
Dengan wajah yang panik Andra membawa Mita turun dari mobilnya, kali ini Mita benar benar menolak tegas di gendong Andra, dia lebih memilih jalan walaupun tertatih tatih dengan menjadikan andra sebagai pegangannya untuk bertumpu.
Andra melingkarkan tangan kanannya di pinggang Mita, menahan tubuh kekasihnya itu agar tidak limbung karena Mita sepertinya sangat kesakitan dan kesusahan berjalan.
"Mita, apa yang terjadi ?" David yang kebetulan sedang berjaga malam hari itu terkejut mendapati mantan kekasihnya berada di ruang IGD meringis kesakitan.
Andra sedikit melengos, membuang muka dari penampakan David di sana. Andai saja tak ingat dirinya kini membutuhkan bantuan David untuk mengobati luka Mita, rasanya dia ingin segera membawa Mita pergi dari ruangan itu saat itu juga.
"Ayo bawa ke sini !" David meraih lengan Mita hendak membantunya agar duduk di ranjang pasien.
"Biar aku saja !" cegah Andra, yang tak rela David memegang tubuh Mita.
"Ish, Mandra,,, apaan sih,!" desis Mita yang merasa kalau Andra sedang cemburu di tempat dan waktu yang salah.
"Sebaiknya kamu urus pendaftaran dan administrasi di loket sana !" tunjuk David ke arah loket yang letaknya tak jauh dari ruangan itu.
Namun ucapan David terdengar seperti sebuah kata usiran secara tidak langsung bagi Andra.
"Apa maksud mu ? Apa kau sengaja mengusirku keluar dari sini agar kau bisa berduaan dengan Mita ?" kesal Andra tak terima.
"Andra ! Jangan keterlaluan, di sini juga ada perawat, cepat urus administrasinya !" hardik Mita sambil menunjuk seorang perawat perempuan yang berdiri di sebelah David.
Meski dengan berat hati Andra akhirnya meninggalkan Mita di ruangan itu bersama David dan seorang perawat wanita yang mendampingi David saat itu.
"Kenapa bisa jadi seperti ini ?" tanya David membersihkan luka di lutut Mita, matanya terfokus pada luka Mita yang sekarang ini menjadi pasiennya.
"Aku tersandung, lalu jatuh kepentok meja sama pecahan gelas," terang Mita menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dengan jujur.
"Andra gak nyakitin kamu, kan ?" David mengangkat wajahnya, lalu menatap mata Mita mencari kejujuran di sana.
"Gak lah, dia mah baik banget, lagian mana berani dia nyakitin aku !" bela Mita, meski hatinya sedikit perih saat mengatakan semua itu, dirinya teringat Andra yang akhir akhir ini kembali dekat dengan Lia, dan itu membuat matanya berkaca kaca.
"Kok kaya mau nangis, gitu ? sakit banget ya ? udah di bius, kok. Masa calon dokter cengeng gitu ?!" ledek David yang baru saja selesai menjahit luka di kaki Mita.
"Ish, dokter juga manusia, punya rasa punya hati,, " jawab Mita seraya mengusap sudut matanya sebelum menetes dan mengalir deras.
"Itu kan, lirik lagu !" seloroh David, sambil tertawa dan memapah Mita turun dari ranjang.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Andra muncul dari balik pintu, dia segera mengambil alih Mita dari David dan langsung membawa kekasihnya itu keluar ruangan tanpa basa basi.
"Tadi meringis ringis kesakitan, sekarang ketawa ketiwi, girang amat ketemu mantan !" sindir Andra dengan nada kesal.
"Mita, tunggu !" teriak David yang ternyata mengejarnya.
"Apa lagi ? Udah selese, kan ?" bentak Andra pada David.
"Cuma mau ngasih ini, obatnya ketinggalan, ini di minum---" David menyodorkan satu bungkus plastik berisi obat anti nyeri dan antibiotik.
"Gak usah di jelasin, dia juga calon dokter, dia pasti tau !" ketus Andra merampas kasar bungkusan plastik berisi obat itu dari tangan David.
David menghela nafas besar, dengan sabar dia melanjutkan kata katanya, saat ini dirinya berperan sebagai dokter, walau masih koas dia tetap harus profesional.
