Sahabat,I Love You !

Sahabat,I Love You !
Efek yang mengerikan


__ADS_3

Andra mengambil jarak yang tak terlalu dekat dengan Mita, dia tak ingin efek afrodisiak yang setengah mati dia hilangkan tadi di kamar mandi kembali muncul dan memuncak jika dirinya berdekatan dengan kekasihnya itu.


Andra sungguh tak ingin merusak Mita, merusak kepercayaan orang tuanya dan orang tua Mita pada mereka jika sampai dirinya melakukan hal hal yang di luar batas norma.


"Kamu baik baik aja, kan Ndra ?" tanya Mita mendekat ke arah Andra yang kini sudah berpakaian lengkap.


"Stop ! Jangan maju dan mendekat lagi, please !" tahan Andra merentangkan kedua tangannya ke depan seraya mencegah Mita untuk terus mendekatinya.


Mita mengerutkan keningnya bingung,


"Kenapa ? Kamu marah, dengan kejadian tadi ? Tapi aku bener bener gak sengaja, Ndra. Aku gak ada maksud seperti itu," sesal Mita.


"Bukan begitu, aku bisa saja memakaan mu jika kamu dekat dekat dengan ku," kata Andra.


"Memakan ku ? Kamu kenapa, sih. Aneh banget tau !" kesal Mita yang tak mengerti arah pembicaraan Andra.


"Lia tadi memasukan obat afrodisiak ke minuman ku, aku takut jika dekat dekat dengan mu akan terjadi hal hal yang di inginkan !" seloroh Andra.


"Ish, hal hal yang di inginkan mu ? Apa kamu meminumnya dalam jumlah banyak ?" tanya Mita, bagi mahasiswi kedokteran seperti dirinya tentu saja sangat tau efek seperti apa yang di timbulkan jika sampai terkena obat itu.


"Hanya sedikit, karena aku tukar gelas ku dengan punya Lia, biar dia merasakan sendiri bagaimana tidak enaknya efek obat yang dia beli itu," ujar Andra kesal.


"Kamu menukarnya dengan d gelas milik Lia ? " kaget Mita yang lalu di jawab dengan anggukan antusias Andra.


"Lalu Lia meminumnya ?" tanya Mita lagi sambil menutupi mulutnya yang menganga seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar saat itu.


"Hmm, dia meminum banyak sekali, malahan !" Andra mengangguk lagi saat menjawab pertanyaan Mita.


"Bagaimana nasibnya dia sekarang ya, kasihan,,, dia akan menggila jika tak mendapat pelampiasan," terang Mita seraya meringis miris.

__ADS_1


"Sepertinya tak akan menggila, karena dia sudah mendapatkan lawan pelampiasan yang tepat, seharusnya !" ucap Andra tersenyum miring.


"Kamu dan Lia, sudah ?" Mita membelalakan matanya, rasanya tak siap telinganya untuk mendengar kenyataan kalau kekasihnya sudah melakukan hal menjijikan dengan mantan pacarnya itu, dan sepertinya akan sulit untuk memaafkannya jika itu benar benar terjadi.


"Hush,,, bukan aku, tapi mantan pacar mu !" ujar Andra, seakan bisa menebak apa yang sedang Mita pikirkan saat ini tentang dirinya.


"David ?" kaget Mita terkaget dan seolah tak percaya.


"Hemh,," deham Andra sambil menganggukkan kepalanya puas karena telah mengatakan itu pada Mita, seolah secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa saat ini David tengah menjadi pelampiasan gairah Lia.


Namun reaksi Mita justru di luar dugaan dan jauh dari ekspektasinya.


Mita hanya berseloroh, "Ooh,,, syukurlah !" sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Syukurlah ? Maksudnya ? Kamu mensyukuri apa ?" tanya Andra setengah kebingungan.


"Ya syukur Lia bersama orang yang tepat, jadi keadaaannya sekarang ini tidak di manfaatkan oleh orang jahat," ucap Mita.


