
"Cobalah untuk memaafkan diri mu sendiri, lalu minta maaf pada orang orang yang sudah kamu curangi, maka beban hati mu akan lebih ringan," kata David serius.
Lia merasa tak percaya diri, apa bisa perbuatannya yang terbilang berani dan keterlaluan itu bisa di maafkan oleh Andra, mengingat dia hampir saja mencelakai pria itu dalam jebakannya.
"Aku akan membantu mu untuk berbicara dengan mereka !" ucap David seakan mengerti akan apa yang sedang Lia pikirkan saat ini.
"Terimakasih, tapi sepertinya aku belum siap bertemu mereka, aku tak punya nyali untuk menghadapi mereka," cicit Lia tertunduk lemah.
"Tak usah merasa berkecil hati, yang penting kamu berusaha meminta maaf, masalah hasilnya mereka memaafkan atau tidak, kamu hanya perlu menerimanya dengaan lapang dada," ucap David memberi Lia sedikit semangat.
***
Sedangkan di tempat lain, Mita dengan sangat serius mendengarkan cerita Andra saat hendak di jebak oleh Lia, jujur saja hatinya sangat geram dengan kelakuan Lia yang di nilainya sungguh sangat keterlaluan itu, namun tentu saja dirinya pun tak bisa menyalahkan Lia sepenuhnya, karena yang namanya perasaan kadang kita tak bisa membendungnya.
Namun, alih alih merasa marah, Mita justru jadi merasa iba dengan apa yang di lakukan Lia, karena sepertinya Lia kehilangan akal sehatnya akibat obsesi untuk mendapatkan Andra kembali.
"Tapi Ndra, aku malah kasian sama dia, kayaknya dia se putus asa itu, sampai melakukan hal di luar nalar seperti itu," ucap Mita dengan mata menerawang jauh.
"Gimana ya, aku juga bingung, padahal seingat ku, aku tak pernah memberi nya harapan atau apapun semacam itu," tepis Andra.
"Ya, aku juga gak nyalahin kamu, cuma, ada baiknya kita maafkan saja dia, tak perlu di perpanjang, yang penting kita jaga jarak aja dari dia biar keinginan untuk memiliki kamu gak tiba tiba muncul kembali ketika dia masih sering bersama kamu," kata Mita berusaha bersikap bijak.
__ADS_1
"Makasih, kamu memang terbaik !" ucap Andra mengacak rambut Mita gemas.
Saat Mita turun ke basement untuk mengambil barangnya yang tertinggal di mobil Andra, tanpa sengaja dia berpapasan dengan David yang hendak membeli makan untuk dirinya dan Lia di kafe bawah.
"Hai Mit,,!" sapa David.
"Ah, hai kak,,,!" Mita menyapa balik David, kali ini Mita terlihat agak canggung, tak dapat di pungkiri, bayangan kotor tentang apa yang terjadi antara mantan kekasihnya dengan Lia di apartemen sempat mampir di kepalanya.
Apalagi mengingat Lia di bawah pengaruh obat afrodisiak, dan David merupakan pria normal, jadi ada kemungkinan hal kotor yang sempat di bayangkan Mita itu terjadi di antara mereka.
Mita tak dapat menyembunyikan rasa gugupnya, bukan karena cemburu atau apa, namun rasanya canggung saja dengan pikirannya sendiri.
"Bagaimana lutut mu, sudah baikan ?" mata David tertuju pada lutut Mita yang tertutup dengan celana jins panjang.
David tersenyum mendengarnya, sejujurnya dia juga merasakan hawa beda dari diri Mita sekarang ini, namun tentu saja David tak mengira kalau perubahan sikap Mita itu akibat pikiran kotor tentang dirinya dan Lia.
"Mau temenin aku ke kafe sana, gak ?" ajak David.
"Emhhhh,,,,," Mita sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Beliin makan buat Lia, kamu pasti sudah tau dan sudah di ceritakan sama Andra, kan. apa yang terjadi ?!" ucap David, Mita lantas mengangguk pelan, sangat pelan, sampai tak terlihat sedang mengangguk.
__ADS_1
"Ba- bagaimana keadaan Lia sekarang ?" Mita memberanikan diri menanyakan keadaan Lia.
"Sudah agak tenang dan membaik, makanya bisa aku tinggal beli makan, mungkin beberapa hari ini aku akan menemaninya, dia agak syok !" jawab David.
"Syok ?" beo Mita.
Bagaiman bisa jadi dia yang syok, jelas jelas dia sendiri yang bikin huru hara, batin Mita.
"Dia sangat merasa bersalah dan malu dengan apa yang sudah dia lakukan pada Andra, jadi dia masih terus menyalahkan dirinya sendiri, dia hanya perlu pendampingan sementara," jelas David tenang.
"Kalian,,,, bersama lagi ?" pertanyaan Mita terdengar ambigu dengan pemilihan kata bersama lagi, karena kondisi Lia yang tadi sangat membutuhkan 'kebersamaan' untuk membuatnya cepat membaik dari efek obat itu.
"Bersama lagi,,,maksudnya ?" tanya David tak ingin salah paham
"Emhh,,, maksudnya kalian kembali bersama, eh,,, balikan ?" ucap Mita memperjelas pertanyaannya.
"Tidak, aku peduli padanya hanya sebatas sahabat, kami sama sama sudah tidak saling mencintai semenjak aku bersama kamu dan dia bersama Andra, hanya saja ikatan dua keluarga sudah terlanjur dekat dan berharap banyak, jadi kami tidak berani berkata jujur pada mereka," urai David.
"Kak, tadi....kakak nyembuhin Lia dengan cara apa ?" pertanyaan konyol itu tiba tiba keluar begitu saja dari mulut Mita tanpa permisi.
"Maksudnya ? ngilangin efek obat itu ? yang jelas tidak memakai cara seperti yang ada di pikiran nakal mu !" David menoyor pelan kening Mita, dia baru menyadari kalau kecanggungan Mita ternyata di picu dari pikiran kotor yang ada di kepala Mita.
__ADS_1
"Ishh,,, aku kan cuma nanya dan memastikan, kak !" ucap Mita merasa sedikit lega, bagaimana pun meski mereka sudah tak bersama lagi, dia mengharapkan David menjadi pria yang baik, menghargai perempuan, kejadian lampau yang sudah terjadi ya, sudah lah, dia hanya berharap David menjadi lebih baik lagi, masa depannya masih sangat panjang, dan tak harus di rusak oleh nafsu sesaat.