"Di minum masing masing tiga kali sehari, lukanya jangan kena air dulu, dan dalam dua atau tiga hari lagi kembali ke sini untuk ganti perban," kata David.
"Tenang aja, gak usah repot repot, banyak rumah sakit dan klinik lain untuk sekedar mengganti perban," kesal Andra menarik paksa Mita agar segera pergi dari sana.
"Ish, pelan pelan Ndra, sakit ini," protes Mita.
"Gak ! Aku jalan aja !" tolak Mita.
sepanjang perjalanan pulang Andra menutup mulutnya rapat, raut wajahnya menampakan wajah tak bersahabatnya.
"Kamu kenapa sih, gak ngenakin banget wajahnya !" protes Mita yang mulai risih dengan ekspresi wajah Andra yang sangat menjengkelkan baginya.
"Seneng kan, udah ketemu mantan terindah ?" ketus Andra dengan nada mengejek.
"Apa sih, Ndra, gak jelas banget, lo ! Dia itu dokter, ya wajar aja lah ngobatin, lagian gue gak minta di bawa ke sana !" Mita akhirnya ikut terpancing emosinya.
"Iya, dokter cinta, yang bisa bikin tersenyum dan hati berbunga bunga !" Andra masih terus mengungkapkan kekesalannya.
"Gue turun di sini aja, kalo lo terus terusan marah gak jelas !" ancam Mita.
Nyali Andra pun ciut juga, dia akhirnya terdiam tak lagi mengomel gak jelas.
Sebelum pulang,, Andra menyempatkan membeli makanan untuk mereka makan di apartemen, lagi pula Mita harus minum obat, dan perutnya pasti belum di isi sedari tadi, karena seharian gadis itu mengurung diri di kamarnya.
__ADS_1
Sampai di apartemen Andra mulai menyiapkan makanan di atas piring, namun saat dia menyodorkan makanan itu ke hadapan Mita, kekasihnya itu justru malah menolaknya.
"Aku gak laper !" tolak Mita, kata katanya sudah tak se keras tadi.
"Ayolah, bukankah kamu harus minum obat, jangan bikin aku hawatir terus menerus," lirih Andra memelas.
"Kamu hawatir sama aku ?" tanya Mita.
"Tentu saja, nyawa ku rasanya hampir lepas saat tadi melihat kamu berdarah dan kesakitan," Andra membelai rambut Mita dan menyampirkan anak rambut Mita yang menjuntai ke sela telinganya.
"Aku pikir kamu udah gak peduli lagi sama aku,,kamu kan sekarang udah deket lagi sama Lia," cicit Mita.
"Maksudnya ?" heran Andra sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulut Mita.
"Kamu kalau memang masih cinta sama Lia, dan pengen balikan sama dia, bilang aja, tapi jangan di belakang ku, dan tolong selesaikan dulu urusan kita," ucap Mita.
"Aku gak ada niatan arau keinginan untuk kembali ke Lia, kenapa kamunpunya pikiran seperti itu ?" Andra tak habis pikir.
"Kalian semakin akrab sekarang, bahkan kamu sudah berani berbohong saat menemui Lia di apartemennya," sewot Mita.
"Iya aku akui, aku salah udah bohong sama kamu, tapi itu karena aku takut kamu tak suka, bukannkarena aku menyembunyikan apa apa, demi Tuhan aku tak ada hubungan apa apa dengan Lia," urai Andra.
"Lalu tadi siang, ngapain kalian berduaan di sini ?"
"Lia ingin menjelaskan sama kamu tentang kejadian kemarin, bahwa aku benar benar hanya membantunya membetulkan kran air, tapi kamu malah mengurung diri di kamar, aku juga sudah menceritakan pada Lia kalau kita sekarang berpacaran, dan dia mendukung kita," jelas Andra panjang lebar.
"Lia sudah tau ?" kaget Mita.
"Iya lah, aku gak mau terjadi banyak kesalah pahaman kedepannya, lebih baik Lia tau tentang hubungan kita, jadi dia bisa menjaga jarak dengan ku, dan menghormati mu sebagai kekasih ku."beber Andra.
Cup,
Mita mengecup pipi Andra,
"Makasih, dan maaf aku sudah salah paham." ucap Mita tersipu malu.
"Maafin aku juga udah bohong sama kamu, aku gak bakal ngulangi lagi !" janji Andra.
__ADS_1