpah ! Cara bilangnya ke lu gimana,, coba ?" Andra menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
Berbagai pikiran memasuki kepala Mita,
'Apa jangan jangan Andra juga ingin mengatakan hal yang sama seperti yang mau dia ungkapkan pada Andra , tapi dia gak berani bilang ke aku?' itu salah satu tebakan pikiran Mita saat itu, sedikit mengulas senyum.
"Ndra, tolong jangan bikin Gue penasaran, Lu mau ngomong apa sebenernya" Paksa Mita tegas, tak bisa menahan rasa kepenasarannya lagi.
"Lia hamil... " Ucap Andra lirih, suaranya sedikit tercekat.
"Hah,,,? Wah, mberengseek Lu,, !" Mita sontak menampar pipi Andra dan lari ke kamarnya meninggalkan Andra yang syok dengan tamparan Mita.
ajujur, ini tamparan pertama yang Andra terima se umur hidupnya, dan sialnya, yang melakukan itu sahabat yang selama ini sebenernya dia cintai diam diam.
Mita menangis di kamarnya, sakit hatinya tak tertahankan, rasanya dunianya runtuh seketika saat mendengar apa yang dikatakan Andra tadi, dia tak mampu berkata kata.
Hanya ada marah, kecewa, dan sakit yang teramat sangat.
Bagaimana tidak, belum saja Mita mengatakan kejujuran tentang perasaan cintanya buat Andra, dia malah harus mendengar kenyataan pahit.
Sungguh sangat kejam dan menyakitkan baginya.
Mita sangat frustasi dengan apa yang dikatakan Andra, seakan dia sudah kehilangan harapan. Dan tentu saja Mita merasa kalau ini adalah akhir dari semuanya, akhir dari perasaanya pada Andra, dan mungkin dia juga akan mengakhiri persahabatannya dengan Andra, dia belum cukup kuat untuk terus berpura pura menjadi sahabatnya, menyaksikan orang yang disayanginya menjadi ayah dari anak yang di kandung wanita lain.
'Aah,,, tidak,,, lebih baik aku pergi menjauh dari kehidupan dia. Kenapa semua ini begitu kejam ya Tuhan ? Ataukah ini hukuman buatku karena mempermainkan perasaan Kak David ? Ya mungkin ini balasannya, karma ! Karena secara tidak langsung aku menghianati Kak David, karena aku mencintai Andra. Tapi ini terlalu menyakitkan !' Ratap Mita dalam tangisnya.
__ADS_1