
Seharian Mita dan Andra hanya menghabiskan waktunya di dalam apartemen, Mita males keluar karena beberapa kali dia keluar pintu, pasti David langsung nyamperin, sehingga Mita selalu mengurungkan niatnya keluar, untunglah ini weekend jadi dia hanya bermalas malasan di kamar, kadang pindah ruang tv, kadang pindah kamar Andra, gitu aja terus.
" Mitong keluar yuk, bosen tau dari kemaren ngandang mulu, malem minggu nih." rengek Andra saat liat Mita tiduran di sofa depan tv.
"Males gue, tiap kali keluar rumah ketemu si David. Pasti, kayanya dia lagi nungguin gue di luar, soalnya tiap gue keluar dia pasti langsung nyamperin" Mita memegang remot tv mencari acara yang bagus.
" Trus mau sampe kapan ga keluar keluar? gue juga pengen ngelayap kali." protes Andra
" Heh.. Mandra.. lagian siapa suruh lu di rumah terus, lu pergi tinggal pergi, gue lagi males males sendiri, ko lu yang repot sih!"
" Ya, gue kan juga ga bisa pergi kalo lo ga pergi, gue takut lu bunuh diri kalo di tinggal sendirian"
"Mana ada gue bunuh diri gara gara cowok breng*ek, rugi ! nyawa gue terlalu berharga di bandingkan seonggok David" Mita melemparkan bantal sofa ke arah Andra.
"Eh buset,, seonggok dia kata. Cepetan ganti baju kita keluar malem mingguan lah, sumpek banget liat lu rebahan terus kaya cucian kotor"
Andra menarik paksa tangan Mita agar berdiri dari sofa rempatnya rebahan.
Dengan terpaksa dan malas malasan Mita mengikuti keinginan Andra.
Mereka pergi nongkrong di sebuah kafe yang lumayan rame dipenuhi oleh anak muda berpasang pasangan malam itu.
Mita menikmati alunan musik yang bergema disana, Andra sibuk memilih makanan dan minuman yang terdapat di buku menu.
" Mandra, gue perhatiin kok kayanya lu ga ada patah hati patah hatinya di selingkuhin sama si Lia?" Tanya Mita heran karena setaunya dia, Andra selalu terlihat baik baik saja, padahal dia baru saja mengetahui kalau pacarnya di hamili cowok lain, cowoknya dia kenal, lagi.
"Terus gue mesti ngapain? nangis di pojokan? dia ga pantes buat gue tangisin, murah banget." Andra mengambil minuman pesanannya yang baru saja datang, lalu menggeserkan satu gelas lagi ke hadapan Mita.
"Ya kali aja, lu pura pura kuat depan gue, padahal kalo di kamar lu nangis nyungseb nyungseb di bawah bantal," Ledek Mita tertawa puas.
"Si_alan lo..! Mana ada, ga ada di kamus gue nangisin cewek." Andra melemparkan tisu yang di remasnya ke arah Mita.
__ADS_1
"Isshh,, gayanya.. waktu berantem sama gue dulu, pas sekolah lu nangis, cuma gara gara gue ga mau balik sekolah bareng lu,"
"kalo lu pengecualian, lu kan cewek jadi jadian." Tawa Andra dan Mita pecah seketika.
Mereka menikmati malam minggu dengan gaya mereka seperti biasanya. Bercanda, gila gilaan, ngobrol ngalor ngidul sampe puas.
"Ndra,, kalo suatu saat nanti lu punya pasangan terus pasangan lu keberatan kita temenan gimana?" Mita tiba tiba terbersit pikiran aneh itu.
"Tinggalin lah, repot amat !" Andra menyesap minumannya.
"Ada gila gilanya lu ya, maen tinggal tinggal aja. Emang yakin bisa? kalo lu nya cinta sama dia mau pilih mana, dia apa gue?" tanya Mita iseng.
"Mitong,,, pendamping gue itu harus cewek yang bisa nerima gue sama lu, karena kita itu sepaket, ibarat rambut sama ketombe , di pakein sampo paling ilang sehari besoknya neplok lagi tuh ketombe di kepala." Andra berceramah.
"Harus ketombe sama rambut banget ya perumpamaannya, " Mita geleng geleng.
"Dari pada gue bikin perumpamaan kulit dan panu, lu mau di ibaratin jadi panunya?" Andra terbahak.
"Jahat juga lu nempok terus sama gue." Andra mengacak rambut Mita yang duduk di sebelah kirinya.
