
Lama rasanya Mita menunggu Andra dengan gelisah di apartemen, sejak kejadian di Mall itu, Mita langsung memutuskan untuk pulang, berharap bisa menemui Andra di sana, namun ternyata, Andra tak ada, dia tak pulang.
'Ah, mungkin dia ke rumah mami !' pikirnya, menepis pikiran pikiran buruk yang mampir ke kepalanya.
Sampai tengah malam di tunggu, ternyata Andra tak pulang juga.
Tak biasanya dia membiarkan Mita sendirian begitu lama, dulu saat mereka masih bersahabat, seberapa parahnya mereka bertengkar, Andra pasti menemuinya paling lama tiga jam kemudian.
Hati Mita sudah mulai gelisah tak karuan, tapi untuk menghubunginya terlebih dahulu juga dia merasa gengsi dan rasanya itu hanya akan membuat Andra besar kepala karena merasa di butuhkan, pikirnya.
Namun tanpa terasa waktu sudah jam tujuh pagi, dan Andra masih belum juga menampakan batang hidungnya, sementara Mita tanpa terasa masih tiduran di sofa ruang tengah, dia masih sangat ingat kalau dirinya belum memejamkan mata semmenit pun, otak dan pikirannya terus melanglang buana menerka nerka dimana keberadaan Andra, sang kekasih.
Untuk pertama kalinya Andra meninggalkannya semalaman, dan tidak menghubunginya sama sekali.
Apa Andra se marah itu, sampai dia enggan bertemu dengannya ?
Akhirnya Mita mengalah, dia meraih ponselnya yang tergeletak di sofa sebelah tubuhnya yang berbaring disana, mencoba menghubungi Andra.
__ADS_1
Sialnya ternyata ponsel Andra tidak bisa di hubungi.
Dengan berat hati Mita memutuskan untuk menelpon bang Roni, menanyakan apa Andra masih bersama nya di rumah mami.
"Andra kan gak jadi ke sini kemaren, katanya ada tugas kuliah yang harus di tumpuk hari ini, jadi kemaren dia lembur bikin tugas di rumah, kenapa, dia gak di rumah ? Apa jangan jangan dia pergi sama cewek lagi, alesan gak bisa dateng ke sini ?" Roni malah balik bertanya, karena kalau alasan Andra mengerjakan tugas di rumah, seharusnya Mita tau karena berarti Andra bersamanya.
"Ah, tidak tidak ! Aku tidur di tempat temen dari kemaren, ponsel si Mandra gak bisa di hubungi bang, tadinya mau ngabari kalo belum bisa pulang, mungkin masih molor tuh anak, ya udah ntar aku hubungi dia lagi aja," kelit Mita ngeles.
Mita mengakhiri obrolannya di telepon dengan terburu buru, dia tak mau bang Roni menanyai hal lainnya dan membuat mereka curiga kalau Andra tidak berada di apartemen dari kemarin.
Mita beranjak dari sofa, dan menuju kamar Andra yang pintunya masih di biarkan terbuka, rasanya dada Mita semakin terasa sesak menatap kamar yang kosong tanpa pemiliknya di sana, sungguh terasa hampa dan kosong seperti suasana hatinya saat ini.
"Ndra,,, lu dimana,,,?" gumam Mita dengan suara lirih dan pilu sambil matanya terus memandangi seisi kamar Andra dari ambang pintu.
"Gue di sini !" suara Andra tiba tiba terdengar begitu dekat dengan dirinya.
Mita berbalik ingin memastikan kalau suara yang di dengarnya benar benar suara kekasihnya, bukan halusinasi dirinya yang terlalu memikirkan pria yang selama ini selalu bersamanya itu.
__ADS_1
"Kenapa ? Kangen ?" seloroh Andra yang ternyata kini benar benar sedang berdiri di hadapannya.
"Mandra,,, kok lu tega ninggalin gue sendirian di sini semaleman, gue takut tau !" suara Mita bergetar, tak lama kemudian terdengar raungan tangis Mita pecah di dada Andra, karena Mita langsung berhambur memeluk Andra begitu tau pria yang di tungguinya semalaman itu berdiri nyata di depannya.
"Hey, kenapa malah mewek, sih ? lagian siapa yang gak pulang semaleman ? Gue pikir malah lu yang gak pulang !" Andra mengelus punggung Mita yang bergerak naik turun karena isak tangisnya yang tak berhenti berhenti.
"Maksudnya ?" Mita menjauhkan diri dari dada Andra, dan meminta penjelasan dari pria itu.
"Dari kemaren gue di sini, gue ketiduran di kamar lu, saking sebel dan gondoknya sama tingkah lu kemaren, gue tidur kaya orang mati !" seloroh Andra.
"Jadi lu molor di kamar gue dari kemaren ?" Mita mengulang ucapan Andra.
Andra pun mengangguk dengan wajah tanpa dosa.
Mita baru sadar, dari kemarin semenjak pertengkaran nya di Mall, dia langsung pulang dan tak masuk ke kamarnya, tapi dia menunggu Andra di sofa ruang tengah sampai pagi dengan cemas dan gelisah, sampai akal sehatnya seakan tak berfungsi karena tak melihat sepatu Andra yang teronggok di rak sepatu di balik pintu utama.
Ah, sepertinya pertengkarannya kemarin berhasil membuat dirinya menjadi manusia bodoh, karena mengutamakan emosi namun mengabaikan akal sehatnya.
__ADS_1