Sahabat,I Love You !

Sahabat,I Love You !
Hai Pacar,,,


__ADS_3

Status baru yang baru saja tersemat tadi malam di antara Andra dan Mita cukup membuat membuat mereka menjadi canggung, seperti pagi ini, kaki Mita tiba tiba terasa berat untuk melangkah ke luar kamar, tak biasanya dia merasa takut dan malu bertemu Andra.


"Pagi, pacar !" sapa Andra yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar Mita.


"Ah, kok lu di sini, sih ?" gugup Mita seraya memegangi gagang pintunya erat erat, lututnya tetiba terasa lemas melihat ketampanan Andra yang kali ini terlihat seribu kali lebih tampan dari biasanya.


"Kamu lama banget gak keluar keluar dari kamar, ini sudah hampir siang, aku udah bikinin sarapan dari tadi !" kata Andra.


"Hah ? tunggu tunggu,,, Aku ? Kamu ? lu apa apaan, sih ? Geli banget gue dengernya !" ujar Mita yang tak terbiasa berkomunikasi dengan gaya seperti itu dengan sahabat yang kini menjadi pacarnya itu.


"Hey,,, kita udah pacaran sekarang, gak pantes manggil lu gue lagi, sukur sukur mau panggil aku sayang !" seloroh Andra sambil berjalan ke meja makan mengikuti Mita yang sudah berjalan terlebih dahulu ke sana.


"Sayang ? Lu gila ya Mandra, ogah banget gue manggil lu sayang, apa kata dunia, kita kaya biasanya aja lah,,, gak usah aneh aneh !" tolak Mita.


Namun sejurus kemudian Mita semakin merinding saat dia mendekati meja makan dan melihat sebuah piring berisi omlet,


"Mandra,,, ini buat gue ?" tanya Mita ragu ragu, yang lalu di jawab dengan anggukan oleh Andra.


"Lu yang bikin ?" tanya Mita lagi, dan lagi lagi Andra mengangguk.


"Fix,,,, lu sakit jiwa !" ucap Mita melotot ke arah Andra.


Bagaimana Mita tidak protes, Andra membuatkannya omlet dengan saus berbentuk tanda hati di atasnya, dan itu membuat Mita geli, baginya Andra terlalu lebay.


"Kok sakit jiwa, sih ? biasanya cewek cewek kan, akan suka kalo di bikinin kaya gitu, itu bentuk perhatian aku buat kamu, Mitong !" ucap Andra sedikit merengut karena usahanya membuatkan sarapan spesial untuk kekasih nya di hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih itu bukannya mendapat pujian atau ciuman seperti di film film romantis yang dia tonton, justru Mita malah protes dan tak suka.


"Dih, lu makan aja sendiri, geli gue makannya, mending gue masak mie instan aja !" Mita berdiri dari kursinya, lalu ngeloyor pergi ke dekat kompor dan menaruh panci berisi air di atasnya.


Jujur saja, sebenarnya hatinya sangat suka dan berbunga bunga saat melihat sarapan yang di buatkan Andra untuknya, entahlah, meski mungkin sudah ratusan kali dan sangat sering Andra membuatkan sarapan untuknya selama ini, tapi untuk kali ini rasanya sangat beda, hanya sayangnya dia begitu gengsi untuk mengakuinya.


Andra menghela nafas sangat dalam, padahal dia membuat sarapan itu dengan tulus sepenuh hatinya, tapi kalau Mita tidak mau menerima kebaikannya, dia bisa apa ?


"Tong, mau ikut ke rumah mamih gak ? mumpung libur, ada bang Roni sama papi juga, lagi pada kumpul !" ajak Andra.


"Emhh,,,, ke rumah mami ?" tak seperti biasanya yang selalu antusias bila di ajak bertemu maminya Andra, kali ini Mita terlihat agak sedikit berpikir.

__ADS_1


"Kenapa ? Kamu ada acara ?" selidik Andra yang agak aneh dengan sikap Mita.


"Ah, iya, gue ada acara, gue mau cari buku buat besok ada tugas, sampein aja salam gue buat mami dan semuanya, maaf gak bisa ikut," gugup Mita.


"Aku bisa anter kamu beli buku, terus kita ke rumah mami bentar, kan ?" Andra mengajaknya sekali lagi.


"Sebaiknya lu ke sana sendiri aja, lagian jarang jarang, kan lu bisa kumpul sama semuanya, biar kalian menikmati acara family time kalian !" kelit Mita.


"Kamu ngomong apaan sih Mit, kamu aneh tau gak ? sejak kapan kamu bukan bagian keluarga ku ?" wajah Andra sekejap saja sudah mulai berubah, menampakan ketidak sukaannya dengan ucapan Mita.