Sungguh mereka sahabat yang absurd banget, tapi setidaknya mereka bisa menjadi diri sendiri saat bersama, mungkin itu juga salah satunya yang membuat persahabatan mereka terjalin dari bocah sampai sekarang.
"Mandra, serius nih gue, kalau ternyata ga ada cewek yang mau nerima lu sahabatan sama gue gimana?" Mita menatap Andra dalam masih penasaran jawaban Andra.
"Lu lagi kenapa sih, mabok ya ? padahal tadi gue cuma pesenin lu jus jeruk, masa iya jus jeruk bikin mabok? gimana kalo tadi gue pesenin cocktail, lu?" Andra mengangkat gelas berisi jus jeruk di hadapan Mita, lalu mencicipinya sedikit, tapi ga ada yang aneh sama rasanya, biasa aja. (Pake acara di cicipin pula, hadeeuuh,)
Kalau boleh jujur, sebenarnya Andra juga serba salah di tanyain hal hal seperti itu oleh Mita, Karena dia sebenarnya sedang tak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun saat ini dan kedepannya, karena saat ini Andra sedang mengumpulkan keberanian dengan segala resikonya untuk berusaha merubah status sahabat dirinya dengan Mita menjadi sepasang kekasih.
Tapi ya memang masih maju mundur, karena menurut Andra, semua ini hanya masalah waktu.
"Mandra, ko malah ngelamun sih lu, gimana kalo ga ada cewek yang mau terima kalo lu sahabatan sama gue? " Rengek Mita mengulang pertanyaannya yang belum Andra jawab.
__ADS_1
"Gampang,, gue bakal pacaran sama sahabat gue, beres kan?" Seloroh Andra.
"Ma-maksudnya?" Tatap Mita sambil menajamkan pendengarannya.
"Ya ! Gue bakal pacaran sama sahabat gue aja, malah ga perlu ribet nyari pasangan yang bisa nerima lu" Andra gantian menatap Mita dalam.
"Eh,,, gimana gimana? Sahabat lu kan gue ya?" Mita menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, lu... Mita, pacaran yuk..! Gak bosen apa 8 taun sahabatan terus ? " ada sorot mata serius dari tatapan Andra, dan kata katanya yang barusan terucap, Mita yakin kalau itu bukan sebuah candaan.
Mita tiba tiba gugup, mengalihkan pandangannya ke tempat lain, pipinya merona.
Dia berpikir keras, bertanya tanya pada hatinya sendiri, ini serius atau sekedar candaan Andra, batinnya bergejolak.
"Mit, gue suka sama lu, udah lama tapi ga tau kapan itu awalnya, yang jelas itu pasti udah lama banget, tapi gue ga menyadarinya, atau bahkan menyangkalnya karena takut merusak persahabatan kita, takut lu marah dan ga mau sahabatan sama gue lagi. Tapi makin kesini gue makin yakin sama perasaan gue, gue sayang sama lu lebih dari sekedar seorang sahabat. Gue siap di benci lu, kalo seandainya lu marah atas pengakuan gue ini, yang penting gue udah ngungkapin semuanya sama lu." Andra menggenggam erat tangan Mita.
Akhirnya Andra memutuskan untuk mengungkapkan semua rasa yang di pendamnya, dan siap dengan segala resikonya tentu saja.
Mita mematung, dia seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Andra barusan.
Sahabat yang selalu menemaninya saat suka dan duka, sahabat yang tau semua cerita hidupnya, sahabat yang selalu menjadi tempat ternyamannya dalam suasana apapun, sahabat yang diam diam dia suka.
Ternyata mereka merasakan dan memendam hal sama selama ini, hanya saja sama sama tak punya nyali untuk mengungkapkan, karena ketakutan kehilangan satu sama lainnya.
Mita semakin mendekat ke arah Andra, tiba tiba tanpa Andra duga, Mita mencium pipinya. Andra tersenyum nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan Mita padanya, sampai tiba tiba Andra di kejutkan lagi oleh bisikan Mita di dekat telinganya.
"Sahabat, I love you ! " Bisik Mita sesaat setelah mencium pipi Andra.
"I Love you too, Mita.." Andra mencium bibir Mita lembut.
Setelahnya, mereka hanya berpandangan lama tak saling berbicara, mereka bingung mengawalinya dari mana.
__ADS_1
Kini mereka sepasang kekasih bukan hanya sebatas sahabat saja.