
Brak !
Suara pintu yang di tutup secara kasar setengah di banting mengejutkan Andra yang sedang asik bermain game di ponselnya.
"Kenapa ?" tanya Andra kebingungan melihat Mita yang memasang wajah tak bersahabat ketika baru saja masuk setelah beberapa menit ulyanhnlalu fia berpamitan ke mini market untuk membelikannya obat.
Sayangnya, Mita yang di tanya malah melakukan aksi gerakan tutup mulut, gadis itu hanya melirik sinis ke arah Andra sekilas, lalu segera masuk ke kamarnya, tanpa menghiraukan pertanyaan Andra sang kekasih.
Alih alih menjawab pertanyaan kekasihnya, bonus bantingan pintu kamar yang di tutup secara emosi malah di jadikan jawaban atas pertanyaan Andra tadi.
Andra pun bangkit dari rebahannya dan menghentikan kegiatan bermain game di ponselnya, dia merasa penasaran atas apa yang tengah terjadi pada gadisnya itu.
"Mit, Mitong,,, kamu kenapa ?" Andra mengetuk ngetuk pintu kamar Andra sambil memanggil mangil nama kekasihnya itu berulang kali.
Namun Mita masih bergeming, dia tak berminat sama sekali untuk menjawab panggilan Andra yang terus memanggil namanya dari balik pintu.
Mita menutupi wajah dan kedua telinga nya dengan bantal, saat ini yang dia inginkan hanya menenangkan dirinya sendiri, dan belum mau bertemu dengan kekasihnya itu, dia masih sangat kesal meski hanya untuk melihat wajahnya saja.
__ADS_1
Mita bermain dengan pikirannya sendiri, menebak nebak alasan mengapa Andra sampai tega berbohong padanya, beberpa pikiran buruk pun melintas, sempat terbersit kalau Andra masih menyimpan perasaan pada Lia, atau bahkan lebih buruk lagi ternyata di belakangnya mereka sudah menjalin kembali hubungan yang sempat terputus tanpa sepengetahuannya.
Pikiran Mita semakin kacau seiring pikiran pikiran buruk yang dia simpulkan sendiri di kepalanya.
Sementara Andra yang masih berdiri di depan pintu kamar Mita sepertinya sudah menyerah tak lagi memanggil dan mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam itu, dia tak tau apa yang menyebabkan mood Mita tiba tiba seketika menjadi sangat jelek dan mengakibatkan kemarahan yang meluap luap seperti itu, sedangkan beberapa saat lalu ketika kekasihnya itu keluar dari apartemen, suasana hatinya masih terlihat biasa saja, bahkan cenderung sedang riang.
Andra memilih memberikan waktu untuk Mita mengurung diri sendiri di kamarnya agar dia bisa sedikit tenang, nanti setelah dia keluar dari kamarnya, Andra akan mencoba berbicara dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Lama di tunggu sampai matahari sudah menyembunyikan dirinya dan langit tampak menggelap, Mita tak kunjung keluar dari kamarnya.
Andra menjadi sedikit hawatir, takut kalau terjadi apa apa pada Mita, "Mit,,, Mita, buka pintunya dong, please !" bujuk Andra, meski masih tak terdengar tanda tanda Mita menyahuti panghilannya.
Andra menempelkan telinganya di pintu kayu itu, berharap mendengar suara dari dalam kamar, namun nihil, usahanya sia sia, Mita sepertinya masih tak ingin bertemu atau berbicara padanya.
"Mit, keluar dong, aku sakit nih, aku juga laper, makan yuk !" bujuk Andra sambil terus mengetuk ngetuk pintu itu pelan berharap Mita iba mendengar suaranya di bikin seolah sedang kesakitan.
Ternyata usaha Andra kali ini sepertinya berhasil, suara anak kunci yang di putar dari dalam kamar seolah terasa bagai oase di padang pasir bagi Andra yang sejak tadi berusaha membuat Mita keluar dari kamar.
__ADS_1
"Mit, kamu gak apa apa, kan ? Apa kamu sakit ?" tanya Andra berusaha memegang dahi Mita saat wanita itu baru saja melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Ish, apaan sih, gue baik baik aja !" ketus Mita menepis tangan Andra yang sedang memegangi dahinya dengan cemas.
"Kamu marah sama aku ?" tanya Andra bingung melihat perubahan sikap Mita padanya yang tiba tiba berubah ketus dan dingin.
Mita tak menoleh sedikitpun pada Andra yang sejak siang setia menungguinya, perempuan ituhanya berlalu begitu saja melewati Andra yang berdiri terpaku menatap Mita yang ngeloyor pergi ke dapur.
"Mit, masak apa ? aku juga laper, sekalian bikinin buat ku juga, ya !" kata Andra mengekor Mita yang kini sedang menyalakan kompor, sepertinya hendak memasak sesuatu.
"Kenapa lu gak pergi ke tempat mantan pacar lu aja, ntar kan dia masakin spaghetti kesukaan lu !" sinis Mita dengan mata yang masih fokus pada mie instan yang sedang di masaknya.
Deg,
Tiba tiba wajah Andra memucat, dari mana Mita tau tentang dirinya yang mendatangi tempat Lia dan memakan makanan yang di masakan mantan pacarnya itu untuknya.
"Emh, anu, itu tadi aku cuma membantu Lia membetulkan krannya yang rusak, hanya itu saja tidak lebih !" suara Andra tiba tiba tergagap.
__ADS_1
"lu emang pembohong hebat !" sindir Mita masih dengan wajah yang menyeramkan dan tidak bersahabat dama sekali.