"Bukan seperti itu, hanya saja gue bener bener gak bisa ikut kali ini, besok besok gue pasti ikut !"ucap Mita tak enak hati.


"Terserah kamu, deh !" ujar Andra, setengah kesal dia berdiri dari kursi makan dan menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di meja ruang tengah.


"Aku pergi !" pamit Andra agak ketus, dia merasa kecewa karena Mita memilih pergi sendiri mencari buku daripada pergi dengannya.


Deg,,,


Bukannya tak menyadari, Mita sangat tau kalau Andra sepertinya kesal padanya, namun Mita juga tak tau apa yang terjadi terjafi pada dirinya yang membuat sikapnya menjadi begitu menyebalkan dan menjadi begitu kaku saat bersama Andra.


***


Mita berjalan tak tentu arah di mall sendirian, lalu masuk ke sebuah gerai toko buku terkenal dan mencari cari buku yang sebetulnya tidak dia butuhkan, hanya saja untuk jaga jaga Andra bertanya soal dirinya yang beralasan mencari buku untuk tugas, jadilah dia memilih milih buku di sana.


"Mita," panggil seseorang yang sepertinya suaranya terasa begitu dekat dan sangat di kenalnya.


"Kakak,,,,!" cicit Mita saat dirinya menoleh ke sumber suara yang ternyata David yang kini berada tepat di belakangnya itu.


"Lagi nyari buku apa ?" tatapan mata David sendu, menyimpan rasa rindu yangvteramat dalam pada sosok gadis yang berdiri di hadapannya, yang memutuskan untuk berpisah darinya karena kesalahan besar yang sudah dia lakukan.


Sejenak Mita terpana, terbawa perasaan, namun beberapa detik kemudian dia tersadar, kalau pria di hadapannya itu kini akan menjafi ayah dari seorang anak tak berdosa.


"Ah, cuma iseng, gak tau mau cari buku apa !" jawab Mita jujur.


"Apa boleh kita bicara ? Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan," tatapan David penuh harap Mita akan menyetujui permintaannya.

__ADS_1


"Maaf kak, tapi tak ada lagi yang perlu kita bicarakan, kita udah selesai, dan aku harap kakak juga sebaiknya menjaga perasaan Lia, orang hamil biasanya lebih sensitif," urai Mita.


"Iya, aku tau calon bu dokter, tapi ini benar benar ada hal yang harus aku sampaikan, gimana, bisa, kan ?" bujuk David.


Sayangnya Mita hanya terdiam, dia begitu sulit menentukan sikap, di satu sisi dia ingin bersikap biasa saja dan melupakan apa yang terjadi sebelumnya di antara mereka, namun di sisi lain hatinya masih sering terasa kesal bila teringat penghianatan David.


"Setidaknya kita masih bisa bisa berteman, kan ?" sambung David, membuyarkan lamunan Mita.


"Hmm,,, baik, aku bayar buku ini dulu," jawab Mita mengacungkan buku yang telah di pilihnya.


"Biar aku saja yang---" David mengeluarkan dompetnya hendak membayar buku yang Mita sodorkan pada petugas kasir.


"Tidak,,, tidak,,, biar aku bayar sendiri saja !" tolak Mita mengeluarkan dua lembar uangboecahan seratus ribuan.


Setelah mendapatkan barang dan kembalian dari petugas kasir, mereka berdua berjalan beriringan, tak banyak yang mereka bicarakan sepanjang jalan menuju salah satu tempat makan ayam siap saji di mall itu.


"Aku berasa dejavu," seloroh David sambil terkekeh.


"Dejavu ? Maksudnya ?" Mita mengerutkan keningnya.


"Masih ingat awal perkenalan kita di Bandung ? Di tempat ayam goreng ini, kan ?" cicit David lamunannya melayang ke saat mereka awal berkenalan, saat Mita bolos bimbel dan David salah jadwal menjemput Andien adik perempuannya.


"Iya, awal perkenalan sama pacar orang !" sinis Mita.


"Mita,,," lirih David.


"Iya kan, saat itu kakak memang pacar orang, pacarnya Lia !" ucap Mita sedikit kesal, andai saja waktu itu dia tau kalau David sudah punya ikatan dengan wanita lain, dirinya tak mungkin mau berkomitmen dengannya.


"Maaf,,, aku minta maaf atas semua yang terjadi, semua salah ku, karena aku tak berani jujur pada mu sedari awal," sesal David.


"Sukurlah kalau kau menyadarinya, dan memang harus kau akui kalau kau memang pengecut,!" tiba tiba Andra menyela pembicaraan mereka, entah kapan datangnya, karena kini Andra sudah berada di antara mereka.


"A- Andra,,, ?!" kaget Mita.


"Ya, kenapa ? Kaget ? Atau gak suka aku di sini ?" ketus Andra.

__ADS_1


__ADS_2