"Hemh, apa obat itu membuat mu menjadi sensi juga,? Aku tak pernah berpikir kalau kamu akan memanfaatkan Lia, aku hanya bersyukur yang saat ini bersamanya itu David, dia orang medis, tentu lebih tau bagaimana cara menghadapi dan meredakan efek obat itu." jelas Mita, tak ingin ada kesalah pahaman.


"Yakin, mantan pacar mu itu tahan godaan sepwrti ku ?" cengir Andra sembari membusungkan dadanya seolah menyombongkan dirinya sendiri bahwa dia pria yang kuat menahan dan melawan godaan dari Lia.


***


Di apartemen David,


"Andra, kamu kembali ?" seru Lia, ketika mendapati suara langkah kaki masuk ke dalam ruangan.


Mungkin Lia pikir itu suara derap langkah Andra yang kembali setelah meninggalkannya dalam keadaan tersiksa seperti itu, padahal yang saat itu datang adalah David yang pulang karena harus membawa beberapa buku yang dia perlukan, lagi pula saat ini dia sedang mendapat jatah libur selama satu hari penuh, jadi dia sempatkan untuk pulang.

__ADS_1


Lia memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya yang mulai agak kabur akibat efek obat yang terlalu banyak dia minum dan seharusnya dia berikan pada Andra.


"Apa yang terjadi ?" tanya David mendekat ke arah Lia.


Dari sekilas pandangan nya saja David sudah bisa menebak ada yang tidak beres dengan wanita yang hampir menikah dengannya itu.


"Andra, maafkan aku, aku tak bermaksud menjebak mu, aku hanya tak tau lagi dengan cara apa agar aku bisa merebut mu kembali ke dalam pelukan ku, " racau Lia berhambur memeluk tubuh David yang mematung di hadapannya.


"Lia, sadarlah !" David menggoyang goyangkan bahu Lia yang kini berada tepat di dadanya.


"Andra, tolong, aku tersiksa, bantu aku menuntaskan ini," Lia terus meracau dengan suara yang parau dan tangan yang sibuk menyelinap dan bergerilya di balik baju yang di kenakan David, mulai dari dada, sampai punggungnya.


"Lia, aku bukan Andra, lihat dulu, apa yang terjadi, sebenarnya ?" ucap David mengangkat dagu Lia agar wanita itu dapat melihat wajahnya dengan jelas.


"Ah,,, Andra, kenapa wajah mu tiba tiba berubah jadi mirip David, apa aku mulai berhalusinasi ?" cicitnya.


"Lia, aku memang David, katakan, ada apa ?!" bentak David yang mulai kehilangan kesabarannya.


David juga mulai sibuk menahan tangan Lia yang terus terusan menggerayanginya, juga menjauhkan wajahnya dari Lia yang terus berusaha untuk menciumnya.


"Iya Andra, aku akui, aku memang memasukan obat ke dalam minuman mu, tapi ternyata kamu dapat menyadarinya, dan sekarang malah aku yang merasakan efek dari obat itu, aku mohon tolong aku, aku tak kuat lagi,,," rengek Lia terus memohon agar pria di hadapannya itu sudi menjamahnya.


Sampai di sini David mengerti apa yang terjadi.


David membawa Lia ke dalam kamar, David mengedarkan pandangan matanya di setiap penjuru kamar yang dulu menjadibtempat pribadinya, namun kini menjadi tempat pribadi Lia untuk sementara, atmosfer ruangan itu pun di rasa David sudah berubah tak seperti sebelumnya.


Setelah David mengedarkan pandangan, namun tak menemukan apa yang di carinya, David akhirnya terpaksa membuka ikat pinggangnya.


"Ayolah, cepat,,, bantu aku,,!" Lia menyeringai senang saat samar samar terlihat pria yang berada di hadapannya itu membuka ikat pinggangnya.

__ADS_1


Naamun di luar dugaan Lia, David ternyata menggunakan ikat pinggangnya untuk mengikat tangan Lia yang terus bergerak nakal di tubuh pria oriental itu.


"A- Apa yang kamu lakukan, apa kamu ingin mencoba suatu permainan dengan kekerasan ?" ucap Lia dengan nada suara yang menggoda.


__ADS_2