
Seminggu berlalu sejak perginya Lia dari apartemen milik David, Lia seakan hilang di telan bumi, tak ada yang tau kemana dia pergi, tak ada yang bisa menghubunginya juga, ada kemungkinan wanita itu mengganti nomor ponselnya agar tak di hubungi orang orang terdekatnya karena di antara David, Andra atau pun Mita tak pernah ada yang berhasil menghubunginya.
David juga sudah mendatangi kediaman orang tuanya, namun hasilnya tetap nihil, Lia tak pernah pulang ke sana semenjak kejadian pengusiran itu.
Rasa bersalah menghantui David, sungguh dirinya tak tau kalau Lia menyimpan perasaan yang dulu telah lama mati dan tumbuh kembali,
Apa dirinya se tak peka itu sampai rak menyadari perasaan Lia padanya ? runtuk David dalam batinnya, menghakimi dirinya sendiri.
Ah, andai saja dirinya tak memperkenalkan Siska pada hari itu,,,, pikirnya, namun semua sudah menjadi jalan Tuhan, kalau pun hari itu dia benar benar tak memperkenalkan kekasih barunya, Lia tentunya akan bertambah kecewa karena merasa di beri harapan oleh David yang ternyata diam diam sudah mempunyai tambatan hati yang baru.
Terkadang memang takdir atau jalan hidup yang Tuhan rencanakan untuk umatnya seakan sebuah candaan di balut misteri, kadang membuat kita bingung, kecewa, marah, namun sesaat setelahnya kita di buat tertawa karena tak jarang hidup terasa se bercanda itu.
Andra dan Mita juga masih belum mendapat info apapun tentang keberadaan Lia, bahkan sudah seminggu ini Lia tak pernah masuk kuliah.
"Bagaimana, sudah ada perkembangan ?" tanya David yang wajahnya masih di liputi rasa cemas.
__ADS_1
Andra, Mita David dan Siska kini sedang duduk bersama di kafe dekat kampus, mereka sengaja janjian bertemu hanya untuk membicarakan masalah Lia, saat ini masalah hilangnya Lia sudah menjadi masalah mereka bersama.
Selama satu minggu ini mereka seolah di tuntut berperan sebagai detektif dadakan yang harus mengungkap dimana keberadaan Lia kini, namun memang dasar mereka masih amatiran, tak pernah ada hasil sampai sekarang.
"Aku belum dapat pencerahan apapun, rasanya sudah buntu, tak tau lagi harus mencari kemana !" seloroh Andra putus asa.
"Aku juga sudah mendatangi rumah orangtua nya dan juga saudara saudaranya, namun zonk !" timpal David yang juga sepertinya mulai merasa frustasi dalam pencarian ini.
"Atau kita laporan orang hilang saja pada pihak kepolisian ?!" Mita ber ide.
"Yang berhak melaporkan itu orang tuanya atau saudara dekatnya, kita siapa ? orang tua nya saja tidak peduli, kok !" tepis David.
Sebagai seorang kekasih dari David, wajar bila Siska sedikit merasa cemburu jika David sangat perhatian dengan Lia yang dia tau adalah mantan kekasihnya, namun kalau di lihat dari sisi kemanusiaannya, Siska juga merasa prihatin dan mau tidak mau ikut merasa cemas karena secara tidak langsung dia juga jadi sering ikut terlibat dalam perundingan semacam ini, belum lagi tak jarang jika dirinya sedang berdua bersama David, ada saja moment dimana David membahas tentang hilangnya Lia dengan dirinya.
Saat ini yang bisa Siska lakukan hanya berdamai dengan kenyataan, bukankah hanya dengan begitu hatinya tak akan terlalu terbebani dan akan lebih ikhlas.
__ADS_1
Tiba tiba saja seorang wanita yang sepertinya satu jurusan dengan Andra mendekat ke arah mereka yang sedang mengobrol serius itu.
"Andra, gue cariin dari kemaren susah amat ketemu lo, nih ada titipan !" perempuan itu menyodorkan dua lembar undangan berwarna merah jambu ke tangan Andra, lalu pergi begitu saja.
"Eh, undangan apaan ini, woy ! Dari siapa ?" teriak Andra.
"Lo gak buta huruf, kan ? Baca lah !" ujar perempuan itu sambil terus berlalu meninggalkan kafe dan meninggalkan Andra yang sedikit gondok mendengar jawaban teman kampusnya itu.
Sementara tiga orang lainnya yang duduk bersama Andra tak dapat menyembunyikan tawanya, mereka kompak menetertawakan Andra dengan wajah kesalnya.
"Eh, ada buat mu sama Siska juga !" Andra menyodorkan satu undangan pada David yang tertulis di peruntukan buat David dan Siska.
Sementara satu undangan yang di tangan Andra tertulis untuk Andra dan Mita.
"APA !?!" teriak mereka berempat serempak sesaat setelah membaca isi undangan itu, sehingga sebagian besar pengunjung kafe menoleh ke arah meja yang sedang mereka tempati sekarang ini.
__ADS_1
Untuk beberapa saat mereka berempat hanya saling berpandangan dan terdiam, sesekali mata mereka membaca ulang tulisan di dalam undangan itu, David bahkan sampai mengucek matanya berulang kali dan memakai kaca mata bacanya untuk memastikan kalau yang dia baca saat ini benar adanya.
"Aku gak lagi mimpi atau lagi halusinasi kan, yang ?" cicit David bertanya pada Siska sang kekasih, yang hanya di jawab dengan gelengan kepala Siska.