
"A- Apa yang kamu lakukan, apa kamu ingin mencoba suatu permainan dengan kekerasan ?" ucap Lia dengan nada suara yang menggoda.
"Diam !" bentak David.
David memang pria normal, dia bisa saja tersulut gairah di perlakukan seperti itu terus menerus oleh Lia, namun David juga tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti saat mereka sedang mabuk dan mengakibatkan Lia hamil, lalu keadaan menjadi rumit seperti sekarang ini, Mereka sama sama sudah tak saling mencintai, namun keadaan memaksa mereka untuk tetap bersama bahkan hampir menikah.
"Ayolah, kenapa kamu membawa ku ke kamar mandi, bukankah kita bisa melakukannya di atas ranjang ?" rengek Lia lagi.
David mendorong tubuh Lia pelan, dan menempelkannya di dinding, tangannya meraba raba mencari sesuatu, setelah dia dapatkan, lalu dia memutar tuas kran itu dan membiarkan pancuran air itu turun mengenai kepala dan tubuh Lia dan dirinya.
"Auwh,,, dingin sekali !" keluh Lia.
"Tetap diam di sini, pikirkan hal lain selain hal kotor yang ada di pikiran mu, lawan hasrat mu, jangan sampai menguasai diri mu, kau tak perlu berbuat sejauh ini hanya untuk mendapatkan pria yang jelas jelas sudah tidak mencintai mu," ucap David, menatap iba perempuan di hadapannya yang diam diam menangis tersedu mendengar ucapan David, beruntung air yang mengguyur kepalanya menyamarkan air matanya yang berderai mengalir di pipi menyatu dengan air dari kran shower yang menyala dengan begitu derasnya.
Sungguh saat ini Lia merasa menjadi wanita paling menjijikan dan terhina, menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan perhatian Andra, dan sialnya itu pun tak berhasil, dan hanya membuat dirinya semakin terhina.
Sebegitu menyedihkannya dirinya saat ini sampai dirinya tak mampu melihat pantulan dirinya di cermin besar yang tergantung di dinding kamar mandi itu, sungguh dia merasa malu sekedar menatap wajahnya yang sekarang ini.
Hampir satu jam berlalu, Lia masih dengan pasrah duduk di bawah guyuran air dingin, telapak tangannya sudah terlihat keriput dan bibirnya membiru akibat kedinginan dan terlalu lama berada di bawah kucuran air.
__ADS_1
Sebenarnya, David yang sejak tadi berdiri menemani Lia di kamar mandi sudah menyuruhnya berhenti sejak beberapa puluh menit yang lalu karena dia juga tak tega melihat keadaan Lia yang terlihat sangat menyedihkan itu.
Namun Lia terus menolaknya, dia memilih untuk tetap membasuh dirinya yang terasa kotor dan terhina itu.
Kesabaran David sepertinya sudah habis, dia menggendong tubuh wanita yang kini lemah itu dan membalutnya dengan handuk kering.
Tak ada perlawanan berarti dari Lia, dia hanya diam sambil sesekali terisak, mungkin badannya memang sudah merasa tak mungkin bisa melawan lagi, jadi dia memutuskan untuk pasrah saja.
Lia memegangi kancing baju bagian depannya saat David hendak membuka untaian kancing yang berderet sejakar dari dada sampai perut.
"Kenapa lagi ? Aku sudah pernah melihatnya tanpa penutup apapun, dan aku juga seorang tenaga medis, hal seperti ini tidak akan membuat ku bernafsu !" ketus David masih sedikit merasa kesal.
Dengan telaten David mengeringkan seluruh badan Lia dengan handuk, lalu membantunya memakaikan pakaian kering, tak lupa dia juga mengeringkan rambut Lia dengan hair dryer meski tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
Namun Lia bisa merasakan betapa David tulus melakukan itu semua pada dirinya, sayangnya dirinya selalu saja tak pernah melihat dan menyadari sisi baik David selama ini.
"Maafkan aku !" lirih Lia memecah kesunyian yang sejak tadi menyelimuti mereka berdua.
"Bukan aku yang seharusnya kamu mintai maaf, karena sasaran penjebakan mu adalah Andra, aku hanya kebetulan bernasib sial berada di tempat dan waktu yang salah," ucap David cuek.
__ADS_1
Lia terdiam lagi, dia merasa menjadi sumber kesalahan yang menyebabkan kekacauan dan merugikan banyak pihak.
David masuk lagi ke kamar dengan secangkir teh panas di tangannya dan menghampiri Lia, di sodorkannya minuman itu pada wanita yang kini darahnya tampak sudah mengalir kembali, tak sepucat mayat seperti beberapa saat yang lalu.
"Minumlah, setidaknya ini akan menghangatkan perut dan tubuh mu," ucap David.
"Terimakasih," lirih Lia menerima cangkir itu dan menempelkannya di kedua telapak tangannya untuk menyalurkan panas dari cangkir ke telapak tangannya yang kedinginan.
Air matanya kembali meleleh membasahi pipi mulusnya yang sudah kering itu.
"Sekarang apa lagi ? Apa lagi yang membuat mu menangis lagi ? Apa kamu masih merasa kesal karena usaha mu menjebak Andra gagal ?" sinis David.
"Aku menyesal, telah berbuat securang itu, aku juga merasa malu pada Andra, pada mu, dan juga pada diri ku sendiri, aku memang jahat,,," sesal Lia.
"Semua sudah terjadi, syukurlah kamu mau menyadari kesalahan mu, sehingga kamu tak semakin terperosok ke jurang kesalahan yang semakin dalam," David berusaha tak sesinis tadi lagi, dia tau kalau Lia kini sangat rapuh dan satu satunya yang dia butuhkan saat ini adalah dukungan.
Dan satu satunya orang yang saat ini Lia punya haanyalah dirinya.
"Aku tak tau bagaimana menghadapi hari esok, aku tak tau bagaimana jika aku bertemu Andra lagi, bertemu Mita, aku malu dan aku sangat menyesal," ucap Lia dalam isak tangisnya.
__ADS_1
"Cobalah untuk memaafkan diri mu sendiri, lalu minta maaf pada orang orang yang sudah kamu curangi, maka beban hati mu akan lebih ringan," kata David